
Mobil pengantin yang bagian kap depan diberi ikatan bunga, melaju kencang menuju sebuah hotel yang terpisah dengan hotel yang disediakan untuk tamu.
“Jangan ngebut- ngebut, Pak. Kami baru saja menikah!” ucap Kaisar sambil mengayunkan alis.
Lah, apa kaitannya baru menikah dnegan larangan ngebut? Sepertinya isi kepala Kaisar sudah mulai eror.
Supir mengangguk patuh sambil tersenyum simpul.
“Pak, bapak tau apa tidak kenapa kami terlihat seperti pengantin baru? Padahal kami sudah pernah menikah dulu.” Kaisar malah asik mengajak supir mengobrol, mengacuhkan Khanza yang duduk di sisinya.
“Ya memang begitu yang namanya pengantin, Tuan. Rasanya pasti seperti pengantin baru. Meskipun yang menikah adalah janda dan duda yang sudah lama menganggur. Heheee…”
Kaisar mengulum senyum. “Kami menikah dulu hanya sebagai status saja, Pak. Dulu kami masih seperti anak- anak yang tidak bisa menjaga rumah tangga. Kami tidak saling suka. Dan saat berpisah, barulah kami sadar bahwa kami saling membutuhkan.”
“Oooh… baru tahu saya. Pantesan roman- romannya seperti kasmaran. Ini berarti memang pengantin baru ya, tuan?”
“Ya begitulah.”
“Plis deh, berhenti membicarakan kita pada pak supir. Aku dikacangin sejak tadi,” sahut Khanza sambil memalingkan wajah ke arah jendela di sisinya.
Kaisar terkekeh. Meksi ia merasa sudah lebih leluasa saat bersama dengan Khanza, namun tetap saja ada sedikit rasa canggung dalam dirinya.
__ADS_1
“Wah, ngambek nih.” Kaisar menjawil pinggang Khanza dengan telunjuknya. Hanya ditanggapi dengan lirikan mata saja oleh Khanza.
Mobil berhenti di depan sebuah hotel, tak jauh dari hotel yang disewa untuk pernikahan.
Sepasang pengantin itu turun.
“Wah, buka segel ini.”
Bisikan supir hanya ditanggapi dengan putaran mata saja oleh Kaisar. Pria itu melangkah di lorong hotel, dimana kiri dan kanan ditemui pintu- pintu kamar, lampu- lampu plafon memberi kesan menarik bagian koridor itu.
Sepi. Entah kenapa lorong itu hanya diisi oleh Kaisar dan Khanza saja. Yang lain pada kemana? Seakan- akan suasana turut mendukung kehangatan untuk mereka berdua.
"Ini ribet sekali." Khanza sibuk memegangi gaunnya yang panjang sekali. Sejak tadi menjinjingnya sampai menjadi capek dan pegal.
"Kamu yakin bantuin aku begitu?" tanya Khanza.
"Ya. Kamarnya tidak jauh lagi." Kaisar kembali melangkah.
Di lorong depan sana, mereka melihat pemandangan yang menarik perhatian. Tampak seorang wanita berhijab tengah menggendong balita umur satu tahun. Dia adalah Jihan. Mereka berpapasan.
"Selamat!" Jihan mengulas senyum.
__ADS_1
Khanza bukannya membalas senyum, tapi malah terlihat canggung. Tak tahu harus berkata apa. Masa lalu membuatnya menjadi serba salah.
"Ya, thanks," jawab Kaisar. "Kamu di sini?"
"Aku menginap sejak kemarin. Libur kerja, bawa anak jalan- jalan." Jihan menatap bocah gemil di gendongannya. Wajah si bocah sama sekali tidak mirip dengannya.
Tapi kok disebut anak?
"Anak? Itu anakmu?" tanya Khanza membelalak.
"Ya. Putraku. Putra pertama. Oh ya, mau masuk? Aku di kamar ini." Jihan menunjuk pintu kamar tepat di dekatnya. "Suamiku ada di dalam."
Oh... Ternyata Jihan sudah menikah dan memiliki anak. Khanza baru tahu hal ini. Rasa canggung yang sejak tadi menyelimutinya, entah kenapa memudar dan menghilang begitu saja sejak tahu kalau Jihan sudah memiliki keluarga kecil yang bahagia. Terbukti tubuh Jihan juga tampak sedikit lebih berisi, tidak kurus seperti dulu.
"Lain kali saja," jawab Kaisar. "Aku tidak mau mengganggu liburan kalian."
"Eh, kebalik. Mungkin malah aku yang akan mengganggu kebersamaan kalian." Jihan melirik Khanza.
Yang dilirik mengangkat alis dan nyengir lebar. Lalu ia mengelus singkat pipi si kecil untuk mengalihkan perhatian. "Dia lucu sekali."
"Wajah putraku sangat mirip dengan ayahnya." Jihan menatap putranya yang tertidur di pundaknya. "Aku tadi keluar kamar untuk menidurkannya. Jihan terlihat sangat ingin mencurahkan kebahagiaannya. "Khanza, kamu terlihat cantik sekali." Jihan menatap wajah Khanza yang dibalut hijab. Sudah tidak ada lagi cadar di wajahnya. "Ya sudah. Aku masuk. Kalian bisa lanjut."
__ADS_1
"Happy weekend." Kaisar melanjutkan langkahnya sambil menjinjing ujung gaun yang dikenakan Khanza. Mereka melangkah memasuki kamar yang terletak di ujung koridor.
Bersambung