Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Cukup Sudah


__ADS_3

“Khanza!”  Marwah menghambur masuk dengan wajah cemas.  


“Bagaimana kondisimu?  Kamu mengabarkan bahwa kamu tadi diculik!”  Subrata tak kalah khawatir.


Khanza hanya menghela napas.


Marwah memegang- megang badan Khanza, memeriksa apakah ada yang terluka atau tidak.  Ternyata fisik anaknya baik- baik saja, bebas dari luka.


Tatapan Subrata kemudian beralih ke arah Kaisar.  “Kau sungguh keterlaluan!  Kau ajak anakku tinggal bersamamu tapi kau sama sekali tidak bisa melindunginya.  Kalau sampai terjadi hal buruk terhadap anakku, maka kau harus mempertanggung jawabkan semua ini!  Kau pikir hidup anakku ini murah?  Aku membesarkannya dengan biaya mahal, bahkan menguliahkannya pun dengan biaya yang mahal pula.  Kau benar- benar tidak berguna!  Otak udang!


"Cukup? Atau masih ada kata- kata lain yang lebih buruk untuk disampaikan?" Kaisar mendominasi, ekspresinya datar sekali.

__ADS_1


Tatapannya yang tajam ditambah ketegasannya membuat Marwah membatalkan niatnya yang ingin menghujat Kaisar lebih parah, sebab ia tak puas dengan perkataan suaminya. Tapi sekarang ia hanya bisa menatap Kaisar dengan tajam tanpa berani bicara.


"Silakan jika ingin membawa putri Anda pulang ke rumah Anda. Sekarang saya tidak lagi melarang!" Kaisar tidak perlu menjelaskan kejadian yang sebenarnya, bahwa dasarnya Khanza- lah yang berkeliaran malam hingga mengundang kejahatan. Bahkan Kaisar sudah berbuat banyak hal demi menyelamatkan Khanza. Tidak ada gunanya dia menjelaskan semua itu, sebab keluarga di depannya ini pastinya akan terus melihat Kaisar sebagai pihak yang salah. Jika seseorang sudah terlihat buruk di matanya, maka kebaikan apa pun akan tetap salah. Percuma buang energi untuk membela diri.


"Maksudmu, kau menceraikan putriku, begitu?" geram Subrata dengan tatapan tajam.


"Aku tidak bilang begitu. Khanza adalah istriku, dan jika Anda keberatan dia bersamaku, maka silakan bawa dia pulang ke rumah Anda," tegas Kaisar menahan amarah yang memuncak. Sudah sejak tadi dia merasa kesal atas hinaan mertuanya, namun ia memilih untuk mengalah.


"Baik. Aku akan bawa anakku pulang. Tapi ingat, kau datang kepadaku dengan modal dengkul saja, tanpa sepeser uang. Sementara biaya yang sudah aku keluarkan untuk istrimu ini besar sekali. Jangan maunya enaknya saja sehingga kau jadikan anakku ini sebagai istri tanpa modal. Kau harus mengganti seluruh biaya yang aku keluarkan. Tidak perlu seluruhnya. Seperempat saja. Apa kau sanggup?"


"Huh, berani menantang kamu ya? Berani menanyakan berarti berani membayar. Tiga ratus juta. Lunasi dalam tiga bulan. Sanggup?" tantang Subrata berapi- api.

__ADS_1


"Besok akan kubawa uangnya." Kaisar sudah jengah dengan hinaan dan cacian mereka. Kaisar juga manusia yang bisa merasa marah saat dihina, dicaci dan dimaki, dianggap sampah. Cukup sudah, Kaisar ingin mengakhiri semua ini.


Subrata tersenyum sinis. "Mimpi!"


"Ayah, jangan minta uang pada Kaisar dengan cara seperti ini, sama saja ayah menjualku. Sama saja ayah tidak ikhlas membesarkan dan membiayai hidupku sehingga minta ganti semua itu pada Kaisar," ucap Khanza yang sejak tadi menahan kata- katanya itu disebabkan Kaisar dan Subrata tengah terlibat pembicaraan bersahutan tanpa jeda.


"Sudah! Biarkan saja. Ayah mau tahu seberapa besar nyali Kaisar." Subrata kemudian melenggang pergi dengan wajah angkuhnya.


Menyusul Marwah yang menarik tangan Khanza keluar.


Pergilah! Aku tidak mengharapkan salah satu diantara kalian muncul di sini, wahai manusia serakah! Gumam Kaisar dalam hati.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2