Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Kalah


__ADS_3

“Eh, Khanza, ada laki- laki yang mau kenalan sama kamu.  Tuh!”  Zelin menunjuk seorang pria yang duduk tak jauh dari meja mereka.  “Kemarin dia sempat ketemu denganku.  Dan dia bilang naksir sama kamu.  Tuh, orangnya ada di sana.”


Pria dengan wajah dewasa kulit sawo matang dan rambut plontos melambaikan tangan dengan senyum tipis.  Tampilan khas postur polisi.  Tubuhnya tegap dan besar.


“Dia itu polisi muda, ajudan kepala divisi dan propam polri.  Keren kan?” ucap Zelin di telingan Khanza.  Ia mesti harus sedikit berteriak saat berbicara karena suaranya berlomba- lomba dengan dentuman keras musik.


Khanza menggeleng cepat, tanda menolak diperkenalkan dengn pria itu.  memangnya dia itu apa?  Saat ini malaikat sudah mencatatnya sebagai istri seorang Kaisar.  Maka status itu tetap tidak bisa diubah di hadapan Tuhan. 


“Aneh, bukankah kamu tadi yang mengingatkan aku supaya jangan mengacaukan kehidupan Khanza dengan memberikan pengaruh buruk padnya?  Bahkan kamu melarang aku menjodohkan Khanza dengan Azam, lalu kenapa sekarang kamu malah mempengaruhi Khanza dengan laki- laki?” protes Zada.


“Ini tidak mempegaruhi namanya, Zada.  Tapi hiburan!  Sekedar healing, cuci mata!”  balas Zelin.


“Hai!” pria berambut cepak ala tampilan polisi itu tersenyum menghampiri Khanza.


Khanza hanya mengangkat alis.  Cuek.  


Pria itu semakin mendekat ke arah Khanza.  Lalu menjulurkan tangan, isyarat mengajak kenalan.


“No no!  Aku sedang tidak mood dan tidak ingin berkenalan dengan siapa pun!”  Khanza menolak.  Ia bangkit berdiri. Tepat saat hendak beranjak dengan membalikkan badan, pria berambut plontos itu menarik lengan polos Khanza.


Terkesiap, Khanza kaget merasakan bibirnya disentuh sesuatu.  Dan itu adalah bibir lelaki itu.


Plak!


Khanza menampar keras pipi lelaki yang dengan tidak sopan telah berani berbuat kurang aj*r terhadapnya.


 “Bajing*n!  Biad*b kamu!” hardik Khanza dengan tatapan nyalang.

__ADS_1


Pria itu tersenyum miring sambil mengusap pipi yang bekas kena tamparan.  “Sok suci!  Perawan pun pasti bukan.  Mana ada gadis baik- baik menghabiskan waktunya di tempat seperti ini.  Para gadis di sini pasti menyukai sentuhan laki- laki!”


“Brengs*k!”  Khanza hendak menghadiahi pukulan ke dua kalinya.  Namun tangan mungilnya yang melayang itu sudah lebih dulu ditangkap oleh pria yang katanya adalah ajudan kadiv propam polri.


Baru saja Khanza hendak menyentak tangannya, sudah lebih dulu tubuh ajudan berbadan tegap itu terhuyung mundur sesaat setelah dadanya didorong oleh tangan besar seseorang.  Tak lain Kaisar.


“Lepaskan dia!  Jangan mengganggunya!” hardik Kaisar memperingatkan sambil menunjuk muka lawan.


“Siapa kau?  Apa hakmu melarang aku.  Semua gadis yang ada di sini adalah gadis- gadis murahan yang senang disentuh.  Jika dia bukan wanita murahan, maka dia tidak akanmenempatkan dirinya di tempat maksiat seperti ini!”


“Aku suaminya!” Kaisar meraih pergelangan tangan Khanza, menariknya keluar night club. 


Sepanjang pergelangan tangan Khanza diseret keluar, Khanza berpikir keras.  Bagaimana bisa Kaisar mendatangi club malam?  Kaisar bukanlah tipe lelaki yang doyan dengan hiburan malam, dunia Kaisar jauh dengan hal- hal hingar bingar kesenangan malam.  Lalu bagaimaa bisa pria itu sampai ke klub malam?


Kaisar menyentak tangannya hingga tangan Khanza pun terlepas dari pegangannya.  Pangkal lengannya sampai terasa sakit akibat sentakan keras tangan Kaisar.


Khanza kaget, merasa terancam, ia lalu memalingkan pandangan.  Baru kali ini terlihat kilatan amarah yang memuncak di wajah kaisar.  


Pria itu berjalan ke arahnya, tubuhnya yang tinggi besar menutupi bayangan tubuhnya, seakan menelan badannya bulat- bulat.  Khanza ingat, terakhir kali ketika Kaisar sagat marah terhadapnya karena urusan percobaan pembunuhan itu, kilatan amarah tidaklah seperti saat ini.  Bukankah kasus percobaan pembunuhan itu jauh lebih parah dibandingkan sekarang ini?  Kasus yang entah dengan alasan apa membuat pria itu begitu marah sekali.


“Tatap wajahku!” titah Kaisar mendominasi.


Seperti elang, Kaisar menatap wajah Khanza yang terkesan pasrah.  Bosan berdebat.  Atau malas membalas dengan kemarahan yang sama.  Kaisar diam, tidak marah tapi terlihat sangat mengancam.


Disaat seperti ini, Khanza seperti kalah telak.  Sifatnya yang bar- bar pun terkalahkan oleh ketajaman mata elang milik kaisar, segalanya terasa lumpuh dalam diri Khanza. Ia mengumpulkan segenap keberanian untuk mengangkat wajah dan mengembalikan pandangan ke mata Kaisar.  Dan ia mendapati wajah dingin, tatapan tajam, hingga membuat orang yang melihatnya menjadi seram.


Khanza yang baru kali ini melihat sosok Kaisar seperti ini pun tidak hanya terpaku dan tak bersuara, tapi juga takluk pada pria itu.  keberanian dan sifat pelawan dalam dirinya hilang entah kemana.  Entahlah, Khanza pun tidak tahu kenapa ia mendadak berubah begini hanya dalam hitungan detik.

__ADS_1


“Apa maksudmu menyeretku keluar begini?  Sebaiknya kamu jangan mencampuri urusanku!  Apa lagi sampai bersikap seolah- olah mempedulikanku!” Khanza berucap dengan lemah.


“Kamu istriku!”


Khanza terdiam seribu bahasa.  Kaisar mengakuinya sebagai istri?


“Aku tidak peduli padmu.  Aku tidak peduli dengan apa pun yang terjadi padamu.  Aku juga tidak mau mencampri urusanmu.” Benda menonjol dileher Kaisar bergerak naik turun seiring dengan usahanya menelan saliva.  “Aku hanya peduli pada Tuhan dan semua yang peraturan- Nya.  Sebab saat aku tahu bahwa kamu sudah menjadi istriku, maka akhlakmu menjadi tanggung jawabku!”


Khanza tercekat.  Kaisar malah membawa- bawa aturan agama.  Hal yang begini tentu saja Khanza kalah.


"Pulang!" Kaisar menggeret Khanza dan membawanya masuk ke taksi yang menunggu di tepi jalan. 


Tidak ada pemberontakan dari Khanza, bukan karena menuruti, tapi lebih karena pasrah dan mengalah. Tak perlu ditanya bagaimana perasaan Khanza, dia sangat kesal sekali diperintah- perintah begini. Muak.


Kaisar menyusul masuk dan duduk di sisi Khanza. 


Tidak ada perbincangan hingga mobil melaju beberapa kilo meter jauhnya. Sepi. Keduanya membisu. Hanya suara deru mesin mobil yang terdengar.


"Aku tidak ingin mengakui pernikahan ini," celetuk Khanza akhirnya, suaranya bergetar hendak menangis. Menangisi kepiluan dari pernikahan yang tidak dia harapkan. Tatapannya tertuju ke arah luar, wajahnya berpaling dari Kaisar. "Kamu boleh menganggapku istri, tapi sebaliknya aku tidak akan pernah mengakuimu sebagai suami. Aku tidak mencintaimu, aku tidak mengharapkanmu."


"Sama. Aku pun juga." Kaisar berkata dengan datar. "Tidak perlu aku mengulang kenapa aku harus mencari keberadaanmu dan bahkan sampai menanyakan kepada Bik Imar dimana biasanya posisimu saat keluyuran malam hari."


Oh, rupanya Kaisar menanyakan keberadaan Khanza melalui Bi Imar.


"Aku hanya sebatas patuh pada Tuhan, aku patuh pada perintah- Nya yang memberiku petunjuk bahwa istri adalah tanggung jawabku, kalau aku melalaikannya maka sama saja aku membangkang dari perintah itu. Itu saja. Tidak lebih." Masih dengan suara datar Kaisar menjelaskan maksudnya. "Mulai sekarang, kamu tidak lagi aku ijinkan pergi malam- malam, apa lagi untuk maksiat."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2