
Khanza menganggukkan kepala sesaat setelah memasuki pintu ruangan Kaisar. Intercom di mejanya tadi berbunyi, Kaisar memanggilnya. Tampak Jihan sudah lebih dulu duduk menghadap Kaisar.
Khanza tidak duduk, ia berdiri saja meski masih ada satu kursi lain di depan meja Kaisar.
“Jadwal bapak hari ini jam Sembilan ada meeting dengan Presdir perusahaan Arvena Groups di hotel Melinda. Kemudian jam tiga sore ada kunjungan ke pabrik.” Khanza membacakan agenda, ia sudah mengetahui tugasnya.
“Oke.” Kaisar mengangguk. Pria itu mengetik di laptop. Entah mengerjakan apa.
“Jadwal kunjungan ke pabrik bisa digeser ke jam lima tidak? Sebab aku ada urusan ke bank setelah meeting.”
“Bisa, Pak. Tidak ada jadwal apa pun di jam itu.”
“Oke.” Kaisar mengangguk lagi. “Jihan, coba lihat pekerjaan kemarin!”
Jihan menyerahkan map. Disambut oleh Kaisar map tersebut. Mereka tertawa kecil ketika tanpa sengaja tangan kaisar bersentuhan dengan tangan Jihan. Tatapan keduanya diselimuti tatapan penuh bunga- bunga asmara.
“Maaf, sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, pak? Kalau tidak ada lagi, saya permisi!” ungkap Khanza.
“Ya, boleh. Silakan!”
__ADS_1
Khanza melangkah keluar. Ia kembali ke ruangannya dan duduk dengan lemas.
Rasanya dunia ini jadi runtuh, hidup pun tak bersemangat lagi. Begitu besar efek penglihatan tadi ke tubuhnya. Apakah ini yang namanya cemburu? Apakah benar Khanza sudah memiliki rasa cinta kepada Kaisar?
Meski benar Khanza menyadari bahwa ia mulai menyukai Kaisar, namun ia tidak akan pernah mengakui perasaannya itu. Tidak akan pernah. Sebab hal itu hanya akan menjatuhkan harga dirinya di mata Kaisar.
Saat ia mengaku bahwa ia menyukai Kaisar, pasti pria itu akan beranggapan bahwa ia hanya mengejar harta setelah tahu bahwa Kaisar adalah orang kaya. Padahal tidak begitu kenyataannya. Sejak saat kaisar pergi meninggalkannya, sejak saat itu pula Khanza merasa kehilangan dan sisi hatinya terasa ada yang kurang.
Khanza masih ingat betul bagaimana rasanya saat ia kehilangan kaisar dan menganggap bahwa pria itu berarti bagi hidupnya. Itu terjadi jauh sebelum ia melihat kaisar duduk di bangku Direktur.
Meski Khanza adalah wanita yang materialistis, namun kenyataannya saat ia benar- benar jatuh cinta pada seseorang, ia justru tak ingin mengharapkan apa pun dari pria yang dia cintai. Termasuk cinta milik si pria. cukuplah dia yang merasakan ketulusan untuk kaisar, tanpa perlu pria itu mengetahuinya. Harga ketulusannya sangat tinggi, tak bisa diganti dengan materi. Khanza tak ingin Kaisar menilainya hanya sebatas mengejar harta saja sehingga mengaku cinta saat kaisar terlihat mapan di matanya.
“Khanza!”
Khanza terkejut mendengar suara lantang seseorang.
“Bapak?” Khanza bangkit dan menganggukkan kepala melihat Kaisar sudah berdiri di hadapannya.
Lah, kapan Kaisar masuk? Khanza sampai tidak menyadari hal itu gegara ngelamun. Duuuh… jantung deg- degan lagi. Ternyata begini rasanya bertemu lelaki yang kita cintai. Rasanya geregetan dan menggemaskan.
__ADS_1
“Apa ada masalah? Kau terlihat sedang berpikir panjang sekali tadi.” Kaisar menatap Khanza heran.
“Ah, tidak.” Khanza berusaha bersikap sopan selayaknya sekretaris pada atasannya.
“Kamu ikut aku! Kita meeting! Bawa data yang disiapkan Jihan!” titah Kaisar kemudian berlalu pergi.
Ketemu Jihan lagi? Perasaan Khanza tidak nyaman setiap kali melihat wanita yang dicintai Kaisar. Tapi ia tetap harus menjalankan tugas.
Khanza memasuki ruangan Jihan. Dengan senyum palsu yang dibikin selebar mungkin, ia bertanya, “Aku membutuhkan dokumen yang perlu dibawa untuk meeting!”
“Ini. Silakan! Sudah disiapkan!” ucap Jihan menunjuk map di mejanya.
“Aku bawa ya! Makasih!” Khanza mengambil map dan berlalu pergi.
Ternyata begini rasanya melihat wanita lain yang dicintai suami sendiri. Sakit. Ada luka tak berdarah yang baru disadari setelah terlambat.
Khanza duduk berdampingan dengan Kaisar. Supir di depan mengemudikan mobil.
Bersambung
__ADS_1