
Sepanjang jalan, Khanza diam saja.
“Bagaimana dengan pekerjaan barumu? Menyenangkan?” tanya Kaisar seakan mengusir kesunyian.
“Ya.”
“Apakah ada masalah dengan ruanganmu?”
“Tidak.”
“Kemarin ruangan itu sedikit pengap karena sekretaris lama tidak menyukai aroma wewangian, bahkan aroma pewangi lantai pun ia tidak suka. Jadi ruangan tanpa wewangian.”
Tidak ada tanggapan dari Khanza.
“Kalau kamu butuh pewangi ruangan, kamu bisa order saja,” ucap Kaisar.
“Ya.”
“Di lemari kaca yang paling ujung itu ada makanan ringan. Beberapa waktu lalu aku berikan pada sekretaris dan sepertinya masih ada di sana. Kamu boleh memakannya.”
“Ya.”
“Oh ya, berkas yang diserahkan Jihan terdiri dari tiga file kan?”
“Ya.” Khanza mengecek dengan membuka sedikit ujung map dan menghitung lembaran bundelan file. Ada tiga bundel.
__ADS_1
Kaisar mengernyit menyadari ada sesuatu yang aneh pada diri Khanza. Kemana Khanza yang dulu? Kini wanita itu terlihat sangat kalem dan tak banyak tingkah. Suaranya pun mahal, jarang berceloteh.
Meeting hari itu berjalan dengan lancar setelah hampir dua jam Kaisar ditemani oleh Khanza membicarakan pekerjaan.
Kaisar melangkah gontai meninggalkan area meeting diikuti oleh Khanza.
“Apa kita makan dulu?” tanya Kaisar. Mengingat sewaktu meeting hanya makan salad saja.
“Ya.”
“Menurutmu menu apa yang cocok untuk situasi seperti sekarang ini? Panas.” Kaisar menoleh ketika sadar ia tidak mendapatkan jawaban. “Mau makan sushi?”
Khanza mengangguk.
Mereka berjalan saja menuju ke restoran sebelah. Kemudian duduk berhadapan.
“Kentang goreng?” tanya Kaisar menatap makanan yang tersedia di hadapan Khanza. Kentang goreng dengan teman saus.
“Ya.”
“Kenapa tidak makan sushi? Aku tadi menawarkan sushi untukmu bukan?”
Khanza hanya menggeleng saja.
Benar-benar gadis aneh! Kini Khanza berubah menjadi diam. Tak banyak suara.
__ADS_1
“Seperti ada yang salah.”
Khanza hanya mengangkat alis mendengar pengakuan Kaisar.
“Kamu kelihatan berbeda, apa ada yang bisa kubantu? Mungkin kamu memiliki masalah dengan keuangan. Oh ya, aku sampai melupakan sesuatu. Betapa bodohnya aku.” Kaisar kemudian mengeluarkan ponsel dari balik jasnya. Dia mengetik entah apa.
Ting.
Getaran singkat di hp Khanza membuat wanita itu sadar ada notifikasi masuk ke hp nya. Namun ia tidak tertarik untuk melihatnya. Ia asik makan. Jika Kaisar asik mainan hp, dan Khanza juga mainan hp, maka akan ada dua orang duduk berhadapan dan saling asik main hp. Pemandangan itu pasti akan buruk dilihat orang.
“Apa kamu tidak tertarik untuk mengecek ponselmu?” tanya Kaisar dengan senyum tipis.
Duuuh… betapa tampan sekali pria itu saat tersenyum manis begitu.
Khanza menggeleng. Jujur saja Khanza sudah merasa ingin bersama dengan Kaisar sebelum ia mengetahui kalau Kaisar itu orang kaya, namun pastinya hal itu akan memalukan jika dia akui. Ia tetap akan kelihatan sebagai wanita materialistis yang mengharapkan kekayaan.
Kembali ke awal, bahwa ia benar-benar jatuh cinta pada sosok Kaisar, cintanya tidak perlu pengakuan, cintanya pun tak perlu dibalas. Ini rasa yang tulus. Dan ketulusan itu mengalir apa adanya. Kenapa ia baru bisa merasakan ketulusan disaat begini?
“Kalau begitu aku memintamu untuk melihat hp!” pinta Kaisar masih dengan senyum. “Itu ada notifikasi, barangkali penting.”
Khanza menggeleng lagi.
Senyum Kaisar sontak menghilang. Dengan raut tegang, ia berkata, “Lihat notifikasi hp mu sekarang! Ini perintah!”
Maksa! Khanza akhirnya menuruti perintah konyol suaminya, eh atasannya. Ia melihat notifikasi di hp nya. Matanya sontak membelalak melihat uang masuk senilai tiga puluh juta. Ia menelan dengan sulit. Ada nama Kaisar sebagai sumber dananya.
__ADS_1
Ayuk, baca novel Emma Shu judul 'GADIS TARUHAN' lalu langsung masukin favorit ya supaya tahu kalau ada update bab baru. Klik aja profilku dan cari judulnya di sana. Jangan ketinggalan keseruannya yah. Ada yang udah baca belum?