Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Goresan Pisau


__ADS_3

Tepat ketika semuanya sudah terlepas, Khanza merasa sangat lega.  Akhirnya ia bisa berada di posisi akan bebas setelah tadi benar- benar di ambang kehancuran, ketakutan dan kematian.


Kaisar mengernyit saat tiba- tiba Khanza menubruk tubuhnya, memeluk erat dan melepaskan tangis di dada bidangnya.


Tangan Kaisar terangkat di udara.  Bingung harus berbuat apa.  Sepertinya kepala Khanza sedang dalam mode tidak sadar sepenuhnya sehingga berani bersikap begini.  Jika wanita itu sepenuhnya sadar, mana mungkin dia akan bersikap seperti itu.


“Hei!  Sudah!  Jangan drama!  Ini bukan waktunya!”  Kaisar mengetuk pucuk kepala Khanza dengan kepalan tangannya membuat Khanza sontak memegang bagian yang diketuk dengan muka cemberut sambil mengusap air matanya dengan sekali usap.


Untung saja Khanza berbaik hati, bersedia memeluk Kaisar sebagai wujud terima kasihnya.  Tapi Kaisar malah bersikap begini.


Kaisar menggandeng Khanza menuju keluar dengan cara mengendap- endap.  Mereka membuka pintu dengan pelan.  Tapi pintu jelek itu tetap mengeluarkan suara deritan meski sudah digerakkan dengan sangat berhati- hati.


Tidak ada seorang pun penjaga yang datang memergoki, artinya deritan pintu tidak terdengar oleh mereka. 


Kaisar mengajak Khanza berlari meninggalkan rumah kosong dengan sedikit berjingkat sambil merunduk.  


“Woi… Jangan kabur!” 


Teriakan itu membuat Kaisar dan Khanza menoleh ke sumber suara teriakan.  Dua pria berkaos hitam dengan tubuh tegap dan besar menunjuk- nunjuk ke arah mereka, mata melotot.  Mereka baru saja keluar dari salah satu ruangan dan mendapati tawanan kabur.

__ADS_1


“Cepat!  Lari!” ajak Kaisar sambil menarik tangan Khanza untuk menjauh.


Khanza yang terdiam, segera mengikuti Kaisar berlari kencang, tunggang langgang.  Wajahnya frustasi dan memucat, takut kembali tertangkap.  Andai saja ia kembali tertangkap, maka ketakutan yang sebelumnya akan kembali menghampirinya.


Dua pria di belakang sudah semakin dekat.  Mereka nyaris seperti pelari internasional yang kecepatan larinya benar- benar mumpuni.


Beberapa kali kaisar menoleh ke arah Khanza mengingat gadis itu bergerak cukup lambat karena kelelahan.  Terpaksa Kaisar menarik tangan Khanza hingga tubuh Khanza terpontang panting mengikuti langkah Kaisar yang begitu cepat.


“Bisakah kamu tidak merepotkanku?” tegas Kaisar.  “Larimu lambat sekali.  Lebih cepat lagi!  Ayo!” Kaisar tampak geram sekali, sedikit menyentak tangan Khanza hingga tubuh gadis itu terhuyung hendak jatuh.


Wajah Khanza tampak semakin memucat.  Kaisar jadi iba.  Tidak seharusnya ia berkata buruk kepada Khanza hingga membuat ketakutan Khanza semakin memuncak.


Melihat tampilan Khanza yang menyedihkan, akhirnya Kaisar pun berhenti.  Khanza bingung melihat Kaisar yang malah berhenti dengan muka datar.  


“Ayo cepat lari!”  Khanza berusaha melanjutkan lari, namun Kaisar malah menahan tangan Khanza hingga langkah Khanza pun berbalik dan tertahan.  


Kaisar menatap ke arah dua pria yang kini sudah berada di hadapannya.  Kaisar siap melawan dengan tatapan dipenuhi kewaspadaan.


“Berdirilah di belakangku!” titah Kaisar yang langsung dianuti oleh Khanza.  

__ADS_1


Khanza bersembunyi di balik badan Kaisar, kepalanya sedikit nongol ke samping pundak Kaisar untuk mengawasi dua wajah menyeramkan itu.


 “Jangan beraninya dengan wanita,” tegas Kaisar.


“Banyak bacot!”  Salah seorang pria menyeramkan itu melangkah maju dan melakukan penyerangan.  


Terjadi adu tinju dan tendang antara Kaisar dan salah seorang pria, hingga hidung si pria jelek itu berdarah dan tubuhnya tersungkur di tanah setelah mendapat tinjuan.


Pria satunya tak mau kalah.  Dia maju dan menyerang Kaisar.  Perkelahian pun terjadi begitu sengit, hingga lawannya Kaisar itu jatuh dan tersungkur mencium tanah.


Tak mau tinggal diam, dua pria seram itu akhirnya bangkit berdiri dan menyerang Kaisar bersamaan.


“Kaisar, awas!”  Khanza menjerit histeris melihat salah seorang lawan mengeluarkan pisau yang diarahkan kepada Kaisar.


Bles!


Pisau menggores dan mengenai lengan Kaisar cukup dalam dan panjang.  Cairan merah mengalir melalui luka.  


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2