Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Bos


__ADS_3

Ya ampun, jadi sekarang ini Khanza adalah istri seorang direktur?  Yang bahkan semua orang tidak mengetahui status itu.  Khanza tidak tahu apakah harus senang atau sedih.  Ia hanya bisa diam mematung.  Menyadari bahwa selama ini ia sudah menghina dan merendahkan seorang yang kekayaannya jauh melebihi di atasnya.  Bahkan Khanza bukanlah siapa- siapa jika dibandingkan dengan Kaisar.


Anehnya, Kaisar selama ini malah kelihatan santai sekali saat menjalani hidupnya sebagai seorang yang miskin.  Muncul rasa kagum di benak Khanza atas sikap Kaisar yang tetap terlihat santai dalam keadaan memprihatinkan meski sesungguhnya dia adalah seorang sultan.


“Menariknya lagi, Pak Kaisar itu belum menikah di usianya yang sampai sekarang ini. Padahal usianya sudah snagat matang,” imbuh gadis itu bersemangat.


Muka Khanza sedikit berubah mendengar perkataan gadis itu.  Khanza- lah istri Kaisar saat ini.


“Pernah ada insiden Pak Kaisar dikejar- kejar oleh staf di sini, sampai akhirnya Pak Kaisar memecat wanita itu Karen pak Kaisar merasa terganggu,” sambung gadis itu lagi.


“Dan wanita itu pasti patah hati.”


“Tentu.  Dia sempat mengirimkan bunga untuk Pak Kaisar sebagai barang pemberian terakhir kali.  Tapi setahuku, Pak Kaisar itu dijodohkan dengan anak pengusaha, putrid dari temannya Pak Calvin.  Hanya saja, pak Kaisar menolak perjodohan itu.”


“Kenapa?  Bukankah pilihan Pak Calvin pasti oke?”  Khanza mendadak jadi penasaran pada sosok Kaisar yang kini menjelma menjadi seorang bos besar.


“Mungkin ini urusan hati.  Jadi sulit dijelaskan.  Dengar- dengar, Pak Kaisar itu sudah memiliki pilihan hati.  Entah siapa wanita beruntung itu.”


Jihan.  Nama wanita yang disebut beruntung itu adalah Jihan.  Gumam Khanza dalam hati.


Waktu istirahat telah usai.  Seluruh staf kembali ke ruangan masing- masing.  Khanza pun kini sudah berada di ruangannya.  Ia terkejut hingga tubuhnya tersentak ketika intercom di mejanya yang terhubung dengan saluran intercom direktur itu berbunyi.


“Khanza, ke ruanganku sekarang!”


“Baik!” jawab Khanza.  Ia tahu itu adalah suara Kaisar.  Segera ia keluar ruangan untuk menuju ke ruangan sebelah.  Ia mengetuk pintu sebelum memasuki pintu tersebut.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Khanza sembari menatap wajah Kaisar yang tampak dingin bak es kutub utara.  


Beberapa detik Kaisar menatap Khanza yang berdiri di dekat pintu dengan tatapan tak enak.  “Duduklah!”


Khanza melangkah gontai mendekati kursi di depan Kaisar.  Ia lalu duduk.  “Aku tidak menyangka ternyata kamu adalah seorang big bos.  Jadi dua manusia aneh yang kamu undang ke rumah dan mengaku sebagai orang tuamu itu adalah palsu?”


“Lain kali perlihatkan kesopananmu saat bertemu dengan bosmu.  Sekarang kita di kantor.  Aku bosmu.”  Kaisar berusaha menunjukkan sikap professional.


“Tidak ada orang lain di sini selain kita.”


“Aku sedang ingin membahas pekerjaan.”


Ugh, sialan!  Sekarang kaisar berada di atas angin dan sok tidak kenal!  Gumam Khanza gondok. 


“Kamu butuh pekerjaan kan?” tegas Kaisar.


“Ya,” jawab Khanza ketus.


“Kalau begitu bersikaplah dengan baik supaya kamu tetap bertahan di posisimu itu.”


“Maksudmu apa?  Kamu berniat memecatku aklau aku tidak bersikap seperti yang kamu inginkan, begitu?” kesal Khanza.


“Jangan memulai kekesalanku sehingga aku akan ambil tindakan.”


“Okey!”  Khanza menggemeletuk kesal.

__ADS_1


“Ini di kantor.  Berusahalah untuk bersikap profesonal.  Ada atau pun tidak ada orang lain.”


“Tidak perlu begitu juga, Kaisar.”


“Bapak Kaisar!”  Kaisar membetulkan panggilan yang seharusnya diucapkan oleh Khanza.


“Oke, Bapak Kaisar!”  Khanza mengikuti kemauan Kaisar meski dengan gigi menggemeletuk kuat.  “Kita kemarin dalam mode tidak seformal ini.  Setidaknya bedakan aku dnegan staf lainnya mengingat kamu pernah mengenalku sebelum ini sebagai status… status suami istri.  Orang lain juga pasti tidak akan bersikap sepertimu.”


“Aku adalah aku, dan aku tidak suka dibanding- bandingkan dengan dengan orang lain.  Kamu mau mengikuti peraturanku kan?”


“Oke.”


“Bagus.  Jadi kuulang lagi, bersikaplah seperti layaknya seorang Sekretaris kepada atasannya.  Ini tidak sulit bukan?”


“Oke.”


“Kamu tidak mau semua orang mengetahui status kita bukan?  Maka jaga sikap supaya rahasia kita tidak tercium oleh siapa pun.”


“Lalu sampai kapan kita begini?”


“Jangan bicara panjang lebar tentang sesuatu yang bukan urusan pekerjaaan.  Kalau ada yang mau dibahas di luar pekerjaan, sepulang jam kerja kamu bisa temui aku di kafe Preety Zep.  Aku menunggumu di sana nanti.”


Haduh, begini amat ngobrol sama suami, berasa ngobrol sama bos.  Eh, memang bos.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2