
Kaisar berjalan keluar. Tubuhnya sedikit sempoyongan. Namun ia masih bia mempertahankan diri. Hingga akhirnya ia memilih untuk duduk di kursi tak jauh dari mobilnya terparkir. Kepalanya menggeleng- geleng sebentar untuk menghilangkan pusing. Nyeri di kepala benar- benar terasa berat sekali.
Sekali lagi, Kaisar mengusap cairan merah yang meleleh membasahi pelipis. Ah, tetesan darah itu cukup deras mengalir. Pandangan Kaisar mulai berkunang. Ia menundukkan kepala.
Sentuhan di pelipis yang kemudian diseret sampai ke kening membuat Kaisar mendongak, menatap samar sosok di depannya. Ia mengerjapkan mata hingga akhirnya bisa menangkap wajah itu. Khanza.
“Ini darahmu banyak sekali. Ayo, ke rumah sakit! Kamu bisa kekurangan darah kalau dibiarkan begini.” Khanza menarik lengan Kaisar.
“Tidak apa. Ini akan membaik. Hanya luka luar.” Kaisar menyentuh kepalanya yang memang ada luka robek. Di sekitar luka, sedikit membengkak akibat pukulan yang cukup kuat.
“Hei, ini bukan luka ringan, ini luka serius.”
“Aku tidak selemah yang kau pikir.” Kaisar mulai terlihat kuat. Pandangannya mulai kembali normal.
Khanza meraba dada Kaisar, kemudian meraba paha pria itu.
“Hei, apa yang kamu lakukan?” Kaisar mengernyit melihat Kahnza yang tiba- tiba melakukan aksi raba sana sini.
Khanza menarik kunci mobil dari kantong celana Kaisar. “Aku ambil kotak obat di mobilmu.”
__ADS_1
Kaisar baru paham sekarang. Dia biarkan Khanza memencet remot mobil kemudian mengambil kotak obat di laci. Wanita itu mulai membersihkan darah di wajah Kaisar. Ia pun mengobati luka di kepala.
“Ini lukanya lumayan berat. Seharusnya dijahit.”
“Tidak masalah. Diberi obat merah saja, nanti pasti mengering.”
“Kamu memang keras kepala.”
Kaisar diam saja.
“Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Khanza.
“Bukan itu maksudku. Aku tahu kamu ke wilayah ini untuk mengurus masalah itu, tapi yang kutanya adalah kenapa kamu bisa ada di club ini? Apa yang kamu cari di sini? Ini bukan wilayahmu kan? Kamu pasti menganggap bahwa tempat ini penuh dengan maksiat.”
“Aku mencarimu.”
Khanza tergelak. “Mencariku?”
“Kamu nanya? Apa itu lucu?”
__ADS_1
“Ya. Tentu lucu.” Khanza masih tertawa hingga menghabiskan beberapa detik lamanya. Matanya sampai menyipit.
“Sebutkan dimana letak kelucuannya.”
Senyum di wajah Khanza perlahan memudar. Dia menatap wajah Kaisar dengan lekat, kemudian dia mendekatkan wajahnya ke arah Kaisar, pria itu tidak menghindar. Dia biarkan Khanza mendekati wajahnya. Dia yakin, tidak mungkin Khanza akan berbuat macam- macam.
“Apa pedulimu padaku, Tuan Kaisar? Aku sudah bukan istrimu lagi, tidak pantas kamu mengurusiku. Hidupku adalah hidupku, dan hidupmu adalah hidupmu. Kita selesai.” Khanza tersenyum tipis, lalu memundurkan wajah.
“Ya. Kamu memang bukan istriku lagi. Memang itu yang kamu inginkan sejak awal bukan?” balas Kaisar.
“Kita sama- sama menginginkan keputusan itu. Yaa walau pun aku tidak ingin menyandang status janda, tapi kan juga aku tidak ingin menjadi istrimu. Mungkin ini memang keputusan yang tepat.” Khanza menunjukkan sikap seolah- olah ia tidak kehilangan Kaisar.
“Kamu yakin tidak ada perubahan dalam dirimu setelah melewati kebersamaan denganku selama ini?”
“Maksudmu?”
“Apakah perasaanmu terhadapku tidak berubah sampai detik ini? Apakah kamu masih tetap membenciku seperti dulu? Sudah banyak waktu yang kita lewati bersama, mungkin waktu telah mengubah perasaanmu. Ataukah masih sama seperti dulu?”
Bersambung
__ADS_1