Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Penghakiman


__ADS_3

“Haduuuh!  Jadi begini kejadian yang sebenarnya.”  Pak Kades menepuk jidatnya agak keras, membuat kunang- kunang seperti bintang menari- nari di kepalanya.  “Bikin malu bapak saja!  Kenapa kamu memfitnah kaisar?”


“Kaisar datang ke komplek perumahan ini berhasil menyingkirkan perhatian semua orang!  Tidak hanya perhatian para petinggi di komplek, para pemuka agama, tapi juga para wanita,” lirih Rama dengan kepala tertunduk dan muka memerah menahan malu.


“Owlaaah… Jadi ini urusannya tidak- jauh- jauh dari perkara iri dan dengki?”  Pak Kades geleng- geleng kepala.  “Jadi bagaimana urusan jualan mie ayam waktu itu?  Jangan- jangan kamu juga curang hingga membuat Kaisar kehilangan waktu untuk mengulur pernikahannya.”


“Ya.  Aku membuang mie ayam itu.”


“Tapi uang yang kamu setor itu tidak kurang.  Dari mana uangnya?”


“Uang setoran mie ayam dari uang jajanku.”


“Waduh!”  pak Kades kembali menepuk kening.


Kaisar baru sadar, bahwa ternyata bukan hanya Ganda saja yang merasa tersingkir, ada banyak orang yang merasa cemburu atas kehadiran Kaisar dan Khanza yang menggeser posisi mereka sebagai orang terpandang di wilayah itu.

__ADS_1


“Dan kamu Zelin, Khanza itu kan sahabatmu?  Kenapa kau malah merusak nama baiknya, huh?” gertak Subrata dengan wajah merah padam.  “Dasar muka dua!  Otak tidak dipakai!  Hanya nafsu saja yang kau kedepankan!  Memalukan!”


Zelin melirik Subrata dengan lirikan pedas. “Itu karena Khanza selalu menjadi yang terbaik di mata semua orang.  Dimana- mana orang- orang mengagungkan Khanza, bahkan Azam pun menyukai Khanza.  Aku lelah harus mengalah.”  


“Bukan mengalah, tapi mentalmu yang kalah,” sahut Kaisar.  “Kalau kamu tidak merasa dengki, maka hidupmu pasti akan menjadi jauh lebih tenang.”


Zelin menunduk.  “Aku minta maaf.  Aku salah.”


“Huuuuuuu….” Orang- orang menyoraki.  Malah ada yang melempar sandal ke arah Zelin.


“Lah, itu dia tobat nggak?  Menyesali perbuatannya nggak?” sahut salah seorang.


“I iya, aku menyesal.  Setelah ketahuan begini, aku jadi malu dan rasanya kesalahanku malah mempermalukan diriku sendiri,” jawab Zelin sambil menangis.


“Jadi, semuanya sudah jelas, bahwa sebenarnya Khanza dan Kaisar tidak pernah melakukan hubungan terlarang.  Mereka manusia baik!” ucap Kyai Umar dengan tegas.  “Maka dengan ini saya sampaikan supaya para pemuda berhati- hati menjaga hati, inilah awal mula terjadinya kedengkian, pemfitnahan dan lain sebagainya.  Ketahuilah, di dalam tubuh manusia ada segumpal daging.  Dan apa bila segumpal daging itu baik, baiklah tubuh seluruhnya, dan apa bila daging itu rusak, rusaklah tubuh seluruhnya.  Ketahuilah olehmu, bahwa segumpal daging itu adalah qalbu.  Qalbu inilah yang seharusnya dijaga dengan semestinya.  Dan ada pun orang- orang yang di dalam hatinya ada penyakit, maka akan menambah kekafiran mereka yang telah ada dan mereka akan mati dalam keadaan kafir.  Naudzubillah.”

__ADS_1


Semuanya mendengarkan.  Perkataan Kyai Umar cukup mengena di hati.  Dan memang dialah sosok yang disegani dan dipandang baik di depan semua orang.  Maka setiap kata yang dia ucapkan, akan di dengarkan dan dipatuhi.


“Janganlah kalian iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Tuhan kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.  Iri hati ini penyakit hati yang harus dijauhi.  Dan fitnah adalah keburukan yang paling buruk,” imbuh Kyai Umar melanjutkan tausiahnya.


Setelah mendengar tausiah dari orang yang berilmu, semua wajah terlihat seperti baru lahir, mendadak insaf.  Entah setelah ini.  Apakah lupa dengan insafnya atau tausiah itu akan membekas di hati dan diimani?  


Semua orang diperbolehkan meninggalkan pelataran rumah Kyai Umar.  


Pak Kades menjewer telinga Rama, menggeretnya pulang.


Zelin pergi dengan langkah lemas.


Kaisar, Ganda dan Beno masih bertahan di sana.  Subrata pun masih bertahan.  Masih ada unek- unek yang belum tersampaikan oleh lidahnya hingga ia tak mau melangkah pergi. 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2