Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Besan


__ADS_3

Sesaat Kaisar bingung, ia tidak memiliki nomer orang yang akan menjadi orang tua palsunya.  Tentunya ini akan menjadi pertanyaan, bagaimana mungkin seorang anak kandung tidak memiliki nomer orang tuanya sendiri? ini janggal sekali.


Kaisar sedang memutar otak.  Berpikir apa yang harus dia katakan. “Hp ku sedang lowbet, nanti aku akan cas dulu.”


“Baik.  Kamu boleh meninggalkan rumah dan membawa Khanza, asalkan kamu perkenalkan dulu aku dengan orang tuamu.  Setelah aku meyakini bahwa kamu berasal dari keluarga baik- baik, barulah kamu boleh membawa anakku bersamamu.  Bagaimana mungkin aku akan tenang melepas Khanza jika aku tidak tahu asal- usulmu.  Bagaimana jika ternyata kamu buronan polisi?  Atau ayahmu seorang Bandar narkoba.  Atau bahkan hal buruk lainnya mengenai keluargamu?”


“Ya, aku akan cas hp dulu.”  Kaisar meninggalkan ruangan.  Ia kembali ke kamar untuk menelepon Beno.  Namun pandangannya justru tertuju ke arah Khanza yang masih tertidur pulas di balik selimut tebal yang separuhnya menjuntai ke lantai.kaki jumpalitan, serta tangan naik ke atas hingga memperlihatkan ketiaknya yang ternyata cling seperti lantai barusan dipel.


Jam tujuh.  Khanza masih teridur pulas.  Benar- benar gadis bangkong!


Semalaman Kaisar kesulitan tidur karena harus menderita dengan posisinya yang menggelepar manis di atas lantai dengan temperature Ac yang menyala sangat dingin.  Mirip seperti ikan lele yang disiangi, meringkuk hebat. Ia sudah mencari selimut, tikar, kasur lipat atau apa pun yang bisa dia gunakan untuk alas, namun tidak ketemu.


Mustahil pula ia menanyakannya ke pembantu.  Pasti hal itu akan menjadi pertanyaan besar yang mencurigakan.  Terpaksa Kaisar terbaring sepanjang malam di lantai yang dingin.  Bisa dihitung berapa menit saja ia tertidur, selebihnya hanyalah merasakan dingin karena hanya beralaskan jaket miliknya tanpa selimut.


Kaisar tidak berharap Khanza akan mencarikan benda untuk menyelamatkannya dari rasa dingin.  Sebab ia tahu, mustahil seorang Khanza bersedia memberikan kepedulian terhadapnya.  Gadis batu itu hanya akan tahu hal- hal yang dapat menyenangkannya saja tanpa ia bisa peduli terhadap orang lain.


Kaisar menelepon Beno, panggilannya langsung terhubung.

__ADS_1


“Ben, bagaimana urusan yang tadi malam?  Apa kau sudah mencarikan sepasang manusia yang bisa dijadikan orang tua bohongan untukku?”


“Sudah.  Tenang saja, semua sudah kuatur,” jawab Beno di seberang dengan suaranya yang khas, cempreng dan membuat telinga tidak nyaman.


“Pak Subrata sudah mendesak untuk mengenalkannya dengan orang tuaku.  Mustahil aku mengenalkan Pak Subrata dengan orang tuaku kan?  Bisa kacau semuanya.  Bukan hanya aku saja yang kacau, tapi Jihan, orang tuaku, dan semuanya.  Bahkan perkawinan bohonganku dengan Khanza pun bisa- bisa terbongkar juga.  Maka aturlah secepatnya supaya orang tua palsuku itu diperkenalkan dengan Pak Subrata.  Kuharap sandiwara ini akan cepat berakhir ketika aku sudah tidak terbukti bersalah.”


“Ya, kau tenang saja.  Semua masalah pasti ada jalan keluarnya.”  Beno kemudian menjelaskan tentang orang tua palsu Kaisar yang dia sewa entah dari mana.  


Mulai dari nama, tempat tinggal, pekerjaan, berapa jumlah keluarga dan semuanya sudah disampaikan olehnya sehingga nanti ketika diberi pertanyaan oleh Subrata, jawaban antara Kaisar dan orang tua palsu itu akan sama, tidak ada yang janggal.


Beno bahkan mengatakan akan langsung membawa Pak Zein dan Bu Karsih menemui Subrata hari itu juga supaya masalah cepat selesai.


Mereka dijemput dan diantar oleh Beno menggunakan mobil pinjaman tetangga.  Demi Kaisar, Beno sampai rela meminjam mobil milik tetangga.  Kalau lecet, Beno berjanji akan meminta ganti rugi pada Kaisar.  Untungnya Beno mahir dalam menyetir, sehingga kekhawatirannya tidak terjadi.  


Setelah mengantar dua pasutri itu, Beno langsung pergi.  


Bagaikan orang bingung, dua pasutri itu pun plonga plongo.  Kebingungan di depan pagar tinggi.  Kaisar yang sudah mendapat kode dari Beno tentang kedatangan dua manusia itu pun segera menyambut ke luar, memperkenalkan dirinya sebagai Kaisar.

__ADS_1


Hari itu, benar- benar telah terjadi drama yang dipenuhi dengan kebohongan.  Kaisar memohon ampun dalam hati, dia sudah membuat sederet kebohongan yang bertubi- tubi.  


Beginilah jika sudah memulai segalanya dengan kebohongan, maka akan ada kebohongan- kebohongan lain untuk menutupinya. Sudah kepalang basah, maka tetap harus dilanjutkan.


“Perkenalkan kami dari Kampung Sukajadi, datang jauh- jauh untuk menjenguk besan,” ucap Pak Zein dengan logat jawanya yang sangat kental.  Ia duduk di sofa berhadapan dengan Subrata dan Marwah.


“Ya kami juga kaget kok tiba- tiba anak kami menikah ndak bilang- bilang.  Lha wong terakhir kemarin Kaisar itu masih simbel.”  Bu Karsih menyahuti.


“Singel, Bune,” timpal Pak Zein membetulkan ucapan istrinya.


“Oh ya itu maksud saya.”  Bu Karsih senyam senyum.


Subrata menatap penampilan Bu Karsih dan Pak Zein yang terlihat katrok serta jadul di matanya.  Jelas penampilan mereka bukanlah penampilan berkelas.  Dilihat dari ujung lengan bajunya yang didapati bintik- bintik hitam, serta kaus Pak Zein yang sudah kusam, juga sandal jepit harga empat puluh lima ribuan yang dilepas di depan teras, sudah cukup menunjukkan sekelas apa keberadaan mereka.


Subrata kemudian menanyai alamat rumah, pekerjaan, dan lain sebagainya seperti wartawan.  Setelah semuanya dijawab oleh Pak Zein sesuai yang dirundingkan, ekspresi Subrata tak berubah sejak awal hingga kini, culas.


“Pak Zein, saya anggap Bapak beruntung karena sudah berbesanan dengan saya.  Bahkan anak bapak sekarang memiliki istri yang kehidupannya berada.  Tapi saya perlu tekankan, bahwa bapak dan seluruh keluarga bapak tidak perlu menganggap kami sebagai bagian dari keluarga bapak.  Maksud saya, tidak perlu mengakui kami sebagai keluarga di hadapan saudara- saudaramu.  Kami malu.”  Subrata berucap tegas.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2