
“Terima kasih, Kyai. Kyai Umar sudah membantu saya.” Kaisar berkata sopan.
“Sama- sama.” Kyai Umar tersenyum. “Oh ya Kaisar, bagaimana pernikahanmu dengan Khanza? Kalian menikah atas dasar pemfitnahan, apakah kamu ridha dengan pernikahan itu?”
“Ya. Semuanya sudah berjalan semestinya. Tidak ada yang perlu dibatalkan. Semuanya sudah terjadi dan aku mencintai apa yang sudah Tuhan tetapkan kepadaku." Kaisar tampak ridha.
“Bagus! Saya suka jawaban kamu. Apa pun yang terjadi, ini sudah jalan Tuhan. Bahkan daun gugur pun tidak luput dari kehendak Tuhan.”
Kaisar mengangguk.
“Manusia memang diminta untuk memilih jodoh yang baik, tapi jika jalan Tuhan menjodohkanmu dengan wanita pembunuh sekali pun, maka sudah menjadi kewajibanmu mengarahkannya kepada hal yang baik.” Senyum Kyai Umar tercetak lebar.
“Ini amanah dan aku memang harus melaluinya.”
“Dan satu lagi, ini mengenai keturunan, orang saleh itu tidak perlu khawatir anak kita akan menjadi apa. Semua dijamin Tuhan secara materi maupun pendidikan. Asal kamu sendiri salih. Insyaa Allah, anak- anakmu dididik menjadi orang baik. Allah yang akan memaklumatkan diri- Nya untuk mengurusi orang salih.”
Luar biasa! Nasihat yang menyejukkan jiwa.
“Ya sudah, saya masuk dulu.” Kyai Umar berpamitan untuk kemudian memasuki rumah.
Tatapan Kaisar kemudian terarah kepada Ganda. "Ganda, di balik peristiwa besar ini, kau sudah memberi jalan lebar untukku mendapatkan jodohku. Meski jalan yang kau buka itu melalui jalan yang buruk, tapi nyatanya jodohku sudah terjadi dan itu adalah Khanza. Di balik masalah ini, aku berterima kasih karena kau memberiku peluang untukku mendapatkan hikmah besar."
"Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi sepertinya kejadian ini memberi tamparan keras untukku." Ganda menepuk pundak Kaisar dua kali. "Aku berterima kasih atas maaf yang kau berikan." Ganda kemudian melangkah pergi. Rumahnya tak jauh dari sana, ia hanya butuh melangkah beberapa meter saja untuk sampai ke rumah.
__ADS_1
"Aku beruntung tidak ikut-ikutan iri dan tidak terlibat dalam kasus ini, jadi aku masih bisa memiliki pekerjaan yang bagus. He heee..." Beno terkekeh. "Salam ya untukmu. Aku cabut duluan. Ini kunci mobilmu." Beno menyerahkan kunci mobil kemudian berlalu pergi sambil bersiul.
"Ehm..." Subrata berdehem kecil. Ia menatap Kaisar kemudian berkata, “Kau bilang bahwa kau menerima pernikahanmu itu. Tapi bukankah kenyataannya kau sudah menceraikan istrimu? Kenapa kau menceraikan Khanza?”
“Ya, benar. Aku memang menceraikan Khanza. Aku sudah menjatuhkan talak.”
“Lalu apa maksudmu mengatakan pada Kyai Umar bahwa kau menerima pernikahanmu itu? apa ini hanya sekedar alasanmu untuk mencari muka di hadapan Kyai Umar?”
Kaisar mengulas senyum tipis. “Muka saya di sini, Pak. Jadi saya tidak akan mencari- cari muka lagi. He heee…”
“Apa pun ceritanya, sebagai seorang ayah, aku minta pertanggung jawaban darimu. Setelah kau menikahi anakku, kau menceraikannya begitu saja. Maka kau harus mengganti rugi atas status janda yang dia terima. Seharusnya anakku masih berstatus gadis dan terlihat baik di mata semua lelaki, tapi semenjak statusnya kau rusak, tentu dia merasa dirugikan.”
“Jadi ini masih mengenai uang?”
“Saya tidak akan berikan.”
Subrata tertegun. Kaisar malah terlihat sedang memenangkan situasi, tegas sekali mengatakan bahwa ia tidak mau memberikan uang.
“Uang akan lebih bermanfaat saat digunakan untuk hal- hal jelas manfaatnya, tapi jika untuk alasan ganti rugi mengatas namakan status anak, aku tidak bisa berikan.” Kaisar melenggang pergi. Meninggalkan Subrata yang mendengus kesal.
Baru saja Kaisar memegang handle pintu mobil, namun urung membukanya ketika Subrata muncul kembali.
“Kaisar, bisakah kita bicara baik- baik?” tanya Subrata.
__ADS_1
“Ya. Tentu. Bicara soal apa?”
“Masih mengenai Khanza.”
“Baik. Silakan!” Kaisar terlihat sopan meski ia sebenarnya sudah jengah mendengar pembicaraan yang tak lepas dari seputaran uang.
“Aku mohon, kembalilah pada Khanza. Dia membutuhkanmu. Jangan biarkan Khanza sendiri menanggung beban hidupnya. Dia butuh seorang suami soleh sepertimu.”
Lagi, senyum di wajah Kaisar makin lebar. “Maksudnya rujuk?”
“Nah iya itu. Rujuk. Kalian itu masih muda. Masa depan masih panjang. Jangan sia- siakan itu. Jangan buang waktu dengan mencari hal hal baru dan mencari pasangan baru pula.”
“Terima kasih atas sarannya. Aku terima dengan sangat baik. Tapi untuk hal itu, ketetapanku sudah bulat. Dan aku tidak akan mengubahnya.”
“Jadi kau tidak mau kembali pada Khanza?”
“Apa pun keputusanku saat ini, itulah yang aku pegang. Apakah Khanza sekarang ada di rumah?”
“Oh ya, tadi dia di rumah. Dia tidak mau saat aku ajak kemari untuk pertemuan ini. Andai saja dia ada di sini, pasti dia akan menyaksikan nama baiknya dibersihkan. Ayo, temuilah dia!”
Kaisar tersenyum tipis. “Aku permisi!”
Subrata tak dapat berkata- kata lagi ketika Kaisar memasuki mobil dan berlalu meninggalkannya.
__ADS_1
***