
Zada mengernyit. “Kamu menanyakan Khanza?”
“Ya. Apa itu salah?”
“Oh tidak. Aku mendengar dari Khanza bahwa kamu sudah bercerai dengannya. Dan kalian sudah bukan suami istri lagi bukan?”
Kaisar menghela napas. “Talak itu memang sudah jatuh. Tapi masih ada istilah rujuk.”
“Oh… kamu mau rujuk dengannya?” Zada mengangkat alis.
“Apakah kamu tahu dia dimana sekarang? Kamu teman dekatnya, sedikit banyaknya kamu pasti tahu keberadaannya. Dan jika kamu tahu dia dimana, aku minta tolong pertemukan aku dengannya.”
“Oh Tuhan… aku baru saja bingung harus senang atau sedih atas perpisahan Khanza denganmu. Aku sedih karena kebahagiaan sahabatku musnah, tapi aku senang karena ada kesempatan untuk mendapatkan bos tampan nan mapan sepertimu. He heee…” Zada menggaruk hidungnya yang kecil.
Kaisar hanya bisa terdiam mendengar kata- kata itu.
“Becanda. Beneran juga tidak apa sih.” Lagi- lagi Zada menyeletuk. “Baiklah, kamu tadi ingin bertemu dengan Khanza melalui perantara aku kan?”
“Ya.” Kaisar mengangguk. “Apakah Khanza ada di rumahnya sekarang?”
“Tidak. Dia jarang di rumah. Seperti biasa, dia suka kelayapan, sama sepertiku. Kami bosan jika harus menghabiskan waktu di rumah dengan duduk diam.”
Tanpa penjelasan Zada, Kaisar pun sudah mengenal Khanza, gadis bar- bar yang hobi keluyuran dan tidak betahan berdiam di rumah. Tempat- tempat yang dituju pun merupakan tempat- tempat untuk bersenang- sennag yang tidak memunculkan sedikit pun manfaat.
__ADS_1
“Lalu? Dimana dia?” tanya Kaisar.
“Tadi dia bersamaku di kafe, kemudian dia ke club malam.”
Terdengar helaan napas berat yang keluar dari mulut Kaisar. Ia mengusap wajah. “Tunjukkan aku tempatnya.”
“Okey. Apa mau boncengan motor bersamaku?” Zada terkekeh.
“Tidak. Aku naik mobil saja mengikutimu.”
Mereka meluncur menuju club yang ditunjukkan oleh Zada.
“Apa aku perlu ikut masuk?” tanya Zada saat sudah sampai di club.
“Tidak. Aku akan masuk sendiri.”
"Makasih sudah mengantarku." Kaisar tak peduli dengan ucapan Zada, ia segera melangkah memasuki club. Begitu masuk, ia langsung disambut dengan suasana yang tak pernah ia temui selama ini. Situasi seperti yang dia lihat sama sekali tak pernah dia kunjungi. Tempat itu bukanlah tempat kesukaannya, dimana para lelaki dan perempuan berbaur, berjoget, saling rangkul.
Asap rokok bertaburan di udara, minuman keras menjadi tenggakan pengunjung, dentuman musik membuat jantung berdetak tak nyaman.ruangan dengan lampu kedap kedip itu seakan dipadati manusia.
“Minum, Bang!” Seorang wanita menawari Kaisar minum berwarna kekuningan. Tampilannya yang nyaris seperti hendak mandi karena seperti kekurangan bahan pakaian itu membuat Kaisar menggeleng cepat. Wanita seperti itu pasti akan langsung menggeliat hebat jika ditanggapi lebih.
Kaisar melewati para penikmat minuman, terus berjalan hingga berdiri nyender di dinding. Ia menolak saat bartender menawarinya minum dengan melambaikan tangan. Pandangannya mengedar mencari sosok yang tak asing, hanya Khanza. Tapi sampai kini ia belum menemukan wajah wanita itu. Ia sudah berharap bisa menarik wanita itu keluar dari tempat itu, membawanya pergi meninggalkan lokasi yang penuh dengan maksiat.
__ADS_1
Ah, sayangnya ia sudah tidak punya hak untuk itu, ia bukan suami Khanza lagi.
Pikiran Kaisar masih berkelebatan ketika ia menemukan sosok yang dicari, Khanza.
Wanita dengan tank top hitam dipadu rok mini itu duduk menyilangkan kaki, sesekali meneguk minuman. Dia tampak sudah terbiasa dengan kegiatan itu, hingga ia tak perlu merasa kesulitan saat menelan.
Khanza tampak menyendiri. Tak seorang pun menemaninya. Wanita itu tampak beberapa kali menolak ketika beberapa pria menawarkan untuk berkenalan.
Perhatian Khanza tertuju pada seorang wanita yang duduk tak jauh darinya. Wanita itu tampak angkuh dengan mencaci maki bartender yang menyuguhkan minuman beberapa kali dan dianggap salah. Mulai dari jenis minuman yang salah bawa, minuman yang sedikit tumpah, bahkan dia juga mita sedikit es dan gula hanya supaya bartender bolak balik melayaninya alias sekedar mempermalukannya di depan banyak orang.
Wanita berambut ikal itu bahkan menghina bartender. Seperrinya perbuatan itu merupakan hobi. Melihat orang yang dia anggap ada di bawahnya tertindas adalah pemandangan indah baginya.
Khanza menarik lengan bartender. “Sudah! Pergilah sana!”
Bartender mengangguk dan pergi.
Melihat Khanza yang ikut campur, wanita berambut ikal menatap sinis ke arah Khanza, namun ia tak berani melawan Khanza. Dia paham bahwa Khanza adalah wanita yang sering mangkal di sana, bahkan bar- bar. Bisa- bisa ia dijambak- jambak dan malah dipermalukan di depan banyak orang jika melawan Khanza.
“I’m surprised! Suka nggak habis pikir sama mature citizens, yang suka kepo, embarrassing them in public over mistakes like asking for less ice or sugar. You might think that it’s a big deal, but they’re humans who make mistakes as well. Is it worth it?” Khanza berucap agak keras, membuat wanita berambut ikal memalingkan wajah sebal.
Wanita itu tidak membalas ucapan Khanza.
Khanza pun berpikir, apakah wanita itu tak mengerti maksud dari ucapannya? Bukankah sosok yang angkuh itu biasanya selalu memiliki level yang tinggi? Tentu bahasa Inggris pun mereka pahami? Tapi sepertinya dugaan Khanza salah, sebab lawannya itu lulusan SD yang tidak memahami bahasa Inggris.
__ADS_1
“Kamu mungkin berpikir bahwa tadi itu masalah besar, tetapi mereka juga manusia yang bisa saja membuat kesalahan. Apakah perbuatanmu itu tadi pantas? Kamu lakukan itu tanpa alasan,” imbuh Khanza kemudian kembali minum. Entah kenapa ia jadi gabut begini, ingin ikut campur saja dengan urusan orang lain, sampai- sampai sok jadi pahlawan membela si bartender. Hal ini tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
Bersambung