Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Salah Wali


__ADS_3

"Aku benar- benar capek berurusan denganmu. Lalu sampai dimana usahamu mencari bukti bahwa kamu tidak bersalah dalam kasus penggerebekan itu? Mana bukti yang kamu temukan? Sampai detik ini, kamu hanya diam dan terus saja membuat hidupku susah, barusan malah hampir menyulitkan usaha ayahku juga," ketus Khanza berapi- api.


Kaisar tetap diam. Dadanya terasa panas mendengar ocehan Khanza. Ingin menyela namun ditahan, sebab ia tahu perkataannya pasti akan sangat kasar mengingat emosinya sudah memuncak. Gadis di sisinya itu cerewet sekali. Kata- katanya pun kasar dan tak sopan.


"Aku sedang bicara denganmu. Apa kamu tuli?" kesal Khanza yang merasa dicuekin.


"Diamlah, Khanza! Jika kamu terus bicara, aku tidak menjamin bahwa kamu akan selamat dari tangan ini!" Kaisar mengepalkan tangannya. Ia sudah sangat pusing dengan nama baiknya yang tak kunjung membaik, ditambah perilaku Khanza yang menambah emosinya saja.


"Silakan kalau mau pukul, pecundang! Hidupmu memang tidak berguna. Apa- apa tidak bisa. Bisanya hanya menyusahkan dan menyakiti perempuan! Memalukan!"


Mendengar perkataan kasar itu, Kaisar menatap tajam mata Khanza yang juga dalam keadaan membelalak tajam.  Untungnya Kaisar hanyalah sebagai suami pura- pura bagi Khanza, jika saja ia sungguhan menjadi suami Khanza, maka tak terbayangkan bagaimana menghadapi istri pembangkang dan penentang seperti Khanza. 


“Aku mau turun!  Berhenti!” titah Khanza pada supir taksi.


Supir taksi melirik ke arah Kaisar seperti sedang meminta pendapat.  Sebab Kaisar dianggap sebagai suami yang berhak menentukan keputusan.


“Berhenti, Pak!  Biarkan dia turun!” tegas Kaisar membuat supir mengangguk dan menghentikan mobil ke tepi jalan.


Khanza menyentak pintu dan turun.  Ia benar- benar terlihat frustasi sekali.  Jika ia terus- terusan tinggal bersama dengan Kaisar, mungkin ia bisa menjadi gila.  Mereka tidak sependapat, tidak sejalan dan tidak sepemikiran.


Dan satu lagi, Khanza sejak awal sangat muak pada Kaisar karena beranggapan bahwa Kaisar sudah menipu hidupnya, membawanya menjadi sengsara seperti sekarang ini.  


Kaisar juga ikut turun, pria itu memutari mobil, berdiri di hadapan Khanza.  “Sekarang apa maumu?”

__ADS_1


“Aku mau tinggal di rumah lain saja. Aku tidak mau tinggal serumah denganmu.”


“Bagus!  Lakukanlah!  Angkat semua barang- barangmu dari rumahku.  Semua itu membuat rumahku dipenuhi dengan sampah!”  Kaisar sebenarnya tak ingin mengatakan hal itu, karena rasanya ia tak ada bedanya dengan Khanza saat harus berucap kata- kata kasar.  Namun emosinya sudah naik, hingga ia terpaksa harus mengotori lidahnya dengan kata- kata tadi.  


Kaisar menghela napas, menyesali perkataannya sembari mengusap wajah kasar.  Ternyata begitu sulit mengontrol emosi, apa lagi saat menghadapi gadis bar- bar seperti Khanza.


Tiba- tiba dua buah kendaraan roda dua berhenti menghampiri Kaisar.  Penunggangnya tak lain Beno yang berboncengan dengan seorang pria asing, motor lainnya ditunggangi oleh Ganda.


“Hei hei, ada apa ini?  Di pinggir jalan begini kok berantem?” Beno melompat turun dari atas motor dan menjauhkan tubuh Kaisar dari Khanza supaya berjarak dengan sekali dorong.  Dari kejauhan, Beno tadi menyaksikan Kaisar dan Khanza berbicara dengan otot, bersitegang.


“Ayolah, kalian kenapa bertengkar?”  Ganda menatap prihatin.  Ikut menghampiri dan merangkul pundak Kaisar.  “Minimal kalau berantem jangan di jalanan beginilah.  Berantem di kamar kan lebih asik.  He heee.”  Ganda nyengir kuda.


“Aku tidak punya urusan dengan dia lagi.  Hanya lelaki tol*l yang berani kurang aj*r sama perempuan!” ketus Khanza dengan tatapan muak sekali, menunjuk- nunjuk Kaisar.


Kaisar menatap sosok pria yang disebut sebagai wali palsu oleh Beno.  Pria berusia sekitar empat puluh tahun itu mengangguk dengan senyum lebar.  Sudah tidak ada lagi kumis tebal di atas bibirnya.


“Maksudmu itu wali palsu yang kamu sewa untuk menikahkan ku?”  Kaisar ingin memastikan sembari menunjuk pria yang dimaksud.


“Iya.  Dia mau kubawa ke rumahmu untuk membahas perihal jasa sewa yang katanya kurang dan tidak sesuai dengan kesepakatan.  Kemarin kan kita sudah bahas bahwa bayaran sebagai wali palsu adalah tujuh ratus ribu.  Dan aku juga sudah berikan uangnya ke Pak Rokhim pas acara nikahanmu itu.  lah ini katanya malah kurang, makanya mau kubawa ke rumahmu,” ungkap Beno.


Kaisar sontak terkesiap, menatap wajah si wali hakim yang dimaksud Beno.  Loh, kenapa wajahnya berbeda dengan wali yang menikahkannya dulu?  Tubuh pria itu kurus, tinggi dan kulit sawo matang.  Sedangkan wali yang menikahkannya waktu itu ukuran tubuhnya tidak begitu tinggi, gemuk dengan perut buncit dan kulitnya putih.  Satu lagi, kumisnya tebal.  Jelas mereka adalah dua orang yang berbeda.


“Beno!  Dia bukan orang yang menikahkan aku!” Kaisar mulai resah.

__ADS_1


Demikian juga Khanza yang langsung merasa cemas menyimak pembicaraan mereka.


Beno terkejut.  “Ma maksudmu bagaimana ini?”


“Aku tidak dinikahkan oleh bapak suruhanmu ini,” tegas Kaisar menunjuk bapak itu.


“Benar, saya tidak menikahkan mas ganteng dan mbak cantik ini kok waktu itu.”  Pria berkaos putih dengan tubuh kurus itu menyahuti. 


“Loh?”  Beno dan Ganda bertukar pandang. 


“Jadi Bapak menikahkan siapa?” tanya Ganda tercekat. 


“Ya itu loh, yang alamatnya di komplek Cendrawasih.”  Bapak itu menjelaskan.


“Memang benar nikahannya Kaisar dan Khanza di Cendrawasih.”  Beno berpikir sejenak.  Mengingat- ingat bahwa acara pernikahan di Cendrawasih saat itu memang ada dua tempat.  “Jangan- jangan bapak malah salah menghadiri acara pernikahan?”


Kaisar dan Khanza terlihat frustasi dalam hitungan detik.  Ekspresi wajah mereka langsung berubah tegang.  


“Iya, berarti saya menghadiri acara pernikahan di tempat lain, bukan acara nikahan di tempat Mas ini.  Tapi waktu itu saya telat datang dan pengantinnya sudah menikah.” 


“Lalu siapa yang menikahkanku waktu itu?”  Kaisar benar- benar resah sekarang.  Menatap Beno dengan tatapan gundah.


“Artinya wali yang menikahkan mu waktu itu adalah wali hakim sungguhan.”  Beno pun menjadi tegang.  “Berarti pernikahan kalian sah.”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2