Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Disekap


__ADS_3

"Lepaskan aku! Kalian mau apakan aku? Tolong jangan culik aku! Kalian boleh ambil apa pun dariku. Hp, uang, perhiasan, atau apa saja dariku. Tapi jangan sakiti aku! Tolong!" Khanza memberontak sambil setengah memohon.


Suara Khanza yang berisik membuat para pria itu tampak emosi. Mata mereka tampak sangat tajam penuh ancaman.


Sementara supir tampak konsentrasi menyetir. Tak berkomentar.


"Diam!" bentak si pria bertato ular dengan sorot mata membunuh.


"Tidak! Aku tidak mau ikut dengan kalian. Aku mau pergi. Lepaskan aku!"


Mendengar Khanza yang terus memberontak dan berisik, pria bertato kemudian membungkam mulut Khanza dengan tangan besarnya.


"Akan kubuat kau mati tidak bernapas kalau terus memberontak! Diam!" hardik pria itu sadis. 


Khanza mulai takut dengan ancaman pria itu. Membayangkan betapa mengerikan masa depannya, entah apa yang akan terjadi setelah ini.


***


Di kursi kusam itu, Khanza sudah dalam keadaan kedua tangan disatukan dan diikat ke belakang, tubuhnya duduk di kursi dengan kedua kaki yang juga disatukan dan diikat. 

__ADS_1


Pergelangan tangannya sakit sekali, pergelangan kaki pun juga nyeri. Ikatan di tangan dan kaki terlalu kuat. Ternyata di dunia fakt,a saat disandera tidak seindah di sinetron-sinetron yang bila diikat tangan dan kaki tidak meninggalkan bekas apa pun karena ikatannya kendur, tapi pada kehidupan nyata, Khanza merasakan sakit yang luar biasa dengan ikatan yang kuat itu.


Mulutnya pun diikat menggunakan kain setelah didalamnya ditutup lakban hitam.


Mampus!  Setelah ini mungkinkah Khanza akan dibantai?  Lalu organ tubuhnya dijual seperti yang ditawarkan di situs gelap itu?  Atau mungkinkah ia malah akan dijual kepada pria hidung belang?  


Oh Tuhan, bagaimana nasib Khanza sekarang?  Plis, bantu Khanza.


Kreeek!


Pintu terbuka.  Suaranya berderit menyakitkan jantung, seperti rumah tua di film- film horor.  Khanza menangis tersedu, air matanya menitik.  Suara tangisnya tak bisa keluar karena mulutnya tertutup kuat.  Ia sebenarnya sangat ingin tahu siapa yang masuk, tapi posisinya yang duduk membelakangi pintu membuatnya tak bisa melihat ke sumber suara.


Terdengar langkah kaki semakin mendekat.


Jantung Khanza pun semakin deg- degan.  Tubuhnya berjingkat saat pundaknya disentuh.  Kemudian sebuah tangan lain memegang tali yang mengikat di bagian dadanya.


Khanza menyentak- nyentakkan kaki dan menggerak- gerakkan badannya sebisa mungkin, meski jelas ia tak bisa berbuat apa- apa kecuali diam di tempat.


“Diam!  Ini aku!” bisik pria yang jongkok di hadapan Khanza.  Kemudian dia membuka penutup wajah dengan cara menurunkannya ke bawah sampai ke dagu.  Kaisar.

__ADS_1


Mata Khanza membelalak.  Akhirnya penyelamat datang.  Lega sekali.


Kaisar kembali menutup separuh wajahnya dengan kain penutup.  Kemudian ia bergerak cepat melepas ikatan kain di mulut Khanza, lalu melepas lakban dengan sekali tarik.


“Awh!”  Khanza menjerit kecil.  “Bisakah melepas dengan pelan?  Sakit!” Mata Khanza membelalak kejam.


“Aku sedang terburu- buru.  Jangan berisik!  Atau kamu mau kita ketahuan?”  Kaisar menatap penuh ancaman.  Dia tadi mengikuti mobil yang dinaiki Khanza dengan penuh kehati- hatian supaya mobil itu tidak lepas dari jangkauan matanya, juga supaya ia tidak ketahuan sedang ngintilin.


Khanza tak peduli dengan perkataan Kaisar.  Ia sedang menikmati rasa sakit di sekitar mulutnya akibat tarikan tangan Kaisar yang begitu keras saat melepas lakban.


“Hei, jangan pegang itu!” bisik Khanza saat merasakan punggung tangan Kaisar yang tengah melepas ikatan di badan Khanza menyenggol dadanya.


Kaisar melepas napas berat mendengar protesan Khanza.  Ia juga tidak berniat begitu, semua terjadi hanya karena tidak sengaja.  


Selama Kaisar melepas tali di badannya, Khanza menahan napas.  Menyusul ikatan di tangan yang dilepas.  Terakhir ikatan di kaki.


Bersambung


Klik like ya

__ADS_1


__ADS_2