Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Terbongkar


__ADS_3

Entah bagaimana, ruangan luas yang dihuni lautan manusia, mendadak hening, tanpa suara.  Sejurus pandangan tertuju ke arah Kaisar dan Subrata.


“Kaisar, kau sudah menikahi putriku, Khanza.  Lalu bagaimana pula kau bisa bertunangan dengan wanita ini?”  Subrata berjalan mendekati Kaisar sembari menunjuk- nunjuk Nana yang berdiri di sisi Kaisar.


Dengan wajah yang bingung namun masih tetap tampan, Kaisar bertanya- tanya kenapa Subrata bisa sampai di sana dan mengacaukan segalanya?


Tak hanya Kaisar saja yang mendapat tatapan penuh tanya, namun Khanza juga menjadi pusat perhatian semua orang.  Tiba- tiba saja ia ingin buang air kecil jika sudah begini.  


“Siapa kau?  bisa- bisanya menuduh putraku menikahi putrimu?” tanya Calvin dengan emosi.  Belum kelar satu masalah, malah muncul masalah baru lagi.


“Kaisar adalah menantuku.  Dia sudah menikahi putriku.  Itu dia!  Bahkan putriku pun menyaksikan pertunangan suaminya dengan wnaita lain.  Apa- apaan ini?  Bagaimana semua bisa segila ini?”  Subrata menunjuk Khanza yang mendadak wajahnya jadi memerah.


“Tidak.  Ini pasti tidak benar.  Wanita itu pegawaimu, bukan?” Calvin menunjuk Khanza, yang dia ketahui bahwa sekelompok orang yang ada di bagian karpet hijau itu adalah serombongan pegawai Kaisar. “Katakan, Kaisar!  Semua ini tidak benar kan?  Ucapan pria ini tidak benar kan?”  Kali ini Calvin menunjuk Subrata.


“Semua yang dikatakan Pak Subrata benar,” jawab Kaisar.  Memangnya Kaisar harus berkata apa?  Memang semua yang diucapkan Subrata adalah benar.


Raut merah langsung menyemburat di wajah Calvin.  Dia benar- benar emosi.


“Sudah!  Semuanya batal.”  Ibunya Nana melepas cincin di jemari manis Nana, kemudian Nana dan kedua orang tuanya berlalu meninggalkan gedung dengan raut kesal.


“Keterlaluan!  Kaisar, kau menikah tanpa sepengetahuanku, hm?”  Calvin emosi bukan kepalang.  Dia pergi membawa kekesalan yang luar biasa.


“Dan kamu Kaisar, bagaimana pertanggung jawabanmu terhadap istrimu?  Kau bawa putriku kemari hanya untuk kau suruh menyaksikan pertunanganmu dengan wanita lain.  Kau ini benar- benar keterlaluan.”  Subrata kesal bukan main.

__ADS_1


Security tiba- tiba berdatangan, mereka mencekal lengan Subrata.


“Hei, kalian kenapa memegangku begini?” Subrata menghardik para security.


“Kami hanya menjalankan perintah.  Anda sudah membuat kekacauan di sini, juga membahayakan Pak Kaisar!” Security menggeret Subrata.


“Hei, Kaisar!  Jangan biarkan para security ini menyeretu keluar!  Lakukan sesuatu!”  Subrata memohon.


Kaisar membiarkan saja tanpa memberikan perintah apa pun untuk membuat security itu melepaskan Subrata.


Sesampainya di luar, Subrata langsung didorong menjauh dari pintu kaca.


“Silakan bapak pergi dari sini!  Anda sudah mengancam keselamatan Pak Kaisar selaku direktur yang menyewa gedung ini!” ungkap security.


“Ayah kenapa kemari?” tanya Khanza.  “Siapa yang memberitahukan ayah tentang ini?”


“Khanza, jangan bertanya apa pun pada ayah selagi kamu belum berikan penjelasan kepada ayah tentang apa yang sudah terjadi.  Kenapa kau menghadiri pertunangan suamimu dnegan wanita lain?  Kenapa?  Kau merelakan suamimu karena dia sebenarnya adalah seorang milyarder yang kini menginjak- injak harga dirimu?”


“Bukankah itu yang dulu kita lakukan pada Kaisar?  Dan sekarang semuanya berbalik.  Tapi aku sadar Kaisar tidak pernah punya niat melakukan itu.  ayah salah paham dengan pemikiran itu.  Memang akulah yang ingin kami berpisah,” jawab Khanza membela nama suaminya.


“Kenapa kau harus berpisah darinya?  Apa kau mau menjadi janda?”


“Kalau memang itu sudah takdirku, kenapa tidak?”

__ADS_1


“Itu bukan takdir, tapi pilihan yang salah.  Kau harus pertahankan Kaisar.  Dia itu orang kaya, dia direktur yang tentunya punya banyak uang.”


Khanza tertegun dan hanya bisa terdiam.  Pemikiran Subrata sama persis seperti pemikiran Khanza dulu, bahwa kebahagiaan dan kehormatan hanya bisa diukur dengan uang.  Tapi kenyataannya tidak, sekarang Khanza sudah menemukan cinta sejati, yang tak bisa diukur dengan uang, tapi ketulusan.  Dan ketulusan itu tak perlu dibalas.  Cukup diberikan tanpa tuntutan.


Tak masalah bagi Khanza jika memang Kaisar memilih wanita lain.  Baginya, merasakan dan menyalurkan cintanya kepada Kaisar tidak perlu dibalas dengan apa pun.  Sejak awal ia memang terlihat sebagai wanita materialistis di mata Kaisar.  Maka hanya ketulusan yang dapat menjawab segalanya.


“Khanza, lakukan sesuatu!  Jangan diam dan jangan biarkan suamimu direbut wanita lain.  Kau harus berjuang!” seru Subrata berapi- api.  “Dia menguntungkan bagimu.”


“Ayah, kalau pun aku berjuang untuk mempertahankan kaisar, bukan karena dia menguntungkan.  Berhentilah berpikir demikian.  Dan biarkan aku menyelesaikan masalahku!  Ayah lebih baik pulang!”


“Tidak.  Kau harus tunjukkan padaku bahwa kau tidak melepaskan Kaisar.”


“Ayah bisa diusir security sampai ke jalan kalau begini.  Lebih baik ayah pulang dulu.  Aku berjanji akan kabarin ayah tentang ini.”


Api di wajah Subrata mulai berkurang.  Ia melirik dua security bersergaam hitam yang memantaunya dengan sorot mata tajam.


“Ya sudah, ayah pulang.  Tapi ingat, jangan sampai bercerai dari kaisar.  Dia sumber dana!  Kalau tahu sejak awal dia itu sekaya ini, mana mungkin aku akan perlakukan dia dengan buruk.  Pantas saja dia dengan mudah menyediakan uang tiga ratus juta, rupanya dia jutawan.”  Subrata kemudian melangkah pergi.


Khanza melepas napas panjang melihat kepergian ayahnya.  Tepat saat ia hendak melangkah turun dari teras gedung, tubuh tegap sosok pria menghadang di depan.  


Khanza mengangkat wajah, menatap wajah tampan Kaisar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2