
“Bu, Khanza, mari ikut saya!” Seorang pria berseragam menghampiri Khanza.
Sebenarnya Khanza sudah tidak punya tenaga lagi untuk berjalan, namun ia tetap melangkah mengikuti pria berseragam.
Mereka duduk berhadapan.
“Pak, tolong temukan dimana jasad suami saya. Rama mengatakan bahwa jasad suami saya dimasukkan ke dalam karung dan dibuang ke sungai.” Khanza panik bukan main.
“Tim kami sedang bekerja mengusut masalah itu. Suami Anda masih dalam pencarian. Kami sudah mengerahkan tim SAR dan relawan yang menyisir sungai. Sejauh ini, kami belum menemukannya. Harap bersabar untuk menunggu informasi selanjutnya. Kami akan menghubungi Anda untuk informasi selanjutnya. Berdoalah, semoga semuanya baik- baik saja dan suami Anda ditemukan dalam keadaan selamat.”
Masih bisakah Khanza berharap bahwa suaminya dalam keadaan selamat sementara sejak ditusuk dan dimasukkan ke dalam karung, kemudian dibuang ke sungai, sampai kini Kaisar masih juga belum ditemukan.
__ADS_1
Khanza pulang ke rumah dalam keadaan lemas, hampir separuh nyawanya terbang. Khanza berbaring di kasur dengan wajah dibasuh air mata. Menangis, meringkuk dengan posisi tubuh membungkuk seperti busur panah.
Baru saja ia merasa bahagia, baru saja ia mendapatkan kembali cintanya, namun kebahagiaan itu harus lenyap begitu saja.
Haruskah kisah hidupnya persis seperti pemberitaan di televisi yang hampir setiap hari menyiarkan tentang kejahatan dan kriminal? Tak jarang pemberitaan di televisi menayangkan kasus pembunuhan ayah pada anaknya dengan cara memukul menggunakan palu, teman menikam teman dnegan pisau hingga tewas, tetangga membacok tetangga, dan masih banyak lagi kasus mengerikan yang kerap disiarkan di televisi. Siapa sangka kasus yang sama menimpa Kaisar?
Khanza sungguh terpukul, disaat ia merasa kesal pada Kaisar, ia marah pada suaminya itu, justru disaat kemarahannya itulah suaminya tengah meregang nyawa, suaminya tengah mempertaruhkan hidup dan matinya. Andai ia tahu suaminya berada dalam keadaan itu, tentu Khanza tidak akan merasa kesal waktu itu.
Khanza mengelus alas kasur di sebelahnya, seharusnya Kaisar ada di sampingnya sekarang ini. Tangis Khanza pecah. Sesakit inikah kehilangan orang yang dia cintai? Bahkan ia tak tahu apakah ia sudah benar- benar kehilangan atau masih ada harapan untuk dapat kembali memeluk raga suaminya.
Suara Calvin terdengar keras, pria itu sudah berdiri di pintu dengan tangan memegangi gagang pintu. Wajahnya tampak sedih. Ia langsung terbang ke Indonesia setelah mendapat kabar buruk mengenai putranya.
__ADS_1
Khanza yang terlihat sembab itu bangkit duduk. Ia menatap sayu mertuanya. Kemudian berucap lirih, “Pa.”
Detik berikutnya, ia tak mampu bicara lagi. Terisak- isak, lehernya pun tercekat.
Calvin melangkah masuk. Ia mengusap pucuk kerudung menantunya dengan pandangan sedih. “Sudah! Jangan bicara apa pun! Jangan!”
Calvin tak mau Khanza mengungkapkan apa pun jika itu akan membuat dadanya semakin sesak. Calvin mengerti apa yang ingin disampaikan menantunya. Tak lain kesedihannya. Tapi Calvin sudah bisa membaca semua itu dari wajah dan tangisannya.
Sebenarnya Calvin sejak awal kurang menyukai Khanza, mengingat Khanza bukanlah wanita yang dia harapkan untuk menjadi pendamping hidup putranya. Namun sekarang dia melihat perubahan Khanza, sehingga hatinya terbuka untuk dapat menerima menantunya. Kesedihan Khanza sama seperti yang dia rasakan, yaitu merasa kehilangan.
Calvin kemudian keluar dari kamar dengan langkah lesu, ekspresi yang sama seperti saat ia masuk. Tak ada sepatah kata pun yang pria itu ucapkan. Namun Khanza sudah cukup memahami apa yang ada di pikiran mertuanya. Mereka sama- sama merasa panik, gundah dan sedih.
__ADS_1
***
Bersambung