
Khanza ke mall membeli beberapa keperluan perlengkapan mandi bersama dengan Zelin dan Zada. Mereka sudah janjian sebelumnya. Setelah itu, Khanza menemani Zelin membeli perhiasan di toko.
“Ini bagus apa tidak?” Zelin menunjuk sebuah kalung.
“Bagus. Cocok sekali dengan warna rambutmu. Aku juga menginginkan perhiasan itu.” Khanza hanya bisa bicara dengan pandangan berangan- angan.
“Minta saja sama suamimu. Hihihiiii…” Zelin terlihat puas tertawa.
Zada menyenggol lengan Zelin dnegan pundaknya. “Pst, jangan begitu! Kasian Khanza, suaminya pasti tidak punya uang untuk hal- hal begini.” Zada menatap Khanza prihatin.
“Kamu kan bisa minta sama ayahmu, Khanza.” Zelin tersenyum, tak terpengaruh oleh perkataan Zada.
“Apa aku masih bisa minta uang ke ayahku disaat aku sudah menikah begini?” celetuk Khanza dengan raut berpikir.
“Hei, kamu itu seorang anak, hubungan ayah dan anak tidak akan putus. Ayahmu pasti juga punya uang banyak kan? Mana mungkin dia tidak mau memberikan uang kepadamu? Untuk apa uang ayahmu yang banyak itu kalau bukan untuk anak?”
Khanza terpekur dalam diam, memikirkan betapa enaknya kehidupan Zelin dan Zada yang terlihat bebas dan menyenangkan. Hidup mereka tidak sulit. Mau apa saja tinggal meminta kepada orang tua. Sedangkan Khanza? Malah hidup belangsatan begini. Mau belanja susah, beli makanan enak yang harganya mahal pun juga sulit. Keuangan tidak memungkinkan.
Hidup Khanza benar- benar sulit sekarang. Kebebasannya pun runtuh. Dalam hati, ia memaki Kaisar. Nama itu sempurna telah menghancurkan mimpi- mimpinya.
Bahkan tadi juga Khanza hanya bisa berbelanja sabun mandi cair dan pepsoden saja. Ia ingin membeli parfum, bedak dan lipstick seperti yang dibeli oleh Zelin dan Zada. Tapi apa oleh buat. Keuangannya benar- benar tipis. Ia pergi dari rumah tanpa membawa uang.
Maka Khanza harus berhemat mengingat keuangannya sangat menipis. Ia harus membagi untuk ongkos naik taksi, biaya perawatan, dan lains ebagainya. Hidupnya tidak semudah dulu.
Huh, kenapa sekarang urusannya menjadi seribet ini? Khanza ingin menangis jadinya.
Isi tabungan di ATM- nya pun tinggal sedikit. Ia sudah menelepon Subrata, meminta untuk dikirimin uang, tapi ayahnya menolak. Subrata mengatakan bahwa ia ingin melihat sampai dimana kemampuan Kaisar dalam menghidupi Khanza.
__ADS_1
Bukannya berusaha untuk membuat kehidupan Khanza menjadi senang, Subrata malah lebih memikirkan tingkat egonya hanya untuk mengukur kemampuan Kaisar saja, hal itu dianggap Khanza sebagai perilaku yang tinggi egonya.
Malam itu, untuk urusan makan masih aman, sebab ditangani oleh Zelin, dia mentraktir Khanza dan Zada.
Pukul sepuluh lewat dua puluh menit, Khanza pulang ke kontrakan. Pintu tidak dikunci. Ia dengan mudah membuka pintu.
***
Beberapa hari terakhir, Kaisar disibukkan dengan aktifitasnya menyelidiki kasus yang menimpanya. Ia mencari cctv dari rumah ke rumah. Bagian mana yang kira- kira menangkap adegan saat Khanza memasuki rumah kontrakannya.
Jika ia menemukan rekaman cctv di tanggal itu, maka urusannya akan selesai. Ia sudah menemui dua rumah yang tak jauh dari rumah kontrakannya, yang dipastikan setiap orang pasti melintasi area itu untuk menuju ke rumahnya, namun dua pemilik rumah itu sudah menunjukkan rekaman cctv dan tidak menemukan Khanza melintas di jam dan tanggal yang sama.
Tinggal satu rumah lagi yang kemungkinan menangkap gerak gerik Khanza malam itu. tapi Kaisar belum bertemu dnegan pemilik rumah karena pemiliknya sedang pergi ke luar kota.
Wajah Kaisar tampak lelah sata pulang sore itu, hampir seharian berkutat dengan aktifitas yang menyita waktu dan pikiran, namun hasilnya masih nihil.
“Menyingkir! Aku mau lewat!” ucap Kaisar yang tampak letih. Wajahnya dibasuh peluh.
“Bisakah kamu memberiku uang?” tanya Khanza. Ia mengenang kesehariannya yang kacau setelah hidup tanpa uang. Mulai dari parfum yang sudah habis, sandal yang sedikit sobek karena yang dipakai itu terus, baju yang juga itu it uterus, juga sudah lama tak tersentuh tangan- tangan salon, pun lidah yang juga sudah lama tidak dilewati makanan enak, semuanya terasa meronta ingin diperlakukan seperti biasa.
Kaisar mengernyit. “Aku tidak punya kewajiban menafkahimu.”
“Apa pun yang terjadi, hidupku ini tetap menjadi tanggung jawabmu. Aku menjadi begini juga karena kamu. Aku diseret kesini olehmu. Ayahku sudah tidak memberikan uang lagi kepadaku. Ayah ingin mengukur kemampuanmu dalam menghidupiku. Lalu siapa yang akan menghidupi aku jika bukan kamu?”
Kaisar meghela napas. Benar juga apa kata Khanza. Jika ayahnya sudah tidak lagi memberinya uang, lantas Khanza harus bergantung pada siapa? Di sini, Kaisar memang tidak memiliki kewajiban menafkahi Khanza, tapi sampai detik ini Khanza tidak memiliki pendapatan.
“Uang untuk apa?” tanya Kaisar.
__ADS_1
“Untuk makan, membeli semua perlengkapanku, membeli semua kebutuhanku.”
“Makan? Aku selalu membelikan makanan untukmu bukan?” Kaisar setiap hari memang selalu membeli makanan untuk Khanza. Pagi, siang dan sore secara rutin. Namun makanan itu jarang sekali tersentuh oleh Khanza. Terkadang masih utuh dan bahkan basi karena tidak dibuka dari bungkusannya.
“Makanan yang kamu beli dari warung itu bukan seleraku. Kau tidak sudi menyantapnya. Lagi pula kebutuhanku bukan hanya makan saja, tapi masih banyak kebutuhan lainnya. Aku juga perlu ke salon, perlu perawatan, perlu segalanya.”
“Berhentilah berperilaku seolah- olah menjadi orang kaya. Kamu sekarang hidup denganku, maka harus menyesuaikan keadaan. Harus legowo menjalani keadaan seperti ini.” Kaisar melewati Khanza. Pintu yang tersisa hanya sedikit, membuatnya perlu sedikit mendorong pundak Khanza hingga bisa melewati pintu dan masuk.
Khanza balik badan dan mengikuti Kaisar masuk. “Aku tidak bisa hidup seperti ini. Kamu sebagai laki- laki harus menunjukkan power! Kamu harus bertanggung jawab atas kelakuanmu ini. Kamulah yang menyebabkan kehidupanku menjadi hancur seperti ini,” hardik Khanza yang sangat marah mengingat kehidupannya kini benar- benar berbalik seratus delapan puluh derajat, menjadi sangat sulit dan kacau. Mau ngapa- ngapain sulit sekali.
“Inilah bentuk pertanggung jawbaanku. Kamu harus bisa hidup mandiri, hidup tanpa dimanja dengan uang. Belajarlah merasakan sakitnya menjadi orang bawah. Saat itu kamu rasakan, maka kamu akan tahu bagaimana caranya bersyukur!”
“Jangan berceramah hanya untuk lari dari tanggung jawab! Kamu berceloteh memintaku untuk belajar hidup sederhana hanya karena sebagai dalih untukmu bisa hidup enak.”
Kaisar membuka kaos yang dia kenakan, menampilkan dada bidang. Ia melempar kaos itu ke sembarang arah karena kesal akan sikap Khanza yang terus menuntut dengan otot.
“Mau apa kamu?” Tiba- tiba Khanza menjadi tegang melihat Kaisar yang mendadak bertelanjang dada.
“Mau mandi. Ikut?”
Khanza terkesiap. Ia baru sadar kalau ternyata ia sedang berada di kamar Kaisar sekarang. Sejak tadi ia mengikuti Kaisar hingga tanpa sadar sampai memasuki kamar pria itu.
"Huh!" Khanza balik badan dengan ekspresi muak. Berlalu pergi sambil menyentak pintu kuat- kuat.
Brak.
***
__ADS_1
Bersambung