Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Sia-sia Belaka


__ADS_3

Kaisar seakan tak peduli dengan luka di lengannya, dia kembali melakukan pembelaan diri dengan berbagai penyerangan, baku hantam bak perkelahian ala film laga terlihat semakin sengit, hingga akhirnya Kaisar berhasil melumpuhkan kedua lawannya.


Dua pria berwajah seram itu terkapar di tanah dengan kondisi babak belur.


Khanza yang sudah sangat letih, ditambah kepalanya pusing sekali, juga dehidrasi, tiba- tiba kepalanya terayun- ayun.  Dia memegangi kepala.


“Hei hei, jangan sekarang!”  Kaisar belum sempat melanjutkan kata- katanya ketika tubuh mungil Khanza terhuyung hendak ambruk.  Untung saja Kaisar bergerak cepat menangkap tubuh istrinya hingga tubuh itu tak sempat terbanting di tanah.


“Ya ampun, selalu merepotkan saja!”  gumam Kaisar sembari mengangkat tubuh itu.  Untung saja ia sudah halal memegang Khanza, jadi tidak perlu berpikir panjang untuk menggendongnya.


***


Kaisar mengelapi pergelangan tangan dan kaki Khanza dengan kompres es, supaya rasa sakit pada bekas ikatan di pergelangan itu cepat memudar.  Wanita itu kini sedang terbaring di kasur, tentunya kembali ke rumah kontrakan milik Kaisar.

__ADS_1


Sejak tadi Kaisar tampak sibuk mengurus Khanza hingga kini wanita itu sudah dalam keadaan siuman.  Pria itu melupakan luka di elngannya, bahkan darah di lengan itu sudah sampai mengering.


Setelah Khanza terlihat membaik, Kaisar keluar kamar, ia duduk di ruang tamu untuk membersihkan luka di lengannya yang berotot itu dengan air, kemudian mengobatinya dengan obat merah.  Tak lupa membalut dengan kain kasa, mengikatnya agak kuat.


Sepanjang Kaisar mengobati lukanya, Khanza mengawasi dari dalam kamar.  Pria itu mengobati lukanya sendiri tanpa bantuan siapa pun.  Sehingga gerakannya kelihatan agak sulit.  Pintu kamar dalam keadaan terbuka sehingga dengan mudah Khanza melihat ke arah Kaisar.


Selesai mengobati lukanya, Kaisar menoleh ke arah Khanza.  Mereka bertukar pandang.  Pria itu iba melihat Khanza yang tampak memucat dan ketakutan.  Kini pun masih terlihat lemas.  Kaisar ke dapur untuk mengambil air minum, lalu memasuki kamar Khanza dan menyerahkan gelas berisi air mineral tersebut kepada istrinya.


“Minumlah!  Kondisimu akan sedikit lebih baik dengan meneguk air mineral.”  Kaisar menyodorkan gelas.


Ekspresi wajah Kaisar pun berubah, yang tadinya tenang, kini tampak memerah.  Setelah sejak tadi dia merasa iba dan mengorbankan diri untuk Khanza, tapi ini balasan yang diberikan oleh wanita itu.  


“Aku tidak butuh semua ini!  Aku tidak suka hidup memuakkan bersamamu seperti ini!  Aku tidak menyukaimu.  Aku membenci semua ini!”  Entahlah kenapa Khanza melampiaskan kekesalannya meski ia sadar bahwa ia pasti sudah menjadi bubur jika Kaisar tidak menyelamatkannya tadi.  Ia muak setelah kembali ke rumah itu lagi.   

__ADS_1


“Kamu itu hanya modal tenaga untuk melindungiku.  Tidak ada sedikit pun yang bisa dibanggakan darimu.  Sampah!”  Khanza menangkis gelas di tangan Kaisar.


Prang!


Gelas pecah menghantam lantai.  


Emosi Kaisar benar- benar mendidih.  Dadanya terasa panas ingin mengumpati wanita itu.  dasar wanita tidak tahu terima kasih.  Minim attitude!  Tapi Kaisar menahan segala ucapan buruk itu, cukup ditelan dalam hati saja.


Khanza bangkit berdiri.  “Jangan mengasihani aku!  Aku tidak butuh dikasihani laki- laki tidak guna sepertimu.  Oh ya, kenapa kamu diam, hm?  Kenapa tidak membalas hinaanku?  Apa sudah habis kata- kata di pikiranmu untuk bicara?”


“Aku tidak perlu membalas ucapanmu.  Sebab aku sadar, menghina orang tidak akan membuatku lebih mulia, menjatuhkan pun tidak membuatku lebih tinggi, tapi itu justru memperjelas siapa aku yang sesungguhnya, justru menunjukkan kualitas diriku.”  Kaisar kemudian menunjuk pintu.  “Silakan kalau kamu mau pergi meninggalkan aku.  Aku pun tidak mau menahanmu lagi.”


Sebelum sempat Khanza menjawab, pintu depan terbuka sesaat setelah Marwah mendorongnya.  Menyusul Subrata yang bergerak masuk dengan langkah tergesa- gesa.

__ADS_1


Bersambung


KLIK LIKE dulu yaaps 😘


__ADS_2