
Kaisar mengelap rambutnya yang basah menggunakan handuk. Mengusap- usap dengan lembut. Rambutnya yang hitam menjadi berantakan akibat kepalanya yang diuyel- uyel.
Aliran air dari rambut mengaliri lekukan dada bidang dan setiap sisi kotak- kotak di perutnya yang rata.
Kaisar kemudian meraih hp yang tergeletak di meja saat mendengar benda pipih itu berdering.
Dahinya mengernyit melihat nama yang tertera di layar. Subrata. Ada apa menelepon?
Perasaan Kaisar langsung tidak enak, firasatnya jadi tak baik. Subrata tidak mungkin menelepon untuk hal yang baik- baik. Pasti ada hal yang tidak enak untuk disampaikan. Tapi Kaisar tetap harus menjawab telepon mengingat si penelepon adalah orang yang lebih tua, takut kualat dan disumpahi mandul.
Kaisar menekan tombol loudspeaker sesaat setelah menggeser tombol hijau untuk menjawab.
"Ayah, ada apa?" Kaisar menyambar kaos dan mengenakannya.
"Jadi bagaimana setelah Khanza dibawa olehmu? Seberapa kuat kamu membiayai hidupnya? Apakah kamu sanggup memberi makan anakku hanya dengan pekerjaanmu yang sampah itu?"
"Sejauh ini Khanza baik- baik saja. Dia sehat dan semakin lincah." Kaisar tidak peduli dengan hinaan Subrata. Tidak ada yang perlu diratapi dengan hinaan mengenai harta.
"Terserah padamu saja. Aku mau tahu sampai sejauh mana kamu bisa bertahan menghidupi putriku. Tidak lama lagi pasti kamu akan datang padaku dan meminta kehidupan kepadaku."
Kaisar tersenyum miring menatap layar hp nya. Subrata tidak tahu jika Kaisar mampu membeli seluruh aset kekayaan pria itu hanya dengan sekali jentik saja.
Sekarang boleh saja Subrata menghinanya, tapi dunia itu berputar. Tidak selamanya manusia berada di atas.
"Malam ini kamu pergilah ke restoran Minitayy, sudah kuboking meja nomer 21. Makanan bisa pesan sepuasnya. Kamu temui tamuku ya, dia datang untuk membicarakan tentang usaha yang akan dibentuk bersama. Aku sedang tidak enak badan, jadi aku tidak bisa menemuinya. Dia akan membahas planning usaha yang akan dijalankan. Kamu tanggapi saja dan nanti hasilnya kamu rangkum dan sampaikan kepadaku. Kurasa kamu tidak terlalu bod*h, jadi bisa mengatur ini kan?"
"Ya. Bisa," jawab Kaisar yang meyakini bahwa pekerjaan yang diberikan Subrata adalah hal mudah. Dengan segala kemampuannya, Kaisar telah mengelola lima cabang perusahaan dan tiga pabrik besar. Lalu hal apa yang membuatnya kesulitan mengatasi hal begini?
__ADS_1
"Aku akan mencelamu sebagai manusia yang tidak berguna jika kamu tidak bisa mengatur ini. Pergilah temui tamuku bersama dengan Khanza. Biarkan Khanza mendampingimu, ini akan memberikan nilai plus untukmu."
"Tidak. Biarkan aku pergi sendiri. Aku tidak yakin akan berhasil jika aku pergi bersama dengan Khanza."
"Di sini aku yang mengaturmu, bukan sebaliknya. Paham?" Subrata memutus sambungan telepon begitu saja.
Kaisar mengernyit menatap durasi panggilan.
Tanpa perlu menukar pakaian, cukup melapisi kaos putih yang dia kenakan dengan jaket, Kaisar melangkah keluar kamar. Ia melihat Khanza sudah berpenampilan rapi. Seperti biasa, penampilan saat ia hendak bertemu dengan teman- temannya. Gadis itu melangkah menuju keluar.
"Bagus! Kamu sudah bersiap. Ayo kita pergi!" Kaisar menutup pintu dan menguncinya.
Khanza tersenyum sinis. "Apa aku tidak salah dengar? Kamu pikir aku akan pergi denganmu? Tidak! Aku akan bertemu dengan teman- temanku." Khanza melangkah menuruni teras.
"Ayahmu memintaku untuk melaksanakan pekerjaannya. Dan kamu diminta untuk mendampingiku," seru Kaisar dengan suara mendominasi, membuat Khanza menghentikan langkah dan menoleh.
Baru saja Khanza hendak menelepon, benda pipih miliknya itu berdering. Ia menelan dengan sulit melihat nama ayahnya yang menelepon. Segera ia menjawab telepon.
"Ayah!" Khanza tak berkata- kata lagi setelah memanggil ayahnya. Ia hanya mendengarkan saja saat ayahnya berbicara, meminta supaya Khanza mendampingi Kaisar seperti yang dikatakan Kaisar tadi. Rupanya pria itu tidak sedang berbohong.
Jika sudah Subrata yang memberikan titah secara langsung, maka Khanza tidak bisa menolak. Bisa- bisa ia dikutuk menjadi cemplon gepeng jika tidak menuruti.
Sejak dulu, Khanza memang pemberani, pembangkang dan pelawan, namun pada Subrata, ia masih memiliki sedikit rasa takut.
Senyum Kaisar mengembang, ia dalam kemenangan sekarang.
***
__ADS_1
Tidak banyak yang dilakukan Kaisar saat menemui orang yang dijanjikan oleh Subrata, ia memilih banyak diam dan menyetujui saja apa- apa yang disampaikan tamu itu.
Justru Khanza yang lebih aktif dan memberikan ide- ide cemerlang untuk kemajuan kerja sama. Kaisar terpaksa harus mengakui kehebatan seorang Khanza dalam hal ini. Hanya saja, soal hitung- hitungan dan matematika, gadis itu tampak lemot sekali. Ingatannya pun buruk.
Pertemuan berjalan dengan sangat baik dan lancar dengan dijamu makanan lezat.
Setelah selesai pertemuan itu, Kaisar dan Khanza kembali ke taksi.
"Kenapa kamu bersikap seolah tidak mau mendukung usaha ayah? Kenapa kamu terkesan tidak peduli dan iya iya saja sejak tadi?" kesal Khanza menganggap Kaisar yang tak mau ambil pusing dengan pekerjaan yang diamanahkan oleh Subrata.
"Kamu memiliki keputusan dan ide- ide yang baik untuk kerja sama itu, kupikir aku lebih baik diam."
"Aku benar- benar tidak mengerti kenapa harus terjebak dengan laki- laki penipu, pendusta, dan bod*h sepertimu. Apa- apa tidak bisa. Hidup pun sangat sulit."
Kaisar sebenarnya ingin sekali membungkam mulut Khanza yang tak sopan itu dengan tangan besarnya, tapi ia tak bisa berbuat apa- apa kecuali hanya diam. Laki- laki akan kelihatan sebagai pecundang saat bermain kasar dengan wanita.
Khanza melepas napas kasar. Ia melirik ke arah sendalnya yang talinya sudah lepas satu. Ada tiga tali yang melilit di sendalnya itu, salah satunya sudah mulai terlepas dari kaitnya.
Bahkan untuk membeli sendal baru saja Khanza kesulitan sekarang. Ia malu jika harus membeli sendal harga murahan. Apa pendapat teman- temannya saat ia berkumpul dengan teman- temannya memakai sendal harga lima puluh ribuan? Memang hidup yang mahal adalah gengsinya. Dan itu tak bisa dihindari di kehidupan Khanza saat ini.
Dia terbiasa bergaul dengan teman- temannya yang semuanya berkelas. Kemarin ia sudah meminta Bik Imar untuk mengantar sendal, tas dan barang- barang milik Khanza lainnya ke kontrakan, namun Bik Imar tidak menuruti karena dilarang oleh Subrata.
Penekanan Subrata benar- benar berat. Dia sungguh ingin mengukur kemampuan Kaisar dalam menghidupi Khanza.
Secara tidak langsung, hidup Khanza menjadi taruhan, Khanza benar- benar merasa tersiksa. Tiba- tiba sekarang ia harus dibuat susah oleh pria yang dia anggap telah menjebak, menipu dan merusak masa depannya itu.
Bersambung
__ADS_1
Nanti sore di tanggal 15 Januari ini Emma akan update lagi, tungguin yah 😁😘