Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Berpamitan


__ADS_3

“Jihan!”  Kaisar menyebut nama gadis pujaannya.


“Mas Kaisar!” Suara di seberang cukup terdengar keras di telinga Khanza.  


Bukan Kaisar yang tidak mengecilkan volume hp- nya, melainkan suasana sepi membuat suara kecil pun cukup terdengar jelas sampai di telinga Khanza.  Diam- diam, Khanza mendengarkan pembicaraan Kaisar. 


“Bagaimana kabarmu?  Lama kamu tidak mengabariku, aku merasa cemas.” Suara gadis di seberang terdengar lembut sekali.  Mendayu dan syahdu. 


“Baik.  Maaf aku belum sempat mengabarimu.”


“Tidak apa- apa, Mas. Aku mengerti.  Sampai kapan kamu pergi meninggalkan aku?”


“Sampai papa menurunkan level egonya.  Jika aku kembali, aku hanya akan dinikahkan dengan wanita itu kan?  Saat aku kembali dan aku tidak menikah denganmu, semua itu percuma.  Biarkan begini sampai papa sadar bahwa keegoisannya itu tidak benar,” lembut Kaisar.


“Tapi sampai kapan?  Apakah mungkin papamu akan memahami situasimu?  Kamu tahu sendiri bahwa orang tuamu itu keras, persentase peluang hatinya akan mengalah itu kecil.  Kalau kalian sama- sama keras, masalah ini tidak akan selesai.” 


Jihan adalah gadis pertama yang membuat Kaisar jatuh cinta sejak pandangan pertama.  Sosok gadis yang mengenakan hijab panjang, selalu berpakaian sopan, dan pemalu. 


Pertemuan pertama saat Kaisar menumpang shalat isya di masjid area dekat rumah Jihan.  Kaisar kemalaman setelah meeting, membuatnya langsung menghentikan mobil di masjid itu.  dan di sanalah ia bertemu dengan sosok yang mengalihkan dunianya.


Sejak saat pertemuan itu, ia pun menjadi sering berkomunikasi dengan Jihan.  Kaisar menetapkan Jihan sebagai wanita pilihan pertama dan terakhir dalam hidupnya, menjadikan Jihan sebagai calon ibu dari anak- naaknya kelak.  


Kaisar dan Jihan jarang bertemu meski sudah dua tahun menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.  Kaisar terlalu sibuk dengan pekerjaan.  Ia dan Jihan hanya sebatas berkomunikasi melalui via telepon.  Kalau pun bertemu, mungkin hanya sekedar makan malam untuk membicarakan masa depan, itu pun ditemani oleh sepupunya Jihan yang juga turut makan malam.  


Kaisar memiliki harapan besar terhadap Jihan.  Segala bayangan indah tentang rumah tangganya bersama dengan jihan sudah menari dalam benaknya, namun semuanya hancur lebur ketika ia memperkenalkan Jihan sebagai calon istri kepada Calvin Dirgantara.  Dengan keras, Calvin menolak Jihan karena ia sudah memiliki pilihan calon istri untuk Kaisar, yang tak lain adalah putri dari rekan bisnisnya.


Semenjak itu, awal bencana pun dimulai, pecahlah pertengkaran antara Kaisar dan Calvin.  Kaisar bersikeras akan tetap pada pilihannya, ia tak ingin hidupnya diatur.  Sedangkan Calvin pun bersikeras pada aturannya.  


Tak ingin hidupnya menjadi boneka, Kaisar pun memilih untuk pergi meninggalkan kehidupannya, kekayaannya dan segalanya.  Dia berpikir, siapa yang akan mengalah setelah ini?  Semenjak Kaisar meninggalkan kursi direktur di perusahaan, kursi itu kosong dan Calvin terpaksa turun tangan sendiri mengurus perusahaan.  Ia tidak pernah bisa mempercayai orang lain dalam mengurus perusahaan kecuali keluarganya sendiri.


“Mas!”


Bayangan di benak Kaisar tentang papanya pun melebur seketika saat suara halus Jihan memanggilnya.

__ADS_1


“Maaf.  Aku butuh waktu,” kata Kaisar.


“Ya, aku sabar menunggu.  Semoga masalahmu akan cepat selesai.”


“Syukurlah!  Aku tahu hatimu tulus, pasti Tuhan akan memberikan jalan terbaik untukmu, untukku, untuk kita.”  Andai saja Kaisar ada di hadapan Jihan, ia pasti sudah melihat senyuman manis yang ditambah lesung pipit gadis itu.


Terdengar tawa kecil di seberang.  “Ya sudah, aku tutup teleponnya.”


“Baik.  Aku akan mengabarimu apa pun yang terjadi.  Terima kasih sudah bersabar.”


Kaisar menutup telepon dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


Melihat hal itu, Khanza geleng- geleng kepala.  Ternyata Kaisar sedang kasmaran dengan wanita bernama Jihan.  Tapi Khanza tidak peduli.  Itu urusan Kaisar.


Kaisar kemudian bangkit berdiri, ia menuju ke pojokan kamar dan duduk di sebuah kursi, menelepon Beno.  Mengobrol dengan suara kecil.


***


Abangnya Subrata sudah pulang saat subuh bersama dengan rombongannya.  Tinggal lah Subrata dan Marwah yang menyantap sarapan pagi itu di meja makan.  


Tatapan Subrata tertuju ke arah Kaisar yang menggendong ransel.


“Pagi, pak!” sapa Kaisar berbasa- basi.


“Pak Pak, jangan panggil Pak.  Kamu seperti bertemu dengan orang di pinggir jalan saja.  Panggil Ayah.  Aku mertuamu sekarang!” tegas Subrata dengan suara menggelegar.


Kaisar tersenyum miring.  Belum tau dia kalau dikibulin.  Padahal status Subrata bukanlah mertua.


“Begini ayah, aku akan berpamitan untuk kembali ke kontrakan.”


“Fiuuuh…”  Subrata terkejut hingga air minum di mulutnya nyembur keluar.


Marwah mengelap punggung tangannya yang kecipratan air muncratan itu.

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan Khanza?” tanya Subrata.


“Dia istriku, tentu saja dia akan ikut kemana suami menentukan tempat tinggalnya.  Ini sudah menjadi keputusanku,” jawab Kaisar tenang.


“Siapa yang suruh kamu pindah?  Meski pun kamu berasal dari keluarga miskin, aku tidak menyuruhmu pindah rumah.  Kamu membawa serta kehormatan anakku.  Dengan kamu membawanya hidup susah bersamamu di kontrakan, sama saja kamu menjatuhkan kehormatan anakku sebagai orang terpandang di sini,” celetuk Subrata.


“Apa salahnya kamu tetap tinggal di sini?  Jangan bikin malu keluarga kami!” sela Marwah yang tak mau kalah.


Suami istri sepaket!


“Hidup sederhana itu tidak memalukan!” Kaisar balik tegas, sama halnya ketika ia bersikap tegas sebagai pemimpin di perusahaannya.  Kharisma dan jiwa kepemimpinannya tidak diragukan lagi.  Dia sudah terbiasa menghadapi orang- orang besar.  “Justru yang memalukan adalah perilaku dan tabiat yang buruk hingga menimbulkan sensasi heboh di masyarakat.”


“Loh, kamu sedang menyindir?” Subrata menaikkan alis.


“Aku pikir ayah tidak akan tersindir jika tidak merasa.  Aku di sini tidak untuk mengajak ayah dan ibu berdebat, tapi aku hanya ingin mencari jalan terbaik untuk keluarga baruku.  Khanza adalah istriku, maka kehidupannya juga merupakan tanggung jawabku.  Apa- apa tentang dia, akulah yang akan menanggungnya, bukan lagi bergantung pada ayah dan ibu.”


“Hei hei, kenapa kau bersikap seolah- olah mampu menghidupi anakku?  Aku tidak akan melepaskan dia bersamamu.  Untuk menghidupi didrimu sendiri saja kamu kesusahan, bagaimana akan menghidupi serta anakku juga?” pungkas Subrata.


“Tidak perlu meraguka rejeki Tuhan.  Setiap pasangan yang menikah itu sudah diberi takaran rejeki yang datangnya dari mana saja.  Aku meyakini ini,” ungkap Kaisar penuh keyakinan.


“Kenapa kamu ngotot harus pindah?  Kamu malu kalau harus tinggal di sini sebagai pengangguran?” sela Marwah.


“Aku bukan pengangguran, aku juga memiliki pekerjaan meski hasilnya tidak seberapa.  Yang jelas penghasilan itu halal dan tayib.”


“Kaisar, jangan bertindak bodoh!  Jangan memilih hidup tidak enak kalau pilihan hidup enak itu sudah ada di depan mata!” ucap Subrata mendominasi.


“Maaf, aku sudah punya pilihan sendiri.  Sebagai suami Khanza, aku memiliki hak untuk menentukan tempat tinggal, dan Khanza harus mengikuti keputusanku!” tegas Kaisar tak mau dibantah.


Mendengar ketegasan yang mendominasi itu, Subrata meyakini bahwa Kaisar memang keras kepala.  Tapi ia pun tak bisa berbuat apa- apa karena Kaisar bukanlah kambing yang harus diikat bila akan kabur.  Semua yang dikatakan oleh Kaisar memang benar.


“Sebelum kamu membawa Khanza pergi bersamamu, kamu telepon dulu orang tuamu.  Aku mau tahu asal usulmu dengan jelas.  Jangan sampai anakku dibawa kabur sama buronan polisi pula,” tegas Subrata yang akhirnya mengalah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2