Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Hampa


__ADS_3

Memilih jalan yang berlawanan arah dengan kaisar ternyata tak membuat Khanza sepenuhnya bisa menghindar dari Kaisar, kini setelah berputar pun, ia malah kembali bertemu dengan pria itu saat di parkiran.


“Kamu tidak pulang denganku!” ucap Kaisar sambil melirik ke arah mobilnya yang terparkir tak jauh dari posisinya berdiri.


Khanza tersentak kaget.  Perintah yang cukup menekan, padahal Khanza juga tidak bermaksud untuk kembali memasuki mobil Kaisar, dia pun lupa kalau mobil itu terparkir di sana.  Hanya kebetulan saja ia berada di sana saat lewat.  Tujuannya padahal hendak keluar ke pinggir jalan untuk mencari taksi pulang.


“Sekarang keadaan kita sudah semakin buruk.  Dengan tersebarnya hubungan kita, bukan berarti kita akan menjadi sepasang suami istri yang romantis dan bermandikan uang, tekadku tetap sama, kita tidak akan bersama- sama lagi.  Kamu sengaja menjadikan ayahmu sebagai kambing hitam untuk dapat membuat tujuanku kacau, sehingga kamu berpikir bahwa aku akan tetap mempertahankanmu.  Tapi tidak.  Maaf, aku tidak bodoh jika harus mempertahankan wanita licik yang mata duitan sepertimu.  Aku bukan budakmu yang bisa kamu perah untuk menghasilkan uang.  Dan setelah semua yang terjadi, baik kesalah pahaman yang semakin memicu kekacauan, aku semakin yakin bahwa kita harus cerai.  Ya, kita pisah!”   Kaisar bicara panjang lebar, kemudian masuk ke mobil.  


Khanza tetap diam hingga mobil Kaisar yang dikemudian oleh supir itu berlalu pergi meninggalkannya.  Dia berjalan cepat meninggalkan lantai basement, dan saat punggung tangannya dijatuhi setitik air, ia baru sadar bahwa ternyata ia sedang menangis.

__ADS_1


Entah sejak kapan ia meneteskan air mata, bahkan ia pun tak sempat menyadari hal itu.  rasanya Khanza baik- baik saja, dia tidak apa- apa.  Lalu kenapa sampai menangis?


Khanza berjalan beberapa meter menjauhi gedung, hingga ia menemukan sebuah kursi beton. Di sanalah ia terduduk lemas.  Khanza tidak tahu kenapa ia harus menangis dan menikmati setiap tetes yang bergulir.  Rasanya di dalam sana seperti ada yang *******- *****.  Ngilu dan nyeri. 


Andai saja bukan Kaisar yang mengatainya begitu, pasti tak akan sampai nyeri begini.  Tapi ini rasanya seperti sembilu.  Tak mengapa.  Mungkin kaisar dulu saat direndahkan dan dihina rasanya jauh lebih ngilu dari ini.  


Balasan darimu kontan, Kaisar!  Gumam Khanza menahan pilu.  Punggung tangannya mengusap buliran bening di pipi dengan sekali usap.


Khanza terkejut mendengar suara yang tiba- tiba saja sudah ada di dekatnya.  Ia menoleh, menatap Jihan yang entah sejak kapan sudah duduk di sisinya.  

__ADS_1


Senyum pahit terbit di wajah Khanza.


“Aku benar- benar nggak meyangka kalau ternyata Kaisar itu sudah menikahi seorang wanita. Dan itu kamu," ungkap Jihan dengan tatapan hampa.


"Kamu calon istri yang dia harapkan bukan?" tukas Khanza cepat.


Jihan mengernyit. "Jadi... Kamu tahu kalau aku ini ada hubungan dengan Kaisar?"


Khanza mengangguk. "Kamu Jihan. Jihan adalah wanita yang sangat dicintai oleh Kaisar. Sejak lama Kaisar mengharapkan kamu menjadi pendamping hidupnya. Sejak lama Kaisar menginginkan wanita salihah sepertimu menjadi ibu dari anak- anaknya. Kalian memiliki ikatan yang mulia, yaitu cinta. Rumah tangga sangat memerlukan cinta, mahabbah yang tentunya akan menjadi anugerah dalam setiap perjalanan berumah tangga. Dan itu ada pada kalian."

__ADS_1


"Kalau begitu kenapa kalian menikah? Jika memang Kaisar hanya mencintaiku, jika memang kamu tahu cinta Kaisar untukku, lalu kenapa kalian menikah?" tanya Jihan lirih, masih dengan tatapan hampa.


Bersambung


__ADS_2