
"Seharusnya ayah tidak meminta uang pada Kaisar dengan mengatakan bahwa ayah minta biaya hidupku diganti, sama saja ayah minta ganti rugi. Ayah menjualku kepadanya," kata Khanza di ruangan luas itu dengaj muka cemberut. Ia sedikit menyentak kakinya ke lantai sebagai bentuk protes. Rambutnya masih dalam keadaan basah setelah keramas pagi tadi.
"Ini hanya masalah istilah, Khanza. Dalam ajaran kita, lelaki datang kepada perempuan dengan istah membawa mahar, sama saja untuk menebus si wanita bukan? Anggap saja aku menuntut mahar kepada Kaisar," balas Subrata.
"Beda, ayah. Mahar itu permintaanku kepada Kaisar, dan itu hak ku sepenuhnya. Ini kan permintaan ayah, beda dengan mahar!" bantah Khanza.
"Khanza, ayahmu hanya sedang meminta pertanggung jawaban Kaisar, mengukur kemampuannya. Kamu tidak perlu protes rentang itu!" sahut Marwah yang sedang menjahit tali beha- nya yang putus. Haduh, emak yang satu itu kenapa tidak membuang benda yang sudah rusak, malah dijahit begitu. Mana menjahit di depan banyak orang lagi, tanpa peduli bahwa benda berukuran besar itu akan menarik perhatian orang karena bertanya- tanya dengan ukurannya.
"Aku tidak peduli jika ayah meminta uang pada Kaisar sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai suami supaya kelihatan lebih bermanfaat sebagai lelaki, tapi kalau minta uang karena untuk mengganti seluruh biaya yang sudah ayah keluarkan selama hidupku, itu sama saja ayah tidak ikhlas dengan uang yang selama ini ayah keluarkan untukku!" kesal Khanza.
"Sudahlah! Itu kan hanya istilah saja. Intinya Kaisar harus bisa menunjukkan kalau dia berguna. Bernapas di dunia sebagai lelaki juga tidak ada gunanya kalau tidak bisa menunjukkan kehebatannya. Lihatlah, Kaisar dengan sombongnya mengatakan bahwa dia akan mengantarkan uang itu hanya dalam waktu satu hari saja. Sombong!"
"Terserah ayahlah! Ayah tidak mengerti dengan maksudku!" ketus Khanza kemudian berlalu pergi, ia menaiki anak tangga dan masuk ke kamar.
Subrata melepas napas berat. "Sekarang pun batang hidung Kaisar belum muncul. Lihat saja, apakah sampai malam nanti dia akan datang membawa uang itu?"
"Ini uangnya."
Suara sahutan itu sontak membuat sejurus pandangan di ruangan itu menoleh ke sumber suara. Kaisar tampak melenggang memasuki ke tengah- tengah ruangan, membawa amplop berwarna cokelat, cukup tebal sekali. Dia menaruh amplop itu ke meja tengah ruangan. Disaksikan oleh semua orang dengan pandangan terperangah. Mereka tidak menyangka jika ternyata ucapan Kaisar tidak main- main, hanya dalam waktu semalam saja, Kaisar sanggup mendapatkan uang itu.
__ADS_1
"Jika Anda merasa dirugikan atas pernikahanku dengan Khanza, maka kuanggap kerugian itu lunas dengan sejumlah uang yang anda minta. Setelah ini, tidak perlu ada tuntutan lagi." Iris mata Kaisar berputar mencari- cari keberadaan Khanza.
Dimana wanita itu? Kaisar sangat ingin mengucapkan talak kepada wanita itu, meski dalam hatinya masih ada pertimbangan banyak hal, tentang bagaimana nasib Khanza setelah diceraikan olehnya, bagaimana wanita itu menyandang status janda, bagaimana perasaan Khanza? Dan banyak lagi.
Ah, kenapa Kaisar masih saja memikirkan perasaan Khanza disaat Khanza sedikit pun tak pernah bisa memahami kondisinya? Tapi inilah yang disebut dengan adab. Kaisar bukanlah Khanza, mereka berbeda. Tentu Kaisar pun tak mau menjadi seperti Khanza yang tak punya belas kasih.
“Ini benar- benar uang?” Subrata membuka amplop dan melihat isinya. Ia membelalak kaget. Isinya uang asli. “Hei, dari mana kau mendapatkan uang sebanyak ini hanya dalam hitungan jam? Jangan sampai setelah ini terdengar berita heboh tentang perampokan ya!”
“Aku bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram. Jadi jangan cemas tentang uang itu,” jawab kaisar.
Subrata dan Marwah bertukar pandang, tampak bertanya- tanya, namun juga senang karena uang itu bisa mereka dapatkan dalam waktu singkat.
“Apa maksudmu? Satu kata apa?” Subrata melotot.
Kaisar menelan saliva dengan sulit. Tiba- tiba saja beban tanggung jawab itu seperti terpikul di pundaknya saat ingin mengucapkan talak.
“Apa kau akan menalak anakku? Apa kau akan membuatnya janda setelah kau mempermalukan dia dengan membuatnya digerebek oleh warga?” Subrata marah.
Kaisar kembali menelan. Ia menunduk sebentar sebelum akhirnya berkata, “Aku pergi!”
__ADS_1
Langkah lebar Kaisar membawa dirinya keluar dari rumah itu.
Khanza sejak tadi berdiri di balkon lantai dua, menyaksikan ke bawah. Melihat langkah Kaisar hingga menghilang dari pandangannya.
Dan... Aneh, Khanza merasa kehilangan sebelum pria itu benar- benar pergi. Ah, kenapa Khanza takut jika Kaisar benar- benar menghilang dari kehidupannya? Pria itu sudah meninggalkan banyak sejarah dalam hidupnya hanya dalam waktu singkat, termasuk menolong nyawanya meski ia adalah wanita yang buruk untuk Kaisar.
Hati Khanza sangat ingin menahan Kaisar, tapi apalah daya. Wajah kedua orang tuanya di bawah seakan melarangnya dengan keras.
Kemana Kaisar pergi? Jika Kaisar pergi, lalu bagaimana dengan status pernikahannya? Bagaimana dengan rumah tangganya? Khanza tidak mau menjadi janda. Ia belum siap dengan status itu.
Satu hal yang paling berat, kenapa Khanza tak rela Kaisar pergi? Bukankah itu yang dia inginkan selama ini? Bukankah ia ingin bebas dari Kaisar?
Khanza berlari menuruni anak tangga, menghambur ceoat menuju keluar melewati Subrata dan Marwah hingga keduanya bingung mielihat putrinya lari ngibrit seperti dikejar setan.
Khanza berlari melewati halaman luas, terus menuju ke luar gerbang. Sesampainya di luar gerbang, ia menoleh ke kiri dan kanan. Mencari Kaisar. Namun pria itu sudah menghilang.
Pria yang baik. Gumam Khanza tanpa sadar.
***
__ADS_1
Bersambung