
"Siang, Mas!" Sosok pria memakai ransel cokelat menarik kursi di hadapan Kaisar. Dia mengenakan kaca mata. Dia adalah IT yang sudah berpengalaman di bidangnya.
Kaisar sengaja menyewa jasanya untuk menyelidiki kasus yang selama ini mengganggunya. Baru beberapa waktu lalu Paul menemukan manusia itu dan kemudian memperkenalkan kepadanya.
"Bagaimana? Berhasil?" Kaisar meneguk kopi yang sudah dipesan dan sudah tinggal separuh.
"Saya menemukan bukti."
"Sungguh? Jangan berbangga diri dulu. Tunjukkan padaku!" Kaisar tidak mau kaget sebelum melihat buktinya.
"Silakan dilihat!" Pria itu membuka laptop, menyalakan dan menunjukkan sesuatu.
"Oh tidak!" Kaisar menatap emosi pada laptop yang ditunjukkan, ia melihat kronologis kejadian bagaimana Khanza bisa berada di kamarnya. Dadanya terasa panas sekali menyaksikan hal itu. "Ini tidak bisa dibiarkan. Mereka harus membayar apa yang sudah mereka lakukan. Ini keterluan. Mereka sudah merusak nama baikku. Mereka tidak bisa membayar waktu yang sudah kulewati."
Kaisar mengepalkan tangan.
Pria berpakaian rapi di hadapan Kaisar menelan saliva, turut prihatin atas apa yang menimpa Kaisar.
__ADS_1
***
Langkah Kaisar lebar melewati koridor pabrik, dimana rutinitas sehari-, hari tampak sibuk sekali.
Dengan stelan jas abu- abu, pria berambut belah tengah itu terlihat memendam kemarahan, siap melepaskannya saat itu juga.
Tepat ketika memasuki ruangan manager, dimana Beno dan Ganda tengah berbicara hal serius mengenai pekerjaan, Kaisar tanpa permisi langsung berkata, "Ganda, kau kupecat sekarang juga!"
Ganda terkejut, tak terkecuali Beno yang menganga lebar. Untung tidak ada lalat yang melintas.
Kaisar memukul pipi Ganda dengan kepalan tangannya.
Ganda terkejut, menatap Kaisar dengan tajam. Ingin marah, namun ia masih tak mengerti alasan apa yang membuat Kaisar semarah itu terhadapnya. Jadi memilih diam. Tak akan mungkin Kaisar berani memukul jika bukan tanpa alasan kuat.
"Itu tidak seberapa dibanding dengan nama baikku yang kau rusak," ucap Kaisar sambil memalingkan wajah. Ia tidak terlihat emosi, hanya matanya saja yang tampak tajam. "Tidak masalah bagiku jika kau menipu aku dan mengakibatkan hartaku terkuras. Bagiku harta dunia tidak begitu penting. Tapi jika sudah menyangkut nama baik, aku sungguh tidak bisa mentoleransinya. Kau sudah merusak kehormatanku, juga kehormatan Khanza sebagai seorang wanita."
"Tunggu tunggu. Kaisar, kau bicara apa? Aku tidak mengerti. Ini kenapa main pukul begini?" Beno menengahi. Ia berdiri di tengah- tengah, mencegah bila terjadi pemukulan lagi. Wajahnya tampak ketakutan.
__ADS_1
"Tanyakan pada dia!" Kaisar menunjuk wajah Ganda. "Apa keuntungannya kenapa dia bermuka dua. Di depanku terlihat seperti teman, namun menusuk di belakang dan terus berusaha menjatuhkanku."
Beno menatap Ganda yang mengusap sudut bibirnya yang terluka dan berdarah.
Yang ditatap diam saja.
"Pantas saja semua urusan yang selama ini aku pasrahkan kepada Ganda selalu gagal, baik mengenai wali hakim yang akhirnya malah asli, penyelidikan cctv yang akhirnya malah katanya terhapus. Ini semua didalangi oleh Ganda." Kaisar kemudian menunjuk pintu. "Ganda, kau boleh keluar dan tinggalkan kantor ini."
Beberapa detik Ganda terdiam sampai akhirnya dia pun buka suara, "Aku menyesal."
"Sudah terlambat. Kau baru mengatakan kalau kau menyesal setelah perbuatanmu itu ketahuan. Kemana kau selama ini?"
Ganda tertunduk. Helaan napas berat keluar dari mulutnya.
"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi kenapa Ganda dituduh sebagai dalang masalahmu itu, Kiasar?" Beno tampak seperti orang bodoh.
Bersambung
__ADS_1