
Kaisar menghela napas. Memutar mata. Ia juga tidak mau egois dan memikirkan kepentingannya sendiri. dia paham bahwa Khanza adalah seorang wanita, yang tentunya efeknya akan berbeda dengan lelaki saat status pernikahan akan terputus.
“Lalu, maumu bagaimana? Kamu juga tidak mau kita bersama- sama selamanya kan?” tanya Kaisar.
Manik mata Khanza kini terfokus ke mata Kaisar. Mendadak saja ia teringat bagaimana Kaisar pasang badan untuk menyelamatkannya dari dua bandit yang sempat melukai Kaisar, momen itu sungguh dahsyat, tapi Khanza terlambat untuk mengakui bahwa ia mengagumi sikap Kaisar yang ksatria.
“Atau… kau mau tetap hidup bersamaku dan aku menikah lagi dengan Jihan?” tanya Kaisar.
Pertanyaan apa itu? pilihan yang sangat jelek sekali.
“Aku tidak mau dimadu,” jawab Khanza cepat.
“Ini adalah masalah besar yang tidak bisa diputuskan dengan main- main. Akan aku pikirkan, jika sudah mendapat jawaban, maka akan segera aku kabari kamu. Apa pun alasannya, kamu itu adalah istri sahku, dan aku akan menjaga marwahmu sebagai istriku. Aku pergi.”
__ADS_1
“Makanannya belum dimakan.” Khanza berucap cepat, membuat gerakan kaisar terhenti.
“Boleh kamu bungkus dan bawa pulang. Aku ada perlu. Ini Jihan baru saja mengabari bahwa ada dokumen yang harus aku segera tanda tangani. Oh ya, agenda kerjaku besok jangan lupa disusun dan infokan kepadaku!” Kaisar melangkah menuju kasir. Ia membayar tagihan. Dan terkejut ketika mengetahui tagihan membengkak.
“Hanya dua porsi makanan dan lima gelas minuman bisa semahal itu?” Kaisar kaget. Ia bukannya keberatan untuk mengeluarkan uang sejumlah itu, namun ia sudah terbiasa makan di sana sehingga mengetahui kisaran angka yang seharusnya dibayar. Lalu kenapa bisa di luar prediksi dari angka yang seharusnya?
“Lima bungkus makanan serta tiga minuman yang dipesan oleh pelanggan atas nama Mas Beno itu juga tagihannya diatas namakan Mas Kaisar,” ujar gadis bertopi merah sebagai kasir.
Oh… Beno. Rupanya dia membungkus makanan sebanyak itu. Kaisar mengangguk. Kemudian membayar.
“Pada dasarnya perusahaan kita akan semakin berkembang saat kau menikahi Nana, anaknya Pak Hartawan. So, bulan depan kau akan menikah dengannya. Kau hanya perlu duduk diam, sampai akhirnya pernikahan antara kau dan dia akan berlangsung. Semuanya akan papa persiapkan,” ungkap Calvin siang itu.
Kaisar tengah makan siang bersama dengan ayahnya di restoran.
__ADS_1
“Papa mungkin lupa kejadian beberapa bulan silam, tepat ketika pecah pertengkaran hebat antara kita. Inilah topik yang kita bahas,” sahut Kaisar sambil menyeduh kopi hangat dengan sangat santai.
“Papa sebisa mungkin melupakannya. Kau jangan mengikuti pola pikir papa yang keras kepala. Itu tidak baik. Saat kau keras kepala mempertahankan pendirianmu dan papa juga berkeras pada pendirian papa, maka keputusannya tidak akan pernah ketemu.”
“Mengenai pekerjaan, apakah pernah aku keras kepala memegang pendirianku? Keputusan baik dari papa meski bertentangan denganku, pasti aku sanggupi.”
“Yeah. Itu benar.” Calvin mengangguk sembari mengunyah steak. “Memang keputusanku adalah yang terbaik, baguslah kalau kau memahami hal itu.”
“Tapi mengenai jodohku, maka aku yang akan menentukan. Aku yang menjalani pernikahan, maka aku yang menentukan pilihan.”
Tawa Calvin menggelegar. “Itu pembicaraan anak kecil, Kaisar. Apa kau tahu bagaimana papamu ini hidup mejalani rumah tangga? Papa tidak pernah mencintai perempuan, termasuk mamamu. Hidup ini tidak dijalani dengan lebay, harus berdampingan dengan wanita yang dicintai dan bla bla bla. Itu bahasa anak- anak. Hidup ini yang penting enjoy. Dijalani dengan senang. Bekerja, punya banyak uang, menyenangkan wanita dengan uang, dan segala kesenangan lainnya.”
Ternyata begini versi kehidupan menurut Calvin. Segalanya dijalani dengan enteng.
__ADS_1
Bersambung