Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Iri


__ADS_3

Sesampainya di luar, Khanza berhenti agak jauh dari club. “Di sini saja.  Silakan kalau mau bicara.  Jangan sampai topik pembicaraanmu tidak penting.  Aku bisa menggundulimu jika kamu mengucapkan kata- kata yang tidak penting padahal kamu Sudah membuang waktuku.”


“Khanza, aku bukan siapa- siapa mu, tapi aku peduli padamu.  Aku ingin melihatmu baik- baik saja.  Jujur saja aku resah melihatmu memasuki club.”


“Dan ini tidak penting Azam.  Plis!”


“Bagiku penting.”


“Akhlakku adalah urusan ku, juga urusan suamiku.  Kamu tahu aku punya suami, maka biarkan suamiku yang mengurusku, bukan kamu.”


“Aku dengar tadi kamu bilang bahwa kamu sudah bercerai dengan kaisar.”


Khanza terkejut.  “Kamu nguping?”


“Aku tidak sengaja mendengarnya.”


“Lalu apa urusanmu?  Kenapa mengurus kehidupanku?”


“Karena aku peduli.”


“Tidak ada hak manusia lain mencampuri urusan orang lain seperti ini.  Aku seperti sedang digurui oleh orang lain yang bukan siapa- siapa.”

__ADS_1


“Aku mencintaimu, Khanza.  Aku peduli padamu.”  Azam meraih lengan Khanza dan menatap wanita itu dengan lekat.  “Aku resah setiap kali melihatmu begini.  Aku khawatir.  Aku benar- benar ingin kamu baik- baik saja.”


"Khanza!" Zelin tiba- tiba muncul dengan wajah merah padam. Entah amarah apa yang mendadak menggodoknya hingga ia terlihat sebagai manusia yang sedang emosi berat. "Jal*ng! Apa yang ada di pikiranmu? Baru saja kamu dinikahi Kaisar, kemudian sekarang terlihat nempel dengan lelaki lain. Oh my god, apa yang ada di pikiranmu?"


Zada hanya berdiri diantara mereka menjadi penonton.


Khanza menyentak lengannya supaya lepas dari Azam. "Zelin, kamu lihat sendiri Azam yang sejak tadi memburuku. Salahkan Azam, bukan aku."


"Iya, memang bukan kamu. Memang Azam yang terus mengejarmu sejak dulu. Memang selalu kamu yang dipandang wah dan nomer satu oleh semua orang. Kamu yang selalu menjadi pusat perhatian semua orang, bahkan Azam pun demikian. Sampai- sampai kamu sudah menikah pun tetap nama kamu yang selalu dia sebut. Ada apa denganmu, Khanza?" Zelin marah sekali, lebih tepatnya merasa frustasi.


"Zelin, kamu sedang dipengaruhi minuman beralkohol. Pikiranmu hancur. Hentikan ucapanmu itu!" Khanza beranggapan Zelin sedang dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar, dikarenakan kesadarannya dipengaruhi minuman keras.


"Sudahlah. Biarkan ini menjadi urusan kami!" Khanza berusaha melepaskan diri.


"Pulang dan renungkan apa yang aku katakan!" 


"Tidak!"


"Azam! Kenapa kamu tidak sadar juga?" teriak Zelin yang mengejar Azam hingga jarak mereka kembali dekat. "Kenapa kamu masih terus mengejar- ngejar Khanza? Dia tidak pernah mau membuka hatinya untukmu. Yang selalu memperhatikanmu, memiliki waktu untukmu dan menyayangimu adalah aku, bukan Khanza." Zelin berucap dengan kesal.


Khanza terkejut, demikian juga dengan Azam. Tak terkecuali Zada. Semuanya tercengang atas pengakuan Zelin yang tak disangka sangka.

__ADS_1


Dengan air mata berderai, Zelin berucap, "Aku capek, Khanza. Aku capek melihatmu selalu yang terdepan. Aku capek merasakan kesal saat harus melihat semua orang mengunggulkanmu, termasuk Azam. Bahkan lelaki yang aku cintai pun mengejarmu. Semuanya selalu kamu, kamu dan kamu."


"Kalau kamu mencintai Azam, bukan aku yang seharusnya menjauh dari Azam, tapi buatlah Azam balik mencintaimu. Saat Azam memiliki rasa cinta ke kamu, pasti dia tidak akan melirik wanita lain," ucap Khanza berusaha memberi pengertian. "Rasa irimu terhadapku tidak akan mengubah keadaan."


"Justru selagi ada kami, maka Azam tidak akan pernah bisa berpaling darimu, dia tidak pernah bisa melihat dan menyadari cintaku. Selama ini aku bahkan sudah memberikan dan mengorbankan apa saja milikku untuknya. Aku berusaha menunjukkan perasaanku dengan berbagai sikapku ke dia, tapi dia sama sekali tidak menyadarinya. Sebab isi pikirannya hanya ada kamu, Khanza. Kenapa kamu tidak enyah saja dari sini?"


"Temanmu itu sudah gila, Khanza. Tidak pantas kamu berteman dengannya," ucap Azam kemudian berlalu pergi.


Mendengar perkataan Azam, Zelin semakin tersinggung dan kecewa. "Lihatlah, Azam pun sekarang malah membenciku. Semuanya karena kami, Khanza. Aku muak padamu."


"Terserah padamu!" Khanza berpaling, lalu masuk ke mobil dan berlalu pergi. 


Zelin benar- benar sudah gila. Ternyata selama ini Zelin memendam rasa kesal karena cintanya pada Azam. Ada iri dan kebencian yang tertanam dalam benak Zelin yang baru terungkap sekarang. Sungguh tidak pernah menyangka jika ternyata begini kejadian yang sebenarnya. 


Khanza memukul bundaran setiran.


***


Bersambung


Ayuk Ramaikan Novel terbaru Emma shu judul GADIS TARUHAN di Noveltoon yah 🥰

__ADS_1


__ADS_2