
Tok tok…
Suara ketukan pintu membuat obrolan Kaisar dan Khanza terjeda.
Pintu terbuka dan seorang wanita memasuki ruangan. Khanza mengenal gadis itu, tak lain sosok yang melamar kerja bersamaan dengannya, senasib dan seperjuangan. Ternyata dua peluang kerja di kantor itu diisi oleh Khanza dan si gadis berkerudung itu.
“Pagi!” Gadis itu menyapa sopan.
“Jihan, duduklah!” titah Kaisar.
Jihan? Khanza menoleh ke arah gadis berhijab itu. Ternyata itu yang bernama Jihan, kekasihnya Kaisar? Khanza mengawasi gadis itu. Oh… rupanya Khanza sudah lebih dulu berkomunikasi dengan gadis itu sebelum diperkenalkan.
Jihan duduk di kursi samping Khanza.
“Sebagai asisten direktur, kamu sudha mengetahui tugasmu kan?” tanya Kaisar.
“Sudah.”
“Ini kamu input dan besok bisa serahkan ke saya. Kirim via email juga bisa.” Kaisar menyerahkan sebuah data. “Besok sudah harus aku bawa untuk meeting.”
“Baik.” Jihan mengangguk, tampak sangat professional. Tak ada sikap yang berbeda darinya. Dia berlaku selayaknya asisten dengan atasannya.
Hanya saja ada yang sedikit berbeda dari tatapan keduanya. Ketika mereka dalam keadaan bertukar pandang, mata keduanya menunjukkan tatapan penuh cinta, bunga- bunga asmara dipadu rasa malu- malu.
“Kalau ada yang pekerjaan yang tidak dimengerti, kamu bisa tanyakan langsung ke aku. Aku akan mengajarimu.”
“Oh. Aku bisa tanyakan ke Sisi selaku administrasi saja, Pak.”
__ADS_1
“Lebih suka bicara dengan staf administrasi ya dari pada bicara dengan direktut langsung?” Sedikit sudut bibir Kaisar tertarik. Tatapannya masih sama, tatapan yang dibayangi dengan asmara.
“Tidak begitu juga. Aku tahu bapak sibuk, jadi aku akan lebih mengarah ke staf administrasi untuk berkonsultasi.”
“Good. Kamu memang gadis cerdas. Tidak salah jabatan itu jatuh ke tanganmu.”
Jihan menunduk dengan senyum, pipinya merah merona.
“Baik, kamu boleh keluar. Terima kasih atas waktunya.” Tatapan Kaisar terlihat menimang asmara. Ada senyum simpul di bibirnya yang juga megandung bunga asmara.
Jihan mengangguk dengan tersipu, kemudian berlalu keluar.
Mendadak saja Khanza merasa tak bersemangat sekarang. Kejadian di depan matanya membuatnya merasa lemas. Ia pun tidak tahu kenapa respon tubuhnya aneh begitu. Seharusnya ia biasa saja bukan?
“Tidak ada lagi yang perlu dibahas bukan? Aku permisi,” ucap Khanza dengan suara lemah.
Khanza bangkit dan meninggalkan ruangan. Ia terdiam melihat Jihan yang ternyata masih ada di depan pintu. Gadis itu terlihat senyum- senyum sendiri sambil mengusap- usap wajah. Tampak sekali sedang kasmaran. Kebahagiaan terlihat sangat jelas di wajahnya.
Ah, kenapa Khanza jadi merasa aneh saat melihat Jihan kasmaran dengan suaminya begini? Rasanya semangatanya seperti patah. Tiba- tiba saja seperti tak berminat untuk bekerja lagi.
“Eh, Khanza?” Jihan malu sendiri akibat sadar menjad pusat perhatian Khanza.
“Masih di sini?” tanya Khanza lemas.
“Ini baru mau ke ruangan.”
“Oh tunggu!”
__ADS_1
“Ya, kenapa?”
“Kamu asistennya Pak Kaisar ya?”
“Ya, seperti yang kamu dengar tadi. Kita satu server. Smaa- sama melamar kerja, dan akhirnya sama- sama diterima. Keberuntungan ada di kita. Alhamdulillah…”
Gadis itu tampak kalem dan lembut. Idaman lelaki, jauh sekali jika dibandingkan dengan Khanza. Kenapa Khanza jadi minder? Kenapa ia malah merasa bersaing dan membanding- bandingkan dirinya dengan Jihan?
“Kamu melamar ke sini atas persetujuan pak Kaisar sebelumnya ya?” tanya Khanza mengutarakan rasa penasaran di benaknya. Barang kali lamaran Jihan ke kantor hanyalah formalitas semata, padahal dia sudah mendapat jaminan dari Kaisar akan diterima di perusahaan.
“Maksudmu?”
“Kelihatannya kamu mengenal dekat Pak Kaisar. Mungkin sebelum memalar, kamu sudah mendapat kursi dari Pak Kaisar,” jelas Khanza sedikit kurang nyaman saat menyampaikannya.
Di luar dugaan, Jihan malah tersenyum, gadis itu tampak tidak tersinggung. “Tentu tidak. Pak Kaisar itu adalah orang yang amanah, baik dan berhati mulia. Dia tidak akan mengotori tangannya dengan melakukan praktik kecurangan seperti yang kamu curigakan.”
Khanza melempar sneyum kaku. “Maaf. Aku tidak bermaksud menuduh kamu begitu. Aku menyinggungmu ya?”
“Tidak masalah kok. Aku mengerti. Aku melamar ke sini tanpa sepengetahuan Pak Kaisar. Dia pun kaget saat tahu bahwa asistennya adalah aku. Oh ya, dari mana kamu tahu kalau aku sudah mengenal dekat Pak kaisar?”
“Aku hanya menduga saja.” Khanza bingung harus menjelaskan apa. “Aku permisi.”
Ada yang aneh dengan hati Khanza. Lemas.
***
Bersambung
__ADS_1