
“Jadi bagaimana urusanmu dengan Khanza? Apakah benar- benar sudah selesai? Maksudku sudah benar- benar pisah?” tanya Beno yang pagi itu mendatangi rumah kontrakan Kaisar.
Seperti biasa, Beno kerjaannya adalah menyusahkan orang lain. Dan kali ini ia datang untuk menumpang mobil milik Kaisar. Ia ingin kembali ke Jakarta bersama dengan Kaisar untuk memulai pekerjaannya di pabrik.
Kaisar saat itu sedang mengenakan baju seusai mandi. “Ya, aku emmang sudah menalaknya. Kami berpisah.”
“Kudengar dari Zada, kau tadi malam mencari Khanza di club. Apa kau ingin rujuk dengannya?”
Kaisar diam saja.
“Untuk apa kau mencari Khanza sampai ke club jika bukan karena ingin kembali kepadanya? Apakah masih ada hal penting yang perlu dibahas selain permintaan rujuk?” tanya Beno yang tengah berbaring di kasur sambil ngemil kerupuk.
“Hei, lebih baik duduk! Jangan berbaring begitu! Butiran kerupukmu bertaburan di kasurku!”
Beno terkekeh. Ia pun pindah dan duduk di lantai. Mulut tak henti mengunyah. “Kau boleh bercerita padaku mengenai masalahmu. Tapi itu pun kalau kau beranggapan bahwa aku ini amanah dan mampu memberikan solusi dan nasihat untukmu. Tapi kalau kau beranggapan aku tidak mampu memberikan manfaat apa pun, lebih baik jangan. Aku tahu, manusia bisa bijak saat memutuskan masalah orang lain. Tapi belum tentu bijak saat tertimpa masalah dalam kehidupannya sendiri.”
“Ya, aku memang mengajak Khanza untuk kembali membina rumah tangga kami. Tapi…”
“Tapi apa?” potong Beno.
“Tapi Khanza menolak. Dia masih ingin hidup bebas.”
“Sebenarnya kamu mengajak Khanza rujuk itu atas alasan apa?”
Kaisar memutar mata.
“Kau mendapat pengaruh dari Jihan supaya mempertahankan rumah tanggamu?” tebak Beno.
__ADS_1
Kaisar menggeleng.
“Kau takut dinobatkan sebagai manusia buruk di mata Tuhan karena gagal membina rumah tangga?” tebak Beno lagi.
Kaisar menggeleng lagi.
“Lalu?”
“Aku baru sadar bahwa ada ruang untuk Khanza di hatiku.”
Beno tersenyum lebar. “Kau jatuh cinta padanya?”
“Mungkin.”
“Kok mungkin? Kau sudah pernah jatuh cinta. Seharusnya kau paham dengan apa yang kau rasakan.”
“Lalu, bagaimnaa dengan Jihan? Apa kau sudah memberi keputusan kepadanya?”
“Dia memintaku untuk memilih dengan cara yang baik. Apa pun keputusannya, dia akan terima. Dan sepertinya aku lebih ingin mempertahankan Khanza.”
“Meski terlihat sama seperti menjilat air liur sendiri, begitu?”
“Dalam kamus tuntunanku, tidak ada istilah itu, Beno. Tuhan selalu memberika peluang lebar untuk semua orang yang bersalah untuk memperbaik dirinya, termasuk dalam urusanku ini.”
“So, menurutmu kenapa Khanza menolakmu? Bukankah dia seharusnya menerimamu karena dia tahu kau itu orang kaya? Dia menyukai pria kaya bukan?”
“Yang jelas, dia masih ingin sendiri katanya. Dia masih ingin bebas.”
__ADS_1
Beno mengangguk.
Kaisar ikut duduk lesehan di lantai. Bayangannya megenang saat Khanza duduk manis di meja club sambil minum. “Sejauh ini, aku baru menyadari satu hal, aku merasa tidak rela melihat Khanza memiliki kehidupan sebebas itu. Aku ingin mengajaknya hijrah. Sangat ingin. Aku marah dan kesal melihat Khanza seperti sekarang ini. Aku merasa sudah menyia- nyiakan kesempatan saat menjadi suaminya. Aku gagal.”
“Kau tidak gagal. Semuanya masih bisa diperbaiki. Apa alasan yang kau sampaikan kepada Khanza saat kau mengajak dia rujuk?”
Kaisar hanya mengangkat alis. Ia bahkan hampir lupa apa yang dia katakan saat megungkapkan keinginannya untuk rujuk kepada Khanza.
“Apa kau mengungkapkan bahwa kau mencintainya?” tanya Beno.
“Tidak.”
“Nah, itulah kesalahanmu. Kenapa kau tidak mengungkapkan perasaanmu itu kepadaya. Barang kali dia bisa menerima mu ketika kau mengatakan bahwa kau mencintainya.”
“Apakah menurutmu itu akan bisa mengubah keadaan?” Kaisar balik tanya.
“Tentu. Saat tahu kau mencintainya, bisa jadi ruang hatinya juga akan terbuka untukmu.”
“Tapi dia tidak mencintaiku. Pengakuanku tidak akan mengubah keadaan hatinya.”
“Kau salah, Kaisar. Pengakuanmu setidaknya akan membuat Khanza mengerti bahwa ternyata kau mencintainya. Perasaan Khanza juga pasti akan berbeda saat kau mengakuinya. Percayalah! Meskipun Khanza itu judes, bar- bar dan galak, tapi dia masih punya nurani. Dia manusia. Dia perempuan. Perempuan tidak memiliki batas apa pun dalam menyayangi, dia bisa mengobati luka jarimu meskipun kedua tangannya sendiri terluka.”
Kaisar terkekeh. Ia mengacak rambut kriwil Beno dengan sekali usap. Lalu bangkit berdiri. “Sudahlah, ayo cepat kalau kau mau ikut denganku. Kita kembali ke Jakarta.”
***
Bersambung
__ADS_1