
Khanza sangat ingin menghancurkan wajah Rama yang baru saja dia lihat seperti monster, seakan- akan Rama benar- benar ada di hadapannya. Dan yang terjadi sekarang, ia melempar hp ke lantai. Awalnya berharap kepala Rama remuk, tapi malah hp yang jadi retak.
Ah, Khanza tak peduli itu. Ia benar- benar panik dan bingung.
Dan apa tadi? Rama bilang melenyapkan Kaisar? Memangnya apa yang membuat Rama tiba- tiba muncul dan melakukan hal sekeji itu? Motif apa yang membuat Rama mendadak tersulut emosi? Kaisar dan Khanza tidak punya urusan dengan Rama. Mereka bahkan tidak pernah bertemu sejak lima tahun silam, lalu kenapa Rama muncul seperti orang kesurupan begitu?
Kebingungan, Khanza lalu ke kantor polisi. Inilah satu- satunya jalan yang harus ia lakukan untuk dapat meminta bantuan mencari keberadaan Kaisar. Entah mungkin ia terlambat atau bahkan tak bisa menyelamatkan Kaisar, namun ia akan lakukan apa pun.
Sambil menangis, Khanza menyetir mobil dengan kecepatan tinggi.
Di kantor polisi, Khanza melaporkan seluruh kejadian yang menimpanya, tentang Kaisar yang menghilang, darah di lantai halaman rumah, serta telepon dari Rama.
Pihak kepolisian bergerak cepat menangani hal itu setelah menampung laporan yang disampaikan oleh Khanza. Untungnya hp Khanza masih bisa menyala meski layarnya sudah retak. Polisi menggunakan hpmilik Khanza untuk mencari bukti tentang Rama.
Polisi menanyakan ciri- ciri rempat persisnya Rama saat vodeo call, dan Khanza menyebutkan sesuai apa yang dia saksikan tadi. Ada sebuah jembatan warna hijau di belakang Rama, suara air, dan anginnya kencang.
Mendapat keterangan itu, polisi bergerak menuju ke lokasi yang disebutkan. Titik keberadaan Rama akan dengan mudah dilacak melalui hp nya.
Beberapa jam Rama dalam buronan, pria itu dengan mudah diringkus oleh pihak kepolisian. Ia digelandang menuju kantor polisi sesaat setelah ditangkap di sebuah rumah kontrakan.
__ADS_1
Dan saat ia digelandang dengan kedua tangan diborgol ke belakang bersama dengan beberapa polisi yang mengawal, di koridor itu ia bertemu dengan Khanza. Mereka berpapasan dan bertukar pandang.
“Dimana Kaisar?” Suara Khanza bergetar hebat. Antara kemarahan dan kepanikan berbaur menjadi satu. Bagaimana nasib suaminya itu? Apakah dia masih bernapas? Ah, kenapa pikiran Khanza ekstrim sekali? Seharusnya ia berdoa akan keselamatan suaminya.
“Kaisar sudah mati.”
“Kau akan menerima hukuman berat. Tuntutanku kepadamu adalah hukuman terberat.”
“Aku tidak mau polisi menghukum aku seumur hidup, aku maunya dihukum mati. Ditembak.” Rama berbicara dengan antusias. Berharap mendapat kematian.
Dasar gila! Bagaimana mungkin ada orang yang berharap mati di tangan orang lain?
“Kenapa kamu lakukan ini pada Kaisar? Salah apa dia padamu?” Urat rahang Khanza mengeras, rasanya ingin mencabik- cabik wajah di hadapannya.
Rama kemudian menceritakan dengan penuh emosi, bagaimana ia terpuruk setelah kejadian waktu itu. Pak kades merasa malu memiliki putra sepertinya, sampai- sampai terucaplah kata- kata tak pantas dari mulutnya.
Rama selama ini dianggap patuh meski sering berkumpul dnegan anak- anak muda yang kesehariannya menghabiskan waktu dengan kegiatan tak bermanfaat.
Saking malunya di hadapan kedua orang tua, Rama memilih untuk kabur dari rumah. Dia pergi ke Jakarta. Siapa sangka, di Jakarta ia tertimpa kesilan bertubi- tubi. Nasibnya apes sekali. Dipukulin warga saat dituduh sebagai penculik anak, sampai hampir mati gara- gara dihakimi warga, bahkan hampir dibakar massa. Hal itu terjadi akibat isu yang gencar beredar di kalangan masyarakat mengenai maraknya penculikan anak yang sampai detik ini belum terbukti kebenarannya.
__ADS_1
Untung saja ada salah seorang warga yang mengamankannya ke kantor polisi. Rama bahkan menghabiskan banyak uang untuk pengobatannya akibat luka yang diderita cukup parah.
Setelah itu, Rama memulai hidup dengan berjualan sosis keliling. Sayangnya usaha baik yang dia lakukan malah ngenes saat gerobaknya ditabrak mobil. Ia menderita luka dilengan akibat terkena minyak pana, gerobak hancur, dagangan pun habis berserakan.
Tak hanya itu saja, Rama yang menjadi korban tabrakan itu malah dituduh sebagai tersangka oleh si penabrak yang tak lain adalah mantan pensiunan polisi, si pemilik mobil merasa dirugikan akibat mobilnya yang menjadi penyok setelah bertabrakan dengan gerobak. Tidak ada cctv di sekitar sana hingga ia terpuruk dan kalah bicara.
Rama dipenjara selama delapan bulan akibat kasus itu. di penjara pun, Rama harus menderita bertubi- tubi karena menjadi bahan bulian dan sering berkelahi dengan sesama tahanan hingga mengakibatkannya keluar masuk rumah sakit.
Setelah keluar dari penjara, Rama bekerja menjadi kuli di sebuah pabrik yang ternyata perusahaan tersebut adalah milik Kaisar. Kesialan kembali menimpanya. Kelingkingnya putus terjepit alat. Tak hanya itu saja, ia sempat membuat pabrik rugi karena kelalaian hingga ia tidak digaji dan di PHK.
Penderitaan hidupnya yang seakan tiada putus, membuatnya merasa terpuruk. Hingga akhirnya ia berpikir bahwa penderitaan yang bertubi- tubi itu disebabkan oleh Kaisar. Saat ia melihat Kaisar di pabrik dan disebut sebagai CEO di sana, ia pun mulai beraksi ingin melenyapkan Kaisar. Ia mencari tahu alamat rumah pria itu dan mulai memikirkan cara untuk bisa membunuhnya.
Ketika ia mendapat kesempatan baik, saat itulah ia menikam Kaisar.
“Dimana Kaisar?” Khanza menatap Rama emosi.
“Temukan saja mayatnya di dasar sungai. Dia pasti sudah mati dan membusuk.” Rama tertawa.
Polisi menggelandangnya pergi.
__ADS_1
Khanza terdiam dengan tubuh lemas.
Bersambung