
Kaisar membuka pintu mobil, ia sedang ingin menyetir mobil sendiri. Tidak ingin diganggu supir. Pekerjaannya hari ini padat sekali, dan ia akan segera mengadakan meeting setelah mendapat pemberitahuan dari Jihan mengenai jadwal meeting tersebut.
Baru saja tubuh Kaisar hendak masuk ke mobil, ia terkejut saat merasakan tusukan pisau dari arah samping. Benda itu tajam dan menghunus sangat dalam ke perut bagian samping. Bahkan ketika Kaisar menoleh, sosok pria yang memegangi gagang pisau itu kembali menghujamkan benda tajam itu lebih dalam lagi.
“Kau?” Kaisar terbata. Tangannya memegangi perut.
“Mampus!” bisik pria itu kemudian balik badan dan pergi dengan langkah lebar tergesa- gesa.
Tangan Kaisar terangkat ingin menjangkau apa saja, namun lebih dulu tubuh lemas itu ambruk ke lantai halaman bersama dengan warna merah yang bersimbah dan mengalir cukup deras.
Tubuh itu menggeliat, tangannya mencengkeram apa asaja, namun yang dicengkeram hanyalah jemarinya sendiri. rasa nyeri menjalar sampai ke tulang punggung.
__ADS_1
“Aaarrrgkh…” erang Kaisar berharap itu adalah mimpi di siang bolong dan saat ia terbangun maka semuanya akan berubah, tapi tidak. Ini nyata. Kaisar merasakan sakit yang luar biasa. Hingga akhirnya pandangannya pun gelap.
***
Khanza duduk di lantai beralaskan permadani. Ruangan itu dingin sekali. Ia tengah mengikuti pengajian bersama dengan ustadzah Fatima. Ini adalah hari pertama ia mengikuti pengajian sesuai dengan rekomendasi yang disebutkan oleh Kaisar.
Tempat pengajian begitu nyaman. Selain ruangan yang asri dan bersih, juga ada jendela berukuran besar yang langsung menghubungkan dengan pemadangan hijau di bawah sana. Indah sekali. Mereka sedang berada di lantai tujuh belas, sebuah hotel ternama.
Dengan seulas senyum, ustadzah yang sudah tiga puluh menit sejak tadi memberikan tausiah dengan tema kematian itu pun berkata, “Di dunia ini kita hidup hanya sementara. Semua makhluk yang hidup, termasuk manusia akan mengalami kematian yang pasti. Dunia hanya sebagai tempat persinggahan maupun penginapan untuk menunggu hari akhirat. Tak seorang pun mengetahui datangnya kematian, termasuk Rasulullah SAW juga tidak mengetahuinya. Kematian itu bak 'Alif Lam Mim', ayat pertama surat Al-Baqarah, yang berarti hanya Allah yang tahu.”
Khanza menyimak. Ternyata mengikuti pengajian benar- benar dapat memberikan siraman rohani.
__ADS_1
“Bagi dunia, Anda mungkin seorang miliarder, selebriti, tokoh penting, pejabat atau apa pun itu yang berkelas dan dinilai hebat. Tapi bagi malaikat maut, Anda tidak lain hanyalah sebuah nama yang sudah ada dalam daftar.”
Kenapa kulit tubuh Khanza mendadak jadi meremang saat mengingat kematian? Mungkin ini efek karena belum siap mati, jadi bawaannya tegang dan takut saat disinggung mengenai kematian.
“Mungkin hari ini kita masih di sini dan menghirup napas dengan bebas, tapi besok belum tentu. Kematian bisa datang kapan pun. Dan supaya bisa meninggal sebagai muslim, maka Anda harus menjalani hidup setiap saat sebagai seorang muslim. Tidak ada waktu untuk nanti.”
Semuanya mendengarkan.
“Kuburan penuh dengan orang- orang yang dahulu berpikir bahwa mereka akan mengamalkan Islam saat mereka tua. Usia tua tidak dijanjikan kepada siapa pun. Sebagain besar orang beranggapan bahwa kematian masih jauh, jauh sekali. Namun saat hari itu tiba, maka sudah terlambat untuk melakukan apa yang bisa kita lakukan hari ini.”
Hening. Jika wanita bercadar tidak berbicara, ruangan benar- benar hening.
__ADS_1
Bersambung