
Khanza kali ini keluar rumah tanpa memakai jaket seperti baisa, juga tanpa topi. Rambutnya yang panjang diikat satu di ubun- ubun. Dia tampak seperti gadis berusia delapan belas tahun. Tetap cantik dan lincah.
Di bawah terik panas matahari, gadis berkulit putih dengan kaos lengan panjang itu melangkah gontai. Jalanan lengang. Meski matahari terik, namun Khanza terlindungi oleh pepohonan yang berjejer rapi di sepanjang sisi jalanan.
Khanza terkejut saat melihat dompet tebal seorang pria terjatuh tepat di hadapannya. Bahkan uang ratusan ribu tampak begitu tebal di dalamnya, membuat isi dompet seakan hendak memuntahkan isinya. Si pria yang berjalan melewati siisnya melangkah begitu cepat sambil berteleponan. Tak sadar dompetnya terjatuh begitu saja.
Khanza membungkuk untuk memungut dompet. Jika saja ia mengantongi dompet itu, pasti ia untung banyak. Pendapatannya hari ini pun memuaskan. Tapi ia tidak melakukannya. Pertemuannya dengan Kaisar tempo hari membuatnya seperti mendapat tamparan keras, mendadak saja ia seperti mendapat petunjuk bahwa hidup itu hanya sementara. Untuk apa hidup jika hanya untuk mengumpulkan dosa? Toh yang mempertanggung jawabkan dosa itu adalah Khanza sendiri.
Khanza mati- matian memikirkan kehidupan dunia yang semuanya dikerjakan dengan haram, sementara ia tidak memikirkan tabungan untuk akhiratnya.
Aneh, hanya melihat wajah Kaisar saja, mendadak Khanza mendapat hidayah dadakan. Padahal Kaisar tidak megatakan apa- apa terhadapnya, tapi muka Kaisar yang aslinya sejak awal menunjukkan pria baik, membuat Khanza seperti mendapat tausiah ghaib dari mukanya Kaisar. Lucu!
“Mas! Mas!” Khanza setengah berlari mengejar sosok pria di depan.
Pria itu terlihat baru saja mengantongi hape ke celana.
“Mas, ini dompetnya jatuh!” Khanza menghadang pria itu dan menjulurkan dompet.
Pria itu diam menatap Khanza. Sedangkan Khanza memaku di tempat saat melihat wajah si pria, tak lain Kaisar.
Ya ampun, baru saja Khanza berpikir tentang Kaisar, kini pria itu muncul di hadapannya.
__ADS_1
“Kaisar, ini dompetmu?” tanya Khanza datar.
“Ya. Kenapa kamu tidak mengambilnya?”
Khanza menarik tangan kaisar dan menaruh dompet itu ke telapak tangan pria itu. kemudian ia segera menyeberangi jalan, meninggalkan Kaisar.
“Aku tidak bermaksud menyinggungmu,” ucap kaisar mengikuti langkah Khanza, menjajari wanita itu.
“Aku tidak tersinggung.” Khanza berbicara tanpa menoleh.
“Lalu kenapa pergi begitu saja?”
“Kita masih saling kenal bukan?”
Belum sempat Khanza menjawab, sebuah mobil yang melaju kencang membunyikan klakson beberapa kali, membuat Kaisar terkejut melihat mobil yang melaju kencang menuju kea rah mereka. Dengan cekatan, lengan Kaisar meraih tubuh Khanza dan melompat ke samping untuk menghindar.
Bruk!
Tubuh keduanya terjatuh ke tanah.
Khanza merasakan lengannya sakit sekali akibat terhantam ke tanah cukup kuat, namun ia tidak peduli hal itu. Perhatiannya tertuju ke wajah Kaisar yang berada sangat dekat dengannya. Kedua lengan pria itu pun masih melingkar di punggungnya.
__ADS_1
Wajah Kaisar masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Di posisi seperti ini, Khanza merasakan sesuatu yang aneh.
Teriakan dan makian pengemudi mobil yang hampir saja menabrak itu tak dihiraukan. Segala jenis nama- nama di kebun binatang sudah dia keluarkan. Kemudian mobil itu melaju kencang untuk meneruskan perjalanan setelah sempat memelankan mobilnya.
“Lepaskan! Ini tidak boleh!” Khanza cepat- cepat bangun.
“Ini urgent. Kalau tidak, kamu tadi sudah menjadi gepeng.”
“Oke. Makasih.”
“Lain kali boleh melihat ke kiri kanan dulu kalau mau menyeberangi jalan.”
“Ya.” Khanza mengangguk kecil. “Oh ya, kamu tidak perlu mengetes aku dengan cara menjatuhkan dompetmu di hadapanku untuk menangkap aku sebagai pencuri. Aku sudah tidak menekuni profesi itu lagi sejak beberapa jam yang lalu.”
Kaisar bingung harus menanggapi apa.
“Dan kamu juga tidak perlu mengkondisikan situasi supaya pertemuan kita seakan- akan terlihat tidak sengaja,” ungkap Khanza. “Sejak kapan kamu mencari tahu informasi tentang aku di sini?”
Kaisar memutar mata. Ia ketahuan sekarang.
Bersambung
__ADS_1