
Kaisar melangkah gontai memasuki rumah besar yang halamannya luas dengan pemandangan memikat mata. Rumah yang sudah berbulan- bulan dia tinggalkan. Pintu berukuran besar itu dia dorong hingga terbuka. Sepatunya melangkah masuk melewati pintu.
Kini ia berhenti di tengah- tengah ruangan luas di atas lantai marmer yang berkilau, lampu gantung menambah kesan mewah. Kaisar menatap setiap sudut ruangan, masih sama seperti saat dia tinggalkan. Tidak ada yang berubah.
Tepat ketika ia meninggalkan rumah itu, ia pun meninggalkan segala kemewahan, termasuk kartu kredit, kartu debit dan segala bentuk yang bersangkutan dengan harta, dia sengaja tinggalkan begitu saja. Hanya dengan membawa uang sekitar sepuluh juta, ia kabur dari rumah.
Tadi malam, ia terpaksa meminta asistennya mengirimkan uang sejumlah tiga ratus juta yang tentu saja atas persetujuan Calvin, ayahnya. Jika tidak, bisa- bisa Calvin malah menuduhnya mencuri.
“Oke. Silakan ambil uang senilai tiga ratus juta, dengan syarat kau kembali ke rumah, kembali memimpin perusahaan, dan menikah dengan Nana.”
Itulah pernyataan yang disampaikan Calvin via telepon. Terpaksa Kaisar membuka kembali kartu lamanya supaya bisa berkomunikasi dengan papanya. Mengenai syarat pertama, bahwa Kaisar harus kembali ke rumah itu lagi, ia bisa menerima. Kemudian syarat kedua, memimpin perusahaan, juga akan dia lakukan.
__ADS_1
Tapi syarat ke tiga, yaitu menikahi Nana, Kaisar masih ingin berpikir panjang. Ada banyak hal yang perlu dia pikirkan. Tentang Jihan, juga Khanza yang sampai detik ini masih berstatus sebagai istrinya.
Sebelum pergi meninggalkan kontrakan, Kaisar sempat berpesan kepada Beno supaya temannya itu tetap mencari tahu kebenaran supaya nama baik Kaisar di komplek cendrawasih akan kembali pulih. Kaisar meminta supaya Beno menemui pemilik rumah terakhir yang cctv- nya jelas menangkap pemandangan di depan rumah kontrakan yang ditempati Kaisar.
Jika bukan karena kekesalannya terhadap Subrata dan Khanza sudah memuncak, Kaisar pasti masih bertahan di kontrakan. Tapi Kaisar juga manusia, yang tak tahan dengan hinaan dan cacian dari lidah pahit mereka.
“Bagus! Akhirnya kau kembali juga.” Calvin menuruni anak tangga. Kedua tangannya tampak masuk ke kantong celana. Tampilannya khas seorang pengusaha besar dengan stelan jas warna abu- abu.
“Selamat datang!” Calvin menatap sinis, meremehkan putranya yang pergi dan akhirnya kembali karena membutuhkannya. “Aku sudah tahu, kau pasti tidak akan bisa hidup tanpa harta ini. Sejauh mana kau pergi tanpa uang? Tanpa perlu aku mencarmu, kau pasti juga akan kembali. Selamat datang di kehidupan baru! Kembalilah memulai hidupmu dari sini! Cepat berkemas! Papa tunggu di kantor!”
Siulan Calvin terdengar penuh kemenangan dan kegembiraan. Putra yang dianggap hebat akhirnya telah kembali. Tak bisa dipungkiri, Calvin jelas membutuhkan seorang Kaisar, sosok yang berbakat dalam hal kepemimpinan.
__ADS_1
Ambisi Calvin dalam berbisnis memang tinggi, sampai- sampai dia mempertaruhkan kebahagiaan Kaisar dalam hal memilih pasangan hidup demi memperluas bisnisnya.
Kaisar sama sekali tidak memikirkan jabatan, harta dan tahta. Dia hanya ingin hidup di dunia ini dengan benar sesuai dengan tuntunan. Itu saja.
Kaisar kemudian mandi dan berangkat ke kantor menggunakan mobil pribadi miliknya. Suunguh tampan wajahnya saat berpenampilan seperti seorang pejabat. Menggunakan kemeja rapi yang dimasukkan ke dalam, ikat pinggang keren dan sepatu mengkilap.
Welcome, kantor! Kaisar akan kembali duduk di kursi kepemimpinan, yang tentunya juga akan menjadi pusat perhatian para wanita.
***
Bersambung
__ADS_1
Cieeee... yang balik lagi ke kursi semula.. 😁😁 kasih semangat dong buat Kaisar meski sekarang sedikit bingung dia, ada tiga pilihan soalnya... 🥴🥴