
Kaisar berjalan kaki menuju ke sebuah rumah yang aura keunikannya mencolok dengan cat berwarna- warni, pagar tinggi sebelah dan berbagai keunikan yang aneh lainnya. Tak lain rumah Subrata, yang di dalamnya katanya ada Khanza.
Rumah itu tidak begitu jauh dari rumah kontrakan Kaisar. Jarak lima ratus meter saja. Oleh sebab itu kaisar berjalan kaki. Sengaja berjalan kaki supaya tidak ketahuan kalau ia mendatangi ke sana.
Dengan mengenakan jaket hitam, kepala ditutup topi jaket, Kaisar menatap rumah itu. matanya mencari jendela yang kemungkinan adalah jendela kamar Khanza. Namun tidak menemukannya karena jendela kamar di lantai dua sangat banyak.
Kaisar sudah mencoba menelepon Khanza, namun tidak aktif. Ia memegangi teralis besi pagar, mengembuskan napas. Haruskah ia berlaku seperti maling begini?
“Woi… Siapa itu? maling?” Subrata berteriak saat memergoki keberadaan kaisar.
Nah kan, malah Subrata yang muncul. Padahal Kaisar berharap Khanza- lah yang keluar. Kaisar bergegas kabur. Ambil langkah seribu. Andai saja Subrata memergoki wajah kaisar, pasti pria tua itu langsung ke Ge- Er an dan beranggapan bahwa Kaisar membutuhkan banyak dari putrinya Subrata. Hal itu pasti akan menjadikannya tinggi hati dan makin mencemeeh Kaisar.
Lalu dengan entengnya pria tua itu akan berkata, ‘Nah kan, terbukti kamu itu membutuhkan putriku. Kamu tidak bisa hidup tanpa dia. Mengaku sajalah kalau kamu mengemis kepadanya. Memang sudah sewajarnya wanita secantik Khanza didambakan oleh para lelaki. Ya sudah, ambil putriku dan berikan aku uang!’
Setelah jauh berlari, akhirnya Kaisar berhenti dengan napas ngos- ngosan. Hadeuh, begini amat Cuma mau ketemu Khanza saja.
Kaisar membungkuk dengan kedua tangan memegangi lutut untuk mengatur napas.
“Mas, kayak dikejar hantu begitu?” tegur salah seorang ibu yang melintas.
“Iya. Maksudnya, iya sedang dikejar gelap.”
“Haduh, Mas Kaisar mah ada- ada aja.” Si Ibu yang menenteng plastik berisi jajanan anak berlalu pergi.
Kaisar kembali melangkahkan kaki. Menyusuri jalan sepi yang lumayan terang oleh lampu- lampu jalanan.
__ADS_1
“Kaisar, sini mampir. Minum minum dulu!”
Teriakan itu membuat Kaisar menoleh ke arah kedai kopi. Mbak Ica, pemilik warung tersenyum. Setidaknya ada lima pengunjung lain yang menikmati kopi hangat di kedai itu.
Tawaran Mbak Ica ada baiknya juga. Kaisar sedang butuh kopi saat ini. Ia pun mampir ke kedai itu. Ia memesan kopi.
“Diminum di sini ya?” tanya Mbak Ica di balik meja kerjanya, tempat pembuatan minuman.
“Dibawa pulang saja.”
“Kenapa nggak minum di sini aja?”
“Ingin minum di rumah,” jawab Kaisar sekenanya. Ia berdiri di dekat meja tempat pembuatan kopi.
“Jadi isu tentang penggerebekan itu rupanya hanya pemfitnahan saja ya? Ketiwasan penduduk sini sudah pada beranggapan miring terhadap Kaisar,” ucap Mbak Ica.
“Aku juga awalnya nggak percaya kalau Kaisar bisa berbuat sehina itu,” timpal pengunjung laki- laki yang duduk di salah satu meja.
“Nah, sama. Masak orang yang kelihatan baik bisa zina ya kan?” sahut lainnya.
“Eeh… rupanya kelakuan anak pak Kades. Kelewatan banget mereka yang berbuat itu ya.”
“Kenapa tidak dilaporkan saja ke polisi biar mereka mendapat hukuman dan memberikan efek jera?”
Seketika topik pembahasan mengenai Kaisar dan Khanza menjadi tema yang hangat untuk dibicarakan.
__ADS_1
“Mereka sudah mengakui kesalahan dan mengaku salah. Mereka juga sudah minta maaf. Ini yang paling penting. Tidak ada yang tahu taubat manusia kan? Kalau mereka insaf, apa salahnya memberikan kesempatan untuk mereka?” balas Kaisar.
“Tapi aku kok gedek ya. Ini menyangkut sampai ke urusan rumah tangga dan masa depan loh,” sahut Mbak Ica.
“Nah, bener itu,” timpal yang lain.
“Cuma hanya karena kedengkian, mereka sudah merampas sewaktu, kebebasan, pilihan dan banyak hal lainnya. Ini tidak dibenarkan.”
“Sudah. Saya pikir ini tidak perlu dibahas lagi,” pinta Kaisar ingin menghentikan gibahan itu. “Aku permisi.” Kaisar sudah mendapatkan satu cup minuman yang dia pesan.
Ia lalu membawa satu cup kopi tersebut menuju ke kontrakannya. Hanya perlu berjalan kaki hingga Kaisar sampai ke rumah kontrakannya.
Seperti yang sudah dia janjikan pada Mak Iyum, bahwa Kaisar akan menginap di sana satu malam saja.
Ia letakkan gelas kopi tersebut ke meja teras, lalu duduk dan mulai menyeruput kopi. Hatinya kini sudah lega, nama baiknya sudah dibersihkan dan diklarifikasi dengan hormat. Berita itu pun sudah menyebar ke seantero komplek. Membuat para emak- emak yang suka bergosip pun mendapat bahan gibahan hingga mulut berbuih saat membahasnya.
“Zada!” Kaisar berseru ketika melihat Zada melintas menggunakan motor matik di depan rumahnya.
Gadis yang mengenakan helm putih itu kebetulan menoleh ke arah rumah kontrakan Kaisar dan ia cukup mendengar suara teriakan pria itu, segera ia menghentikan motornya.
“Ya? Kamu memanggilku?” Zada membuka kaca helmnya sembari mematikan mesin motornya.
Kaisar berlari kecil meninggalkan teras dan menghampiri Zada. “Mm… Sepertinya tidak tepat jika aku menanyakannya kepadamu, tapi aku ingin tahu dimana Khanza?”
__ADS_1
Bersambung