Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Pesan


__ADS_3

"Ya ampun, Kaisar ternyata kamu bisa membuatku jadi kalang kabut begini. Tapi kenapa aku jadi gugup, takut dan bingung memikirkan isi surat ini?" Khanza berbicara sendiri. Ia menata jantung supaya tidak takut, kemudian mulai membaca isi surat yang ternyata tidak banyak, beberapa baris kalimat saja.


'Jika ingin dimanusiakan oleh orang lain, belajarlah terlebih dahulu untuk memanusiakan orang lain, pendidikanmu tidak akan dipertanyakan jika kamu memelihara etika dan moral yang baik.


Aku pergi.


Kaisar.'


Khanza terdiam. Tiba- tiba saja hatinya menjadi kebas, padahal kalimat yang nilainya serupa itu juga pernah dilayangkan oleh Kaisar, tapi Khanza membalasnya dengan muak dan abai.


Tapi kenapa saat Kaisar menuliskannya di sepucuk surat, rasanya berbeda? Seperti ada yang mengetuk di dalam dada sana. Seakan hati Khanza ditampar keras. Kenapa sebesar ini efek dari kata- kata di dalam isi surat Kaisar?


Khanza tidak mau mengepal surat itu dan membuangnya ke tong sampah. Ada ketertarikan sendiri pada surat itu hingga membuatnya merasa ingin mengulang untuk membacanya lagi, suatu saat nanti. 


Khanza melipat kertas itu dan memasukkannya ke laci. Ia terdiam beberapa detik, sampai akhirnya ia merasa tenang dan mulai menyalakan mesin mobil. Harapannya kini, bisa mencapai apa yang dia inginkan. 

__ADS_1


***


Diantara dua belas wanita cantik berpenampilan fashionable, Khanza adalah salah satunya. Mereka duduk di ruangan luas hampa seperti aula atau sejenis meeting room. 


Khanza tak kalah menarik diantara para gadis lainnya. Dia mengenakan blazer cokelat dengan kemeja dalam warna putih, dipadu rok sepan separuh paha warna abu- abu. Rambutnya baru saja masuk salon, pilinan rambut bagian bawah tampak sangat menarik. Sepatu high heels melapisi kaki jenjangnya, dipadu tas kecil yang talinya menggayut di salah satu pundak, sangat elegan.


Mereka adalah orang- orang yang lulus seleksi dan dipanggil setelah mengajukan lamaran via email, kemudian baru saja menjalani tes beberapa jam lamanya.


Sebenarnya, sedikitnya ada empat ratus tiga puluh lima orang yang mengajukan lamaran setelah tiga hari dibuka lamaran di situs online, kemudian seratus orang dipanggil untuk menjalani tes. 


Ac yang dingin membuat mereka lumayan betah meski harus menunggu cukup lama. Jabatan yang mereka kejar saat ini cukup bagus dan gaji minimal juga besar. Jadi mereka berlomba menunjukkan dedikasi dan kelebihan masing- masing.


Mereka tidak saling mengenal karena berasal dari daerah yang berbeda- beda, namun tujuan mereka sama. Meski tidak saling mengenal, namun mereka sudah sempat mengobrol seperlunya saat di ruangan tes.


Beginilah potret di negeri ini, betapa banyak pengangguran yang butuh pekerjaan dan sedikitnya pencipta lapangan pekerjaan, sehingga kebutuhan tenaga kerja hanya dua orang, tapi yang melamar bisa sampai sebanyak ini.

__ADS_1


"Diantara kita, kira- kira siapa yang akan berhasil menjebol gawang? Maksudku siapa yang bakalan diterima?" Seorang gadis berambut pirang potongan bob menyeletuk dengan senyum.


Pertanyaan itu membuat sejurus pandangan bertukar pandang. Para ladies yang kecantikannya bak para wanita yang menjalani seleksi menuju ke final untuk menjabat sebagai puteri Indonesia itu menanggapi dengan ekspresi yang berbeda- beda, ada yang cuek, ada yang senyum, tertawa, tak peduli, ada pula yang sinis dan terlihat sombong seakan dialah yang merasa pasti diterima, sebab nila tesnya memang paling tinggi.


Dilihat dari sudut mana pun, dialah yang paling sempurna. Khanza pun kalah saing. Disaat begini Khanza baru sadar bahwa di atas langit masih ada langit.


"Siapa pun yang jebol, itu pasti sudah menjadi kehendak Tuhan," sela seorang gadis berhijab putih dengan senyum simpul, manis sekali. Suaranya pun lembut dan menenangkan.


"Ini bukan mendahului Tuhan, tapi aku hanya ingin menebak- nebak saja. Menurut feeling ku, yang bakalan di terima adalah Mona dan...." Salah seorang gadis menunjuk gadis lain bernama Mona, tak lain gadis paling sempurna diantara yang lainnya. Gadis yang nilainya tertinggi. 


"Dan siapa?" Sahut lainnya.


"Akulah, masak orang lain? Ha haaa..." Gadis itu menyambung kalimatnya, membuat tawa meramaikan suasana. 


Khanza diam saja, memilih untuk menjadi pendengar. Setelah dia berangkat dengan perasaan penuh percaya diri bahwa dia akan menduduki jabatan penting dengan bermodal ijazah yang dia miliki, kini tiba- tiba ia jadi tidak yakin. Lawannya saja tidam main- main, bahkan malah ada yang lulusan Kairo, lulisan Amerika, dan lulusan Jerman. 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2