
kenan yang mendengar hal itu seketika pucat pasi dan merasa dingin.
"dari mana Kania tahu nama itu? aku tidak pernah memberitahukan apa pun kepadanya." tanya kenan dalam hati.
Kania berbalik badan menghadap kenan yang tidur terlentang sambil tangan kirinya di atas kening.
"apakah aku salah?" tanya Kania
"(menghela napas) tidak, kenapa kau bersalah? kau tidak melakukan tindakan kejahatan kan."
"ya benar. (berpikir) apakah aku boleh bertanya sesuatu?"
"ya, tanyalah." jelas Kenan
"siapa Aira Naka? apakah kau mengenalnya?" kania menyimak
kenan tak kuasa mendengar nama itu. ia bangun untuk duduk sesaat kemudian ia menjawab.
"Kania."
"ya." jawab kania
"bisa kah kau berjanji padaku." minta kenan
"apa?" kania bangun untuk duduk.
Kenan menoleh ke arah Kania dengan tatapan yang sangat dingin.
"kumohon jangan pernah menyebut ataupun mempertanyakan nama itu kepada siapa pun juga atau kepadaku kau mengerti?"
__ADS_1
"tapi, kenapa? apa hubungan mu dengannya? apakah dia pacarmu, simpananmu. atau jangan-jangan dia adalah calon istrimu yang mengkhianatimu?"
"K A N I A"
intonasi Kenan sangat tinggi ia geram dan marah. dengan gerakan refleks hampir saja kania akan terkena tamparan yang keras dari kenan untung saja kenan dapat menahannya. kania menjadi sangat takut dengan Kenan. ia tidak menyangka Kenan hampir berani untuk menyakitinya. tangannya menggenggam erat gaunnya tersebut. melihat wajah Kania yang sangat ketakutan Kenan bangkit berdiri dan berkata dengan suara yang terdengar marah
"jika, kau tidak ingin melihatku seperti ini lagi jangan pernah menyebut nama itu di depan ku kau mengerti?" Kania terdiam tidak menjawab.
"mengerti tidak? dijawab?" membentak
"iya aku mengerti" suara kania sangat kecil seperti ada yang menyangkut di tenggorokannya karna menahan tangisan yang sebentar lagi akan keluar. Kenan pun pergi meninggalkannya dikamar.
ia tidak tahu mengapa Kenan bisa mengeluarkan sifat sekasar dan seganas itu terhadapnya. ia tertidur dalam keadaan menangis. tiba-tiba listrik padam. Nek Ija terbangun dan menghidupkan pelita.
"loh, kamu kenapa diluar nak?"
"tidak apa-apa nek belum mengantuk saja"
"tidak nek" sangkal kenan
sebenarnya nenek ija tahu mereka sedang bertengkar karna mendengar suara kenan yang membentak Kania. kenan memperhatikan nenek menghidupkan pelita entah kenapa Kenan seperti melupakan sesuatu. ia pun teringat jika Kania fobia akan kegelapan. segera ia mengambil pelita nek ija yang lain dan membawakannya ke kamar. ia masuk dan melihat kania yang tertidur karna kelelahan. air matanya masih membasahi pipinya.
kenan menyeka lembut dengan tangannya. ia memperhatikan wajah kania dengan seksama. entah sudah berapa lama ia memandanginya dengan lekat. Kania terbangun dan melihat ada kegelapan. dengan refleks ia memeluk Kenan dengan sangat erat. ia gelisah dan menangis kecil tetapi tidak seperti kejadian di rumahnya waktu itu. kenan merasa terkejut dan gugup karna tiba-tiba dipeluk oleh Kania.
siapa yang ngak terkejut kalau dipeluk sama cewe hehehe ada-ada aja kenan kenan.
dengan ragu ia mencoba menenangkan Kania disandarkannya kepala Kania tepat didadanya. ia membelai halus rambut panjang Kania yang bergelombang indah serta wangi semerbak hingga Kania tenang dan kembali tertidur. diucapkannya ungkapan maaf kepada Kania karna sudah menyakitinya barusan. tanpa tersadar ia pun ikut tertidur.
keesokan harinya Kania terbangun karna matahari masuk ke dalam kamarnya. dan terkejut melihat posisi tidurnya di dada bidang seorang Kenandri Ganendra. Kenan menjadi terbangun suasana pun menjadi canggung disuruhnyalah Kania untuk bersiap-siap.
__ADS_1
"nek, kek kami pamit dulu ya terima kasih atas kesediaannya untuk memperbolehkan kami bermalam disini." pamit kenan kepada kakek dan nenek tersebut.
"iya, nak kenan dan kania jika ada waktu berkunjung lah kami siap menyambut."
"terima kasih kek" jawab Kania lembut.
"nak, dengarkan nenek (mendekati kania sambil mengelus rambut panjangnya) dalam rumah tangga itu pasti ada saja pertengkarannya. kecil ataupun besar itu wajar."
"pesan nenek dan kakek. sehebat apapun pertengkaran kalian berdua kalian harus berkomitmen untuk merunding kan permasalahan tersebut dengan kepala yang dingin dan bukan emosi." kakek menyambung
"kakek mu, benar. ingatlah akan janji dan komitmen kalian ketika di pelaminan karna pernikahan bukan permainan. mengerti?"
"baik nenek, kakek"
author jadi ingat dengan lirik lagu rizky febian yang berjudul *"tak lagi sama"
" aku kan bertahan*
cinta bukan tentang perasaan.
tapi janji yang terucap
terucap makna cinta. " ***
seakan diberikan petuah yang dahsyat, hati Kania dan Kenan seperti terpukul oleh besi yang besar dengan seketika.
"kami pulang ya nek, kek" kenan dan Kania menyalam kakek dan nenek
"hati-hati ya nak."
__ADS_1
"baik Nek dah"
mereka pulang menggunakan taksi. setibanya di rumah semua keluarga sibuk menanyai mereka dan cemas karna luka yang mereka dapat tapi, Kenan bergegas mandi untuk bersiap berangkat ke kantor. karna, jam sudah menunjukkan pukul 7: 30 Kania membantu Kenan untuk bersiap. dengan segala pertanyaan setelah Kenan berangkat ke kantor ia diinterogasi oleh Ibu mertuanya, Kak Kamila, serta Nenek Nasya. karna, ayah mertuanya, kakek beserta abangnya jack juga berangkat ke kantor