
Kania terdiam ditempat seperti sedang memikirkan sesuatu dan tidak menghiraukan perdebatan dan saran dari Feren dan Jeje.
Jeje dan Feren saling menyenggol dan memberi kode mengapa Kania terdiam.
“Kan….” Tepuk Jeje dibahu Kania untuk menyadarkannya dari lamunan.
“Ya!” Jawab Kania menoleh kearah Jeje.
“Ada apa? Kenapa melamun dengan pikiranmu sendiri?” Tanya Feren
“Ia Kan. Ceritakan pada kami apa yang sedang kamu pikirkan saat ini?” Jawab Jeje penasaran
“Aku, tidak habis piker saja kenapa ibu Sandra bisa masuk kedalam nama dilist pencarianku.”
“Ya ampun Kan.” Ucap kedua sahabatnya tersebut. Sambil menepuk jidat mereka masing-masing
“Nama di dunia ini bisa banyak yang sama Kan. Jangan pusing dengan urusan itu deh. Atau jangan-jangan kamu takut jika orang tua Sandra adalah orang tuamu?” Tanya Jeje yang mulai menerka kegalauan Kania.
“Huft…. Entah lah Je, aku bingung! Mungkin benar aku takut jika mereka adalah orang tua kandungku.” Kania menundukkan kepalanya
“Kenapa takut sih Kan? Apa karena Sandra akan menjadi adikmu?” Tanya Feren
“Tidak itu tidak terlalu menjadi masalah buatku.”
“Lalu?” Tanya Jeje dan Feren dengan serentak
“Entahlah, mungkin karena aku tidak menginginkannya.” Jawab Kania enteng
“What?” Kembali serempak kemudian tertawa bersama “Hahaha.”
“Kania, Kania, kamu lucu deh. Kenapa kamu tidak mengiginkan mereka menjadi orang tuamu? Mereka salah satu orang terpandang, dan salah satu yang berperan dalam mengembangkan Negara kita loh. Seharusnya kamu
beruntung dong.” Jawab Feren
“Aku merasa tidak beruntung jika seperti itu.” Ungkap Kania kembali
“Kenapa?” Jawab Jeje
“Karena mereka adalah orang tua yang ‘GAGAL’ bagiku. Untuk apa orantuamu mempunyai jabatan, nama, kekayaan atau apapunlah itu namanya. Jika, mereka dengan berani membuang anaknya sendiri? Memang materi itu semua diperlukan untuk menaikan status seorang anak. Tapi, sebuah cinta, kasih sayang, perhatian, kehangatan, kenyamanan, itu lebih melebihi apapun yang dibutuhkan seorang anak.” Sebuah Emosi meluap di dalam perkataan yang terlontarkan dalam mulut Kania.
Mungkin sebuah kekecewaan yang amat terdalam dan besar tanpa terasa keluar begitu saja dalam perasaan Kania. Dia memang tidak pernah sedikitpun merasakan kekurangan dalam keluarganya. Dia merasa sempurna
__ADS_1
dan beruntung, mendapatkan baik berupa kasih sayang, dan juga kekayaan dalam keluarganya.
Tetapi pada saat ia masuk di sekolah dasar ia menjadi bahan gunjingan bagi teman-temannya karena tidak mempunyai orang tua. Ia juga terkadang merasa sedih melihat semua teman-temannya diantar, dijemput,
oleh kedua orang tua mereka. Sungguh itu pemandangan yang sangat memilukan baginya. Ia menginginkan kasih sayang kedua orang tuanya. Walaupun terkadang ia berusaha menepis itu semua. Karena kakek, paman, dan bibi selalu memberikan yang terbaik baginya. Untuk apalagi semuanya itu pikirnya.
“Pasti ada alasan dibalik itu semuanya Kania.” Ucap Jeje
“Aku tahu Je, aku juga tidak menginginkan sebuah pengakuan dari mereka. Aku mencari mereka hanya ingin sekedar kenal saja dan mengatakan bahwa aku selalu bahagia walaupun tanpa mereka. Lalu berterimakasih,
karena sudah melahirkanku kedunia ini.” Sebuah kata-kata yang mampu mengentarkan hatinya sendiri.
Jeje dan Feren menatap nanar kearah Kania lalu memeluknya.
-
Kania sampai dirumah setelah perbincangan yang menguras kedalaman hatinya. Ia merebahkan dirinya di atas sofa ruang tamu apartemennya. Tiba-tiba sebuah panggilan video call terjadi. Ditatapnya si pembuat video call tersebut. Betapa senang hatinya, suami tercinta memanggil untuk menatapnya.
“Hai sa…..” Kenan menatap intens wajah istrinya tersebut kelihatan lelah, sedih, dan tak bergairah seperti tadi siang pada saat jam istirahat kantor. “Ada apa istriku? Kamu sakit?”
“Tidak. Emangnya aku kenapa?”
“Mimic wajahmu saat ini, aku tidak menyukainya. Siapa yang berani membuat wajah istriku tercinta ini sangat muram? Berani sekali dia.” Fokus menatap layar HP-nya
“Apakah tugasmu banyak sekali diberikan dosen?”
“Hem.” Seadanya menjawab
“Ya, sudah sekarang berendamlah diair hangat itu akan merilekskan tubuh dan pikiranmu. Setelah itu jangan lupa makan sayang, Kamu kelihatan kurus sekali sekarang.” Perhatian Kenan
“Baiklah suamiku akan ku laksanakan. Kamu masih dikantor?”
“Iya sayang, sebentar lagi aku akan pulang. Setelah itu aku ada acara makan malam sambil membahas bisnis bersama klienku.”
“Hem….” Jawab Kania malas
“Hanya itu?”
“Terus aku harus jawab apa Mas?” bingung Kania
“Apa kek, kamu sudah malas ya ngobrol samaku?” Ungkap Kenan sambil memanyunkan bibirnya
__ADS_1
Kania tertawa melihat Kenan yang bertingkah seperti seorang anak kecil.
“Gitu dong, ketawa sayang. Jangan muram mulu kalau lagi dengan suami.” Sindir Kenan
“Mas.”
“Ya, Istriku.”
“Aku Kangen!” ucap Kania dengan suara sangat lembut dan menggoda
“Pintar banget sih buat Juniorku berdiri.”
“Apaan sih mas\, ngaco deh pikirannya. Mana bisa hanya suaraku saja membuat si junior bangun. Kebanyakan nonton B*k*p ya begini.” Sargas Kania
“Kok jadi ngamuk begitu sih? aku beneran loh. Mau kutunjukkin?” Tawar Kenan
“Ngak usah, ngak tertarik aku.” Membuang wajah dengan kasar
“Loh, kok ngak tertarik? Waktu lalu aja ******* nikmatnya luar biasa dibikin Junior ke kamu. Masih bilang ngak tertarik.”
“Mas, apaan sih kok pembicaraanya aneh begini? Keluar dari konteks tahu.” Wajah Kania merah karena malu terhadap dirinya sendiri dihadapan Kenan.
“Kamu yang mulai? ya kuladeni.” Jawab Kenan sambil terkekeh melihat rona wajah milik Kania. Ia bahagia karena dapat mengoda istrinya tersebut sungguh wajah yang sangat imut untuk dilihat.
“Jujur dengan aku berapa kali dalam sehari kamu nonton b*k*p?” Tanya Kania mengintimidasi
“Setiap saat karna mengingatmu.” Jawab Kenan
“Ihc, kok mas jadi pecandu begitu sih?” Kania khawatir
“Ya\, iyalah kamukan candunya mas. Setiap kepala mas mikirin kamu\, film b*k*p nya terputar. ******* kamu\, gigitan kamu\, rintihan kamu\, pokoknya semuanya deh. Hem\, coba aja kamu disini kalau enggak udah kita
praktekkin lagi sekarang.” Goda Kenan kembali
“MAS…..!!! Ihc.” Semakin wajah Kania merona seperti kompor meleduk.
“Hahahahah…” Tawa Kenan pecah dibuatnya
“Makanya\, jangan asal dong kalau ngomong. Emang kapan sih sempatnya mas nonton b*k*p? pulang aja udah larut malam banget. Masih banyak pekerjaan yang perlu mas selesaikan. Ya\, tapi kalau pikiran mas lagi rileks dan
kosong emang suka terputar begitu tuh malam-malam panjang kita hahahahah…” Kenan terkekeh kekeh dibuatnya “Mungkin itu kali, salah satu penyebabnya kenapa kalau kamu ngomongnya lembut dan menggoda begitu langsung berdiri tegak, soalnya semuanya tentangku sudah terprogram hanya untukmu...” Gombal Kenan.
__ADS_1
Kania tak sanggup lagi menahan malunya ia pun langsung mematikan panggilan tersebut.
“Loh, kok dimatikan, hahahahha dasar istriku yang polos udah di bobol berapa kali juga tetap aja polos.” Kenan menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata dengan tangan kanan didahi serta tawanya yang keluar.