
kania mengatur nafasnya perlahan-lahan. wajahnya memerah panas. dipeganginya pipi dan keningnya yang seperti terbakar itu. ia pergi menjauhi kamarnya.
beberapa menit kemudian. kenan menatap ke arah pintu masuk kamarnya. sepertinya ia sedang menunggu kania untuk masuk.
"dimana kania? kenapa dia tidak muncul juga?" kenan bergumam didalam hati sambil celingak celinguk
"hehe apakah dia masih malu dengan tindakan ku tadi? jika itu benar, dia lucu juga." sambung kenan dengan senyuman semringah.
kania bersembunyi di kamar cantika tampak sudah terlihat normal. ia bercanda bersama cantika.
"kak kania, apakah cantika boleh bertanya?"
"kenapa kamu harus minta izin? pasti hal serius ya?" kania menyentuh hidung cantika
"hem, bukan serius sih kak. tapi, sedikit privasi" sambil berbisik lalu tersenyum kepada kania.
"baiklah, kamu mau tanya apa? " tersenyum lembut
"berjanjilah kakak tidak akan merasa tersinggung." mengajukan kelingkingnya
"iya, iya kakak berjanji." sambil menautkan kelingkingnya di jari cantika
"apakah kak kania dan kak kenan sudah melakukannya?"
deg wajah kania kembali memerah, matanya membulat menatap cantika. cantika menelisik tajam ke arah kania. melihat ekspresi dari kakak iparnya itu, cantika pun terbelalak.
"jadi, beneran kakak belum pernah sekalipun?" tanya cantika.
kania terdiam, tersipu malu. cantika terbahak-bahak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"hahha bang kenan kok bisa tahan ya? apakah bang kenan masih menyukai kak aira?"
kania yang semula malu- malu menatap cantika, menjadi kecewa mendengar ucapannya. cantika terdiam dengan perkataanya dan meminta maaf kepada kania. kania hanya membalasnya dengan senyuman dan usapan ke rambut cantika.
menjelang makan malam, kania menyiapkan makan malam untuk kenan. ia tidak ikut makan malam bersama keluarganya. ia sedikit merasa bersalah karna, tidak merawat kenan setelah kejadian itu. ia menyuruh beberapa pekerja rumah untuk merawat kenan menggantikannya.
kania masuk kedalam kamar dan menyuruh para karyawan itu untuk beristirahat. kania meletakkan nampan ditangannya ke atas nakas samping ranjang dimana kenan berada.
kenan menatap kania dengan tatapan yang tajam. tampak kekesalan terpancar di wajahnya itu. kania mengalihkan pandangannya dan asik melakukan persiapan untuk menyuap kenan.
ketika kania akan duduk di kursi yang telah diletakkan di samping kenan. tiba-tiba tangan kenan menarik tangannya dan mengarahkannya untuk duduk di samping kenan.
posisi kania saat ini berada menghadap kenan yang duduk berselonjor di ranjangnya. mereka saling menatap satu sama lain.
tidak butuh waktu berapa lama. kania sadar akan tindakkannya itu. lalu mengambil makanan dengan sendoknya lalu menyuapkan makanan itu ke dalam mulut kenan.
ingin sekali kenan mengungkapkan kekesalannya kepada kania. tetapi, setelah ia menatap kania dalam diam. kegagumannya terhadap wajah itu menghilangkan semuanya.
"kenapa kau menyuruh para pelayan yang merawatku?" tanya kenan dengan lembut.
"hem, tidak kenapa-kenapa. aku hanya malas saja melihatmu." jawab kania dengan ketus
"kenapa?"
"ya, karna wajahmu sangat menyebalkan."
"menyebalkan? atau karna kau malu dengan kejadian tadi siang?" tanya kenan menggoda
deg kania memberhentikan aktivitas nya. lalu menatap kenan terkejut.
__ADS_1
"kenapa terkejut? benarkan dugaanku?"
"PD sekali. sudahlah makan saja ini" mengalihkan pembicaraan sambil menyuapkan kenan.
kania kembali menyuapkan kenan. kenan kembali menatap kania dengan dalam
"jika dilihat lihat kamu cantik juga ya!" tanya kenan dengan menggoda
seketika wajah kania memerah lebam. ingin rasanya ia menyembunyikan wajahnya itu dibalik bantal karna malu dengan godaan kenan.
kenan mendekatkan kembali wajahnya sambil melihat kania dengan lekat. diamatinya wajah kania yang memerah itu, sedangkan kania entah bagaimana perasaannya sekarang. yang jelas jantungnya berdetak sangat cepat hingga ia merasa akan meledak. sedangkan, wajahnya memerah seperti terkena panggangan.
"ca...n.... tik.... sihh... jika... dilihat.... dari... lubang sedotan. hhaahaha" kenan tertawa terbahak bahak karna berhasil menggoda kania.
wajah kania yang semulanya memerah semu, berubah menjadi merah terbakar. karna, ejekan dari kenan.
ia memukul dada kenan dengan sangat keras. kenan yang semulanya tertawa nyaring. langsung merintih kesakitan karna pergerakannya yang menghalau pukulan kania.
"aw aw. kania sakit. kania sakiittt."
kania yang melimpahkan kekesalannya tersebut langsung berhenti karna mendengar kenan yang kesakitan.
napas nya tampak tidak beraturan karna sedang meluapkan emosinya. ia memandang kenan dengan tatapan yang marah menjadi sedih. ia pun berlalu meninggalkan kamar kenan dan pergi ke taman belakang rumah.
kenan yang melihat tatapan kania yang sedih. merasa bersalah. ingin sekali ia menghentikan langkah kania lalu memegang tangannya untuk menariknya kedalam dekapan kenan. tapi, apa daya kenan tidak dapat melakukan hal itu.
ditaman Kania duduk dan berusaha untuk menahan bendungan airmatanya yang sekarang menjadi terluapkan.
"kania kamu kuat. kamu pasti bisa. kamu bukan anak manja yang sedikit sedikit nangis. ayo, kania bisa bisa pasti bisa. " mengibaskan tanganya ke arah wajah sambil memotivasi dirinya. tangis kania pun pecah dengan seketika. "wuahaahahaha, aku tidak bisa. aku kan bukan wonder woman yang punya kekuatan dahsyat. kakek hicks hicks hicks paman... bibi.... cantika.... kenapa kania bisa menangis seperti ini. padahalkan harusnya aku biasa aja. tetapi kenapa hatiku sakit sekali ya,? hicks hicks hicks"
__ADS_1