
“Salah paham?” Kania menatap kea rah Kenan. Kenan kembali meatap Kania lalu tersenyum manis terhadapnya.
“Sebenarnya itu adalah, noda darah perawan seorang wanita.”
“Maksudnya?” Tanya Kania dengan mata melotot tidak percaya
“Begini Kania……..” Leon pun menjelaskan apa yang telah terjadi pada malam ia memecahkan perawan seorang wanita.
*
Kania mengelap air matanya lalu mengecup dengan sekilas bibir Kenan.
“Maafkan aku, aku piker….”
Tanpa aba-aba Kenan mencium dengan dalam bibir Kania. Leon terbelalak, apa-apaan suami istri yang tidak tahu malu didepannya
ini. Berciuman di depan jomblo berkarat.
“Aku mencintaimu Kania, aku hanya menginginkanmu. Percayalah!”
“Aku Percaya Ken.” Kania tersenyum hangat kepada Kenan.
“Ehm….” Leon yang terlihat sangat jengah melihat keuwuan pasutri didepannya membuyarkan adengan itu.
Kenan terlihat kesal, baru saja keuwuan terjadi
sudah di hancurkan oleh Leon yang hanya menumpang di dunia milik mereka berdua
atau jadi penonton drama keuwun mereka.
Ia mengambil bantal sofa dan melemparkannya tepat di depan wajah Leon.
“Dasar pengganggu!”
“Salah sendiri, kalian uwu-uwu di depan jomblo. Yah, aku kan iri.”
“Cari sana wanita yang udah memperkosamu minta tanggung jawab. Biar dinikahin kamunya.”
“Sudah-sudah… mandi ini sudah jam berapa?” Lerai Kania, pasti drama kedua bocah tua itu akan berlanjut.
“ASTAGA.” Kembali serempak.
*
Kania, Feren dan Jeje duduk ditaman sambil bercerita ria setelah jam kelas terakhir mereka berakhir.
Mobil mewah berwarna merah terlintas di depan mereka. Mata mereka ber-tiga pun refleks mengikuti mobil tersebut.
"Ya, ampun mobil mewah keluaran terbaru. Siapa kira-kira pemiliknya ya? kalau laki-lwki tamvan aku duluan maju.." Cerocos Feren
Pletak, pukul Jeje menyadarkan Feren.
"Begituan aja cepet, itu pasti milik Sandra"
" Yaelah di otakmu itu hanya ada Sandra, Sandra aja. Apa jangan-jangan kamu nggak normal ya Je?" ucap veren asal
Jeje mencubit tangan Feren.
"Aw, sakit Je." Kesal Jeje
"Kamu pikir aku ngak normal? asumsi ku itu bukan tanpa berlandas Ren. Sandra itu selalu mau meminta barang terbaru yang keluar." Jelas Jeje.
"Iyalah, mantan temannya pasti tahu." Nyinyir Feren.
__ADS_1
Mereka bertiga pun tertawa.
Tak lama kemudian, perkataan Jeje terbukti. Sandra keluar dari mobil tersebut. tak lama krmudian seorang wanita paruh baya juga ikut keluar.
"Siapa itu Je?"
"Mamanya Sandra." Terang Jeje.
Deg, seketika hati Kania bergetar mendengar hal itu. Bagaimana tidak, ia sudah mengetahui siapa ibu dan adiknya. Ia pun memfokuskan penglihatannya.
"Mana?" tanya Kania penasaran.
Jeje dan Feren tersadar, jika ibu Sandra adalah ibu kandung Kania juga. Mereka merengkuh bahu Kania memberikan kekuatan.
Jarak pandang mereka sedikit jauh... jadi Tidak terlalu sangat jelas untuk dilihat. Ketika itu juga Sandra dan ibunya sudah masuk kedalam area dalam kampus.
"Tumben, mereka datang bersama? ini adalah pertama kalinya" tanya Jeje.
"Benarkah? mungkin ban mobil nya mama Sandra kempes." Jawab Feren.
"Iya, mungkin. heheheh"
Kania mengajak temannya untuk keperpustakaan mengembalikan buku yang sudah dipinjamnya waktu lalu. Sambil merilekskan hatinya yang tiba-tiba aneh tak karuan akibat kedatangan ibu Sandra.
Ia bertanya-tanya dalam dirinya apakah ini sudsh waktunya ia bertemu dengan ibu kandungnya? Apakah ia sanggup mendengarkan kebenaran yang ada?
*
Setelah mereka selesai mengembalikan buku Kania tetap fokus pada keheningan pikirannya.
"Kan, kamu tidak apa-apakan?" tanya Jeje khawatir.
"Aku baik-baik saja. Tenanglah!" memberikan senyuman terbaiknya untuk memberitahukan kedua temannya itu bahwa ia baik-baik saja dan tidak usah khawatir.
"Gengs, kita ketoilet dulu yuks. Ngak tahan mau pipis." Pinta Feren.
"Kalian pergilah, aku tunggu disini ya."
"Kamu yakin, Kan?"
"Ya, aku lelah."
"Baiklah ayo Je" ajak Feren.
*
Setelah kepergian mereka Kania menunggu di sebuah kursi yang tidak jauh dari posisinya.
"Kita bertemu lagi sayang!" Ibu sandra menyapa
"Eh, ibu. Ya ampun, kebetulan sekali ya."
"Iya, kenapa disini sendirian?" Ibu Sandra duduk di kursi sebelah Kania
"Nungguin teman bu. Ibu, kenapa bisa disini?"
"Ibu mengajar disini."
"Waw, ibu seorang dosen."
"Ya. Beberapa hari ini, entah kenapa ibu selalu memikirkan kamu."
"Hahah... Terimakasih, saya merasa tersanjung bu." Ibu Sandra tersenyum sambil mengelus halus rambut panjang Kania dengan penuh kasih.
__ADS_1
"Kamu, kuliah jurusan apa sayang?"
"Jurusan....."
"Ma..." Sandra memanggil saat bersamaan Kania menjawab pertanyaan mamanya.
Kania mengehentikan pembicaraannya dan menoleh kearah tatapan dan sumber suara.
Suara genderang bertabuh ria diiringi suara petir. Atmosfer yang sangat ia benci, ia terpelongok melihat Sandra yang memanggil Sarah dengan sebutan mama.
Berarti selama ini, ia sudah bertemu dengan ibu kandungnya sendiri. Bahakan berkali-kali, betapa hancurnya dirinya saat ini. Mengetahui takdir seolah-olah bermain dengan dirinya.
Ia menoleh kearah Sarah. Sarah, memanggil anaknya dan memperkenalkan Kania kepadanya.
"Aku sudah mengenalnya Ma." ketus Sandra.
Kania terkejut, apa? apakah ibunya Sarah putri omonade ini, juga telah mengetahui kebenaran bahwa Kania, dirinya adalah anaknya? Bagaimana ia setega itu, menutupi sebuah kebenaran yang ada selama ini.
"Dia wanita yang yang telah membuat aku gagal menikah dengan kak Angga." Sargas Sandra.
"Nak, tenanglah jangan seperti itu." Sarah menenagkan anaknya.
"Ma, dia itu pecalakor."
"Sandra sudahlah nak, jaga emosimu." Sarah menengkan kembali putrinya. "Kania, senang berjumpa denganmu kembali. Maafkan Sandra ia memang selalu lost control. Ibu pergi dulu ya. jaga dirimu, dah." Jelas Sarah pada Kania.
Kania tetap dalam mode diam, ketika mereka sudah jauh dari pandangan Kania mengelap air matanya yang tiba-tiba terjatuh.
Feren dan Jeje yang sedari tadi audah tiba saat Sandra memanggil mamanya memeluk Kania dengan perasaan yang ikut bersedih.
-
Jam sudah menunjukkan pukul 6 sebentar lagi pasti Kenan pulang. kania juga sudah selelsai menjalankan tugasnya sebagai istri untuk menyiapkan keperluan Kenan. Kania duduk di sofa sambil menonton TV, atau termenung dihadapan TV tepatnya heheh...
"Sayang, aku pulang." Kenan pulang, tetapi kania masih sibuk dengan pikirannya.
Kenan yang merasa tidak diindahkan seperti biasa kedatangannya. Merasa heran, ia pun berjalan kearah Kania dan mendapati Kania yang sedang termenung. Kenan mematikan televisi, Kania tetap dalam modenya.
"Huftt...." Kenan menghela napas dan mengendorkan dasinya. ia duduk disebelah Kania lalu mencium pipi kirinya
"Cup." Kania terkejut, lalu tersenyum mendapati Kenan yang berada disampingnya.
"Jangan sering-seing membuatku terkejut sayang, kamu mau aku jantungan?" memegang rahang tegas Kenan.
"Bukan aku yang salah cintaku, kamu yang tidak mendengar salamku, dan mengabaikanku begitu saja." mencium hangat punggung tangan Kania.
Sweet, banget kamu Kenan.. meleleh deh author...
"Maafkan aku ya." Kania mendekap tubuh Kenan.
"Ada apa? kamu kalau termenung seperi itu pasti ada sesuatu iya kan? jangan sering-sering yang, entar kesambet. Aku takut loh."
"Iya, iya janji. Entar kuceritakan sekarang kamu mandi udah bau tahu, lagi pula aku udah lapar banget nungguin kamu."
Kenan menciumi tubuhnya karna komentar dari istrinya
"Hidung kamu sepertinya udah rusak sayang, Suamimu begitu wanginya malah kamu bilang bau."
"Aku ngak suka bau parfum-mu, aku lebih suka bau badanmu. lebih khas..." Menggoda Kenan.
"Hem, kamu ya... udah pintar banget ini menggoda suaminya." mencubiti hidung Kania. Kania malah tersenyum bahagia.
-
__ADS_1
Dikediaman orangtua Sandra, setelah makan malam diruang tamu. Ibu Sandra menceritakan keinginannya untuk kembali menemui Kania. Entah mengapa semenjak tadi siang pertemuannya dengan Kania. Hasratnya ingin berjumpa dengan anaknya semakin bergelora. Ayah Sandra pun berjanji untuk memenuhinya setelah acara pentingnya selesai. Mereka siap dengan apa yang akan terjadi setelah tiba disana.
Sandra yang mendengar percakapan kedua orangtuanya, juga ikut resah. Dia bingung apakah dia akan senang melihat keluarga barunya? ia bingung harus bersikap seperti apa terhadap kakak kandungnya itu. sungguh hal yang tak terduga pikirnya.