
Mereka masuk ke dalam rumah, banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh keluarga mereka untuk kenan dan kania. Dengan perlahan mereka menjelaskan apa yang terjadi hingga semua anggota keluarga mengerti.
Di dalam kamar setelah makan malam keluarga, kenan dan Kania naik ke atas untuk membersihkan diri mereka. Kania pergi melangkah untuk masuk ke dalam kamar mandi. Tiba-tiba tangannya ditahan oleh Kenan.
“aku yang akan mandi terlebih dahulu.”
“apakah kamu tidak bisa mengalah dengan wanita. Di mana- mana itu lady’s First.”
“hem, (tersenyum) tidak mau.”
“aku dahulu yang masuk.” Mendorong tubuh kenan
“aku.” Mendorong tubuh kania
“ih, kamu ini ngalah dong ken.”
“tidak mau. Ohw, aku punya ide.”
“apa?” penasaran
“bagaimana jika kita mandi bersama?”
“ihc, (geram) kenan (memukul lengan kenan).”
“aw, aw sakit Kania.”
“ kamu uda mulai berani ya bersikap mesum kepadaku.”
“loh, emangnya kenapa? Itu hak ku dong. Apakah kamu lupa jika aku sudah menjadi suamimu? (mendekatkan wajahnya ke wajah Kania)” wajah Kania seketika menjadi merah
Kania mulai mendorong balik kenan dan Mereka pun saling dorong mendorong satu sama lain kembali. Hingga Kania duduk terjatuh ke lantai. Kenan tertawa terbahak-bahak sedangkan kania dengan wajahnya ditekuk pergi duduk dikasur tidurnya.
Selang setengah jam di dalam kamar mandi kenan akhirnya keluar dan melihat Kania sedang asik membaca buku.
Kenan dan Kania saling menatap satu sama lain.
“apa, lihat-lihat?” ketus Kania
“siapa juga yang melihat kamu. GR banget jadi orang.” Jawab Kenan
“eh, jelas-jelas kamu melihat ke arah ku ya.”
“nona Kania yang terhormat, aku memandang ke arah mu bukan berarti aku melihatmu.”
“terus kalau tidak melihatku melihat siapa?”
“lihat…. Lampu, lihat laci, lihat ranjangku yang udah menjadi tempat tidurmu itu. kan banyak yang bisa dilihat.”
“ngeles aja kerjaan dirimu itu.”
__ADS_1
“sudah sana mandi (melempar handuk yang pengering rambut kenan yang basah ke wajah kania)”
“kenan, kenapa kamu lempar handuk nya ke aku.”
“sekalian, kamu kan mau mandi. Ble (menjulurkan lidahnya lalu pergi)”
“ble le…. (mengejek) dasar.” Kania berjalan ke arah kamar
mandi
~
Kenan duduk di atas sofa tidurnya dan mengambil laptop yang berada di dalam tas ranselnya. Selang beberapa menit kemudian Kania keluar dari dalam kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil berwarna putih. Rambut panjang hitam yang tergerai mengibas dengan sangat indah membuat
Kenan yang sedari tadi melihat Kania keluar dari kamar mandi menjadi terpesona.
“cantik banget, kok aku baru sadar ya kalau dia memang cantik” keluh kenan dalam hati
Kania yang tersadar jika Kenan memperhatikannya menjadi sedikit malu.
“kenapa, kamu memandangku seperti itu? apa ada yang salah denganku? (memandang ke arah kaca meja riasnya)”
“ha? (tersadar) tidak. Hanya saja aku merasa mengapa aku bisa menikahimu? Padahal dipandang dari sisi
manapun. Kamu tidak ada menariknya sedikit pun.”
“apa? Jadi maksudmu aku tidak menarik begitu.” (mendekati Kenan sambil bercekak pinggang)
“lihat, saja nanti aku yakin kamu pasti akan terpesona denganku. Kalau kamu sudah terpesona dengan ku kamu tidak akan pernah bisa berhenti memikirkan diriku. (melemparkan bantal sofa ke wajah kenan)”
“hei, biasa aja kali ngak perlu juga lempar bantal ke wajahku.”
Kania pergi naik ke tempat tidurnya. Kenan tersenyum tipis sambil melanjutkan pekerjaannya. Keesokan harinya, seperti biasa Kania membantu Kenan mempersiapkan diri.
“laptopmu ditinggal atau dibawa?”
“bawa sajalah. Aku harus menuntaskan pekerjaan ku hari ini juga.”
“baiklah (memasukan laptopnya kedalam tas)”
Kenan masuk ke dalam kamar mandi. Ketika Kania membersihkan barang yang berantakan di meja. Ia, melihat sebuah kunci tergeletak di samping dompet Kenan. mata Kania tertuju pada pintu yang tidak boleh di dekati ataupun dibukanya.
“apakah ini kunci kamar rahasia itu? (sambil menggigit kuku tangannya) jika, benar ini adalah kesempatan emas ku. Tapi, bagaimana jika Kenan tiba-tiba keluar dan mendapati aku mencoba untuk membukakannya. Pasti dia akan marah besar. tapi, jika tidak kulihat sekarang aku akan mati penasaran setiap hari. "tanya
kania dalam hati.
Dia pun mencoba menggedor pintu kamar mandi.
“ken, apakah kamu baik-baik saja.”
__ADS_1
“iya, perut ku sedikit mules. Mungkin gara-gara cabai semalam.”
“hem, udah tahu perutnya ngak kuat makan pedas. Masih saja memakannya.”
“ah, sudahlah Kan. Kalau kamu mau turun. Turun saja aku akan sedikit lama di sini.”
*“wow, bagus kalau begitu”**gumam Kania dalam hati.*
“baiklah, aku duluan ya.”
“iya.”
Kania mengendap-endap berjalan ke arah pintu kamar rahasia sambil membawa kunci tersebut.
Putaran kunci sekali “ceklek.” Lalu kedua kali “ceklek.”
Wuah, syukur lah. Hehhe. Dibukannya pintu tersebut dengan perlahan-lahan. Tapi, suara air keran kenan mati. Sontak Kania dengan tergesa-gesa mengunci kembali ruangan tersebut dan betul saja Kenan keluar dari
kamar mandi.
“loh, kamu tidak turun?”
“i-iya… setelah kupikir pikir lebih baik kita turun bersama.”
“hem, (mengangkat alisnya).”
“kamu, kok cepat kali pupnya. Biasanya lama banget.”
“aku sudah terlambat, setidaknya perutku tidak mampet lagi.”
“hem, ya. kalau begitu aku akan membuatkan mu jahe agar perutmu hangat.”
“ya, baiklah.”
Kenan akan mengambil dompet tetapi ia tersadar kuncinya hilang. Kenan pun panik mencarinya. Kania berpura-pura menjatuhkan kunci yang dipegangnya itu ke lantai dekat meja dompet Kenan.
“ihc, kamu ini. ini apa?”
“kok, bisa ada disitu?”
“mungkin, terjatuh. Makanya lain kali kamu harus hati-hati dong letak barang.”
“tapi, aku ngak pernah ceroboh jika meletak barangku.”
“buktinya ini, apaan? Emang ini kunci apa sih? sepertinya penting banget?" berpura-pura tidak tahu
“bukan kunci apa-apa. Ayok kita turun.”
“iya.” Kania dan Kenan turun ke ruang makan.
__ADS_1
***“hampir saja aku ketahuan." ***bisik Kania dalam hati.