Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
Pertemuan 2 dengan Ibu Kandung


__ADS_3

Setelah pergulatan panas Kenan dan Kania diatas ranjang. Mereka saling berpelukan satu sama lain.


“Jadi, apa selanjutnya keputusan kamu sayang? Setelah tahu ibu kandungmu?” Tanya Kenan. Kania menggeleng dia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia perbuat.


“Boleh ku berikan saran?” Kania mengangkat wajahnya menatap Kenan sambil mengangguk. Kenan merapikan anak rambut Kania dan menyelipkannya di telinga Kania. “Temui mama Sarah, lalu tanyakan apa alasannya ia meninggalkanmu?”


Kania terduduk sedikit tegang mendengar saran yang diberikan oleh Kenan. Kenan yang mengetahui bahwa, berat bagi diri istrinya untuk melakukan hal itu, kemudian ikut terduduk.


Kenan mencoba menenangkan istrinya agar tidak tersulut emosi. Ia menyentuh dengan lembut pungung istrinya yang ter-ekspos itu, lalu mengecup bahunya dengan sangat lembut.


“Aku takut mas.” Jawab Kania.


“Takut kenapa sayang?” Kenan memeluk kania dari belakang dan meletakkan kepalanya dibahu Kania.


“Bagaimana, jika kenyataan yang kuterima itu sangat pahit? aku takut menerima kenyataan itu mas.”


“Sayang, kamu tidak menjalaninya sendiri. Ada aku, aku akan selalu disampingmu. Bersamamu, tempat kau bersandar, dan aku akan melindungimu.” Kania terdiam tidak menjawab. Kenan menghadapkan dirinya dengan Kania. “Percayalah padaku, aku sudah diposisi itu Kan, lebih baik kita menerima sebuah kenyataan pahit itu, daripada kita tidak tahu sama sekali kebenarannya. Sungguh itu adalah hal yang akan kita sesali nanti.” Kania mencucurkan airmatanya, Kenan menyeka dengan jarinya. “Setiap air matamu ini, akan aku gantikan dengan tawamu yang nyaring. Percayalah!” kania tak sanggup lagi tangisnya pecah seketika di dalam pelukan Kenan.


-


Pagi hari telah datang, suasan baru, dan hari baru. Kenan dan Kania sedang menyantap sarapan pagi mereka di meja makan dengan hening, tidak seperti biasanya. Kania sangat diam, membangunkan Kenan saja. Hanya dengan sebuah kecupan hangat yang sangat lama tanpa suara.


Kenan yang merasa meja makan mereka seperti rumah tak bertuan, ia pun membuka pembicaraan dengan Kania.


Bunyi bel rumah berbunyi, belum sempat Kenan bersuara. Kania bangkit berdiri, dan membukakan pintu.


“Pagi, saudari iparku yang cantik.” Leon mencolek dagu Kania. Kania tercengang melihat penampilan Leon yang sangat memukau itu. Sedangkan, Leon nyelonong masuk kedalam rumah dan bergabung dimeja makan sambil mengambil piring. “Pagi, bapak bucin.” Sapa Leon kepada Kenan.


“Ada apa, kau kemari pagi-pagi?” Tanya Kenan.


“Aku ingin berangkat denganmu.”


“Untuk apa?”


“Ada yang ingin aku bicarakan.”


“Tidak bisakah kita bertemu dikantor saja?”


“Apakah aku mengganggu waktu romantismu?”


Kania menatap Kenan, sedangkan Leon menatap keduanya. Kenan menatap kearah Kania. Kania mengalihkan pandangannya dan menyantap kembali makanan dipiringnya.


Suasana aneh dipagi hari itu juga terasa bagi Leon, Kania tidak seperti biasanya. Dia sangat pendiam, tidak ada satu patah katapun yang terucap dari Kania hingga mereka sampai di depan kampus Kania. Barulah Kania, berpamitan kepada keduanya.


“Apakah kalian sedang bertengkar?” tanya Leon penasaran.

__ADS_1


“Tidak.” Jawab Kenan singkat.


“Lalu, mengapa atmosfer-nya terasa menyeramkan?”


“Kania, sudah berjumpa dengan ibu kandungnya.”


“What?” teriak Leon, Kenan memegang kupingnya karna teriakan Leon. “Lalu, apa yang terjadi?” tanya Leon penasaran.


“Dia, bingung ingin bertindak seperti apa. Aku menyarankan untuk berbicara langsung terhadap ibunya.” Jawab Kenan kembali.


“Pasti sangat berat baginya.”


“Begitulah. Tapi aku yakin dia bisa melakukan itu.”


“Ya, aku juga yakin. Dia adalah wanita yang kuat, cantik, elegan, lemah lembut, pintar, mandiri, sempurna untuk jadi istri, idaman semua para pria…. dan……”


Nyitttttt…. Suara mobil berhenti secara mendadak.


“Turun sekarang juga.” Ucap Kenan dingin.


“Loh, Ken kamu kok marah? Kania memang idaman kan.”


“Turun… sebelum aku menendangmu…”


“Dasar bucin, istri dipuji malah ngak senang.”


“Aku….”


“Sekarang, Leon.” Bentak Kenan.


Leon turun sambil menendang ban mobil Kenan. Ia berbalik kebelakang dan mendapati telah sampai di perusahaan keluarga Ganendra. Ia tertawa untuk dirinya sendiri. Hampir saja ia mengumpat kembali saudara gesreknya itu karna telah berani menurunkan-nya ditengah jalan. Karna, sedari tadi dia hanya focus pada wajah kenan selama bertanya pasal Kania sangking exited –nya.


-


Jam kelas berakhir, Kania dan Feren menemani Jeje untuk menjumpai seorang dosen. Jeje ingin menyerahkan proposal yang sudah ia buat.


"Kalian tunggu disini. Tidak apa-apakan?" Tanya Jeje.


"Yah, pergilah kami menunggu" Jawab Kania.


Beberapa saat kemudian Jeje keluar dengan gembira. Ia senang karna dosennya memuji proposal yang telah ia buat. Feren dan Kania turut bangga akan hal itu.


"Kania." Panggil Sarah yang melihat keberadan Kania.


Mereka menoleh dan terkejut melihat siapa yang telah memanggil Kania. Ibu Sarah memeluk Kania dengan bahagia. Sedangkan Kania merasa sesak dan tak tau harus berbuat apa.

__ADS_1


"Selamat siang tante." Sapa Jeje takut.


"Hem... kamu...." mencoba untuk mengingat


"Jeje tante."


"Ya, Jeje. Kamu temannya Sandrakan waktu SMA dulu?"


"Benar tante."


"Apa kabar nak?" tanya Sarah.


"Baik tante." Sarah tersenyum hangat.


"Kania, kamu kenapa nak?" Tanya Sarah yang aneh dengan ekspresi wajah Kania. Ia melihat Kania seperti takut dan kesal terhadapnya.


Kania, menatap Sarah dengan perasaan emosi yang bercampur aduk. Ia tersadar ketika Sarah bertanya.


Terpaksa Kania memaksakan senyumannya terhadap Sarah. Sarah pun membalasnya dengan ragu.


"Hem, senang berjumpa dengan kalian. Kalau begitu ibu pergi dulu ya nak." Ucap ibu Sarah lalu mengelus lembut rambut Kania.


Entah Kenapa hatinya terasa sakit ketika Kania menatapnya seperti itu. Belum beberapa langkah ibu Sarah meninggalkan mereka. Kania memanggilnya kembali.


"Ibu Sarah." Panggil Kania


Sarah menghentikan langkahnya lalu brrbalik menghadap Kania.


"Ya, nak."


"Apakah besok, ibu punya waktu?" Sarah terlihat bingung untuk menjawab. "Aku ingin belajar memasak, masakan ku tidak enak. Aku ingin berusaha untuk menyenangkan hati suamiku." Sarah demakin bingung menjawab. "Tolonglah kumohon." Kania memohon dihadapannya.


Sarah, tidak dapat menolaknya. Ia pun, mengangguk sambil tersenyum tulus. sedangkan Kania ia tersenyum penuh arti.


"Sampai ketemu dirumah ibu ya. kamu minta saja alamatnya sama Jeje, dia tahu."


"Baik bu."


Srah pergi melangkah meninggalkan mereka. Jeje dan Feren menghampiri Kania.


"Kamu, yakin Kania?" tanya Feren ragu akan keputusan Kania


"Apa, yang sedang kamu rencanakan Kania?" tanya Jeje kembali.


"Aku harus berbicara langsung terhadapnya. Aku harus mengetahui alasan mengapa ia membuang ku dahulu."

__ADS_1


"Walaupun kenyataannya akan menyakitkan?" tanya feren.


"Ketika aku kemaripun, segala kemungkinan harus siap bukan? Aku telah sampai ditahap ini. Maka aku harus mengakhirinya sekarang. Kebenaran hatus kudapatkan. aku telah mempetaruhkan semuanya, maka itu aku harus mendapatkan hasil terbaiknya." Tegas Kania.


__ADS_2