Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
Cantika?


__ADS_3

Ditaman  belakang rumah, Kak Kamila, Ibu Sri, Nenek Nasya duduk untuk siap mendengarkan cerita Kania. dari A sampai Z mereka mendengarkannya dengan seksama tanpa satu perkataan Kania yang terlewati.


“kenapa si Kenan bisa seceroboh itu?” pungkas nenek


“mungkin karna sudah malam nek, jadi tidak kelihatan.” Jawab Kania


“emang tidak ada penerangan  jalan? Sudah jangan membela suamimu itu.” tangkis nenek


“Kania tidak membela nya nek” tegas Kania


“ untung saja nenek itu tidak kenapa-kenapa dan kalian hanya luka kecil saja.” Nenek menambahkan


“iya, benar ma. Kalau tidak urusannya kan berabe.” Ibu Sri menegaskan perkataan nenek


Nenek Nasya tidak habis pikir dengan kejadian yang menimpa mereka. Tetapi, di dalam pikirannya ia sedang membayangkan apa yang terjadi dikamar itu antara Kania dan Kenan. secara Kania menceritakan


“rumahnya sederhana dan kecil. tapi nenek Ija merawat rumahnya dengan sangat baik. Bersih, rapi dan nyaman. buktinya kenan tidur disamping-Ku dengan nyenyak walaupun lingkungan mereka bisa dibilang sedikit kumuh sih mah, nek, kak.” Ungkap Kania pada saat bercerita. nenek tahu selama hampir 1 minggu lebih mereka menikah mereka belum pernah tidur seranjang.


“ngomong-ngomong kan, apa yang kalian lakukan berdua pada malam itu” Dengan tangan di atas meja sambil menyatukan jari-jemarinya. nenek memainkan alis kirinya naik turun menandakan jika ia sedang penasaran.


Mendengar pertanyaan yang dilemparkan kepada Kania, ibu, dan kak Kamila saling memandang dan tersenyum seperti tahu apa yang sedang berada di benak nenek Nasya saat ini.


“tidak ada, kami hanya tidur saja nek.”


“yakin? Kalian tidak ngapa- ngapain?”


“maksud nenek apa sih? Terus terang saja.” Kania seperti mengerti apa yang ada di pikiran nenek Nasya.


“ya, kamu tahu lah kan, nenek sudah tidak sabar ni untuk menimang cicit lagi.”


“iya kan. Pasti Aska senang ada temannya.” Kak Kamila menambahkan

__ADS_1


“apaan sih nenek dan kak Kamila ini.” Kania menjadi sangat malu


“cie…. Cie… cie….” Nenek dan kak Kamila mengejek


“sudah, sudah kalian malah mengejek Kania terus. Kasihan dia.” Ibu mengelus rambut panjang kania


“tapi, harus segera ya Kania sayang. ”ibu menambahkan perkataannya.


“ma…ma jangan ikut-ikutan dung.” Mereka pun tertawa bersama-sama


Malam harinya kenan, dan nenek berbincang dikamar milik kenan. ia menyuruh Kania untuk membalut kembali luka di siku tangan kenan. dengan berbagai jurus Kenan menolak untuk dirawat oleh Kania. nenek pun memaksa Kenan. seperti biasa Kenan tidak dapat menolak. Sebenarnya ini hanya siasat nenek untuk mendekatkan Kenan dan Kania. ketika dalam perawatan nenek mencoba untuk meninggalkan mereka. Tetapi, setelah nenek keluar dari kamar. Dengan kasar Kenan menarik sikunya  dari tangan Kania.


“jangan pegang tanganku. (memalingkan wajahnya)” kenan membentak


“emang siapa yang ingin memegangmu, ish GR benar? (memalingkan wajahnya)” Kania membalas


“GR dia bilang, memeluk ku saja dia mau.” Kenan sedikit berbisik


“itu dirumah nenek Ija. Bukankah kau memelukku?” tegas Kenan


Kania mencoba mengingatnya. Ia  menjadi malu karna mengingat ketika ia bangun pagi. ia sudah berada dalam pelukan Kenan. Kania tidak bisa berkata-kata, dengan wajah yang kesal dia membereskan kotak


obatnya dan pergi meninggalkan kenan. kenan menggelengkan kepalanya sambil menatap kania yang pergi.


~


Keesokan harinya Kania pergi menemani ibu mertuanya ke suatu restoran untuk menjumpai teman ibu mertuanya tersebut. Mereka berbincang-bincang bersama selama setengah jam. lalu, ibu mertuanya mengajak kania untuk pergi berbelanja. Ketika ibu mertuanya asyik memilah dan memilih. Mata kania tertuju dengan seseorang yang berada sedikit jauh di depan matanya. Wanita tersebut seperti sedang bertengkar hebat dengan seorang pria tinggi berbadan ramping berkulit putih dengan kemeja kotak-kotak berwarna hitam yang tidak dikancing, memakai dalaman kaos putih dan bercelana biru jeans “Cantika? (terkejut) apakah Itu benar Cantika kan?” ia sedikit ragu dan mencoba untuk mendekat ke arah mereka memastikan bahwa itu adalah adik iparnya yaitu Cantika.


Ketika ia sedang berjalan mama mertua memanggilnya. Melihat ekspresi Kania yang terlihat bingung, malah membuat mam mertuanya bertanya ada apa dengannya. Ia tidak ingin hanya sebatas praduganya


saja. ia mengalihkan pertanyaan mamanya tersebut dan bergegas mengajak mama mertuanya untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang ia kembali melamun. Dalam hatinya ia berpikir teka-teki apa lagi sekarang ini  teka-teki kenan saja belum terungkap. sekarang Cantika malah membuat teka-teki padanya.


“apakah benar itu adalah  Cantika atau bukan? Jika benar, mengapa ia bolos dari kuliahnya?


Tapi, Siapa pria tersebut? Apakah itu pacarnya Cantika?


Mengapa mereka bertengkar sangat hebat seperti itu?”


pertanyaan demi pertanyaan tersirat di benaknya. Ia bertekad untuk segera mencari tahu apa yang sedang terjadi terhadap Cantika.


Sedari tadi kania melamun sambil menggigit kuku tangannya. mama mertuanya yang melihat hal itu menyadarkan kania dalam lamunannya.


“Kania? kania?”.


“ya, ma?”


“apa yang sedang kamu pikirkan. Sehingga mama memanggilmu tidak kamu dengarkan?”


“hem, tidak ada kok ma. Kania hanya sedikit lelah saja.”


“lelah? (Khawatir) kamu kenapa sayang? (memegang tubuh Kania) apakah Kania lelah karna menemani mama.”


“eh, bukan itu loh mah.”


“lalu?”


“sudah lah ma Kania tidak kenapa-kenapa kok. Ngak usah merasa ngak enak begitu.” mencoba menenangkan mama mertuanya


"apakah kamu yakin?"


"iya ma, 100%" sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2