
setengah jam kemudian kania yang telah merasa tenang. mengumpulkan keberanian untuk pergi kekamarnya. dalam perjalanan menuju kamar. langkah kania terhenti, ia melihat cantika menuju arah dapur.
"cantika? pasti dia butuh sesuatu. aku akan membantunya." kania menyusul cantika.
cantika yang telah sampai di dapur segera membuka kulkas dan mencari sesuatu. kania datang dan mengejutkan cantika.
"apakah ada yang dibutuhkan." tanya kania yang posisinya berada dibelakang cantika
"kakak (terkejut). aduh cantika pikir siapa," sambil mengelus dada
"kamu pikir kakak hantu? (tersenyum). apa yang sedang kamu butuhkan cantika?"
"ngak tahu kak, cantika lapar."
"kamu belum makan?"
"sudah kak, entah kenapa belakangan hari ini kalau sudah malam cantika pengennya makan mulu."
"hem, pasti karna si dedek ini ya." sambil mengelus perut cantika
"sepertinya kak" menatap kania
"aduh, dedek bayi jangan menyusahkan mama mu ya sayang. baiklah sekarang kamu mau makan apa can?"
"makan apapun cantika mau kak. tapi, saat ini cantika pengen nya makan masakan kak kenan."
"apa?" mata kania terbelalak sambil menelan salivanya yang tersangkut.
"iya kak, cantika dari tadi bingung bagaimana meminta kak kenan untuk memasak. apalagi kondisi kak kenan seperti itu." cantika tampak sedih."kak, bantu cantika kak. kakak tolong bujukin kak kenan dong agar mau memasak buat cantika. hicks hicks hicks"
entah apa yang membuat cantika langsung menangis. mungkin karna janin yang ada di dalam perutnya saat ini. melihat tangisan cantika, kania yang semula tidak ingin berbuat apa-apa langsung merasa iba. ia pun menganggukkan kepalanya lalu pergi berlalu menuju kamar untuk bertemu kenan.
__ADS_1
ketika ia sudah berada di depan pintu kamarnya. ia berulangkali kesana kemari, mondar- mandir untuk mencari cara bagaimana untuk menyuruh kenan.
"aduh, bagaimana ini?" mondar-mandir "bagaimana bisa dia memasak? sedangkan, saat ini berdiri saja ia susah." mengigit kuku jari tangannya. oh, tuhan jika seperti ini terus. lama-lama aku akan gila."
beberapa menit ia diluar kamar dan akhirnya ia mengumpulkan keberanian untuk bertemu kenan.
ia masuk dengan perlahan menuju ranjangnya. ia berbaring dan menarik selimutnya hingga ke atas kepala. kenan yang melihat kania masuk, hanya bisa melihatnya saja. beberapa menit suasana ruangan itu sepi dalam peperangan pikiran masing-masing. kenan dengan pikirannya sedangkan, kania dengan pikirannya.
kenan akhirnya memberanikan diri untuk berbicara duluan kepada kania.
"apakah kamu sudah tidur?" tanya kenan berbaring menoleh ke arah kania
kania terkejut dengan sapaan kenan. mungkin, ini kesempatan bagus untuknya agar bisa berbicara.
"belum, ada apa? apakah kamu butuh sesuatu?" kania menjawab walaupun dengan selimut yang menutupi sekujur tubuhnya.
"tidak, aku tidak butuh apapun." kenan memainkan jari-jemarinya karna sedikit canggung
"hem, baiklah." jawab kania. "aduh bodoh sekali, kenapa kamu malah mengakhiri pembicaraan kania. bodoh bodoh" gumam kania dalam hati sambil memukul kepalanya. "tapi, bagaimana lagi. ia juga sudah mengakhiri pembicaraan. apa lagi yang harus aku katakan. hem" menggerutu sambil menghela napasnya panjang.
kania kembali terkejut, dengan cepat ia menjawab sapaan kenan.
"ya."
"maafkan aku, pasti kamu sedih ya dengan perkataanku tadi?"
kania yang semula tersenyum menjadi heran.tidak disangkannya kenan, pria dingin yang ia kenal selama ini mau memikirkan perasaannya. kenan yang tidak mendapatkan jawaban dari kania menolehkan kembali kepalanya ke arah kania. ia merasa saat ini kania pasti sedang sangat marah dan tidak akan memaafkannya.
"apakah kamu mau memaafkanku?" kania diam tidak menjawab. kenan berusaha untuk mendapatkan jawaban "perkataanku sungguh menyakiti hatimu ya?. kania jawablah, aku butuh jawabanmu. kania jangan mendiamkanku seperti ini, aku tahu kamu pasti belum tidurkan." sambil menggerak-gerakkan tubuh kania dengan tangan kirinya.
kania kembali tersenyum, sepertinya ia menemukan cara untuk menjalankan siasatnya membantu cantika.
__ADS_1
kania membalikkan tubuhnya menghadap ke arah kenan yang berada di samping kanan tidurnya.
ia menatap wajah kenan dengan dalam berpura-pura untuk serius. kenan yang ditatap seperti itu oleh kania menjadi sedikit takut. kalau- kalau kania akan menerkamnya hidup-hidup. heheh ada-ada aja pikiran kenan ya.
"kenapa kamu menatapku seperti itu?" menjauhkan wajahnya dari kania. kania diam dan hanya menatap kenan
"jawaban apa yang harus aku berikan padamu?" tanya kania dengan serius
"kenapa malah bertanya padaku? terserah padamulah mau memaafkan ku atau tidak."
"mulai lagi kan sifat jeleknya. suka banget mancing- mancing emosi. sudah, sabar ya kania demi cantika dan janin nya." gumam kania dalam hati kesal sambil menatap kenan dalam diam.
kenan yang melihat kebungkaman kania, menjadi tidak enak karna telah menjawabnya dengan ketus.
"sebenarnya aku ingin jawaban, telah memaafkanku." jawab kenan dengan sedikit malu-malu.
"kamu akan mendapatkan jawabannya jika, kamu mau memasak untukku."
"memasak?" terkejut "kamu sedang tidak bercanda kan? kamu lihat sendiri bagaimana keadaanku saat ini. tetapi, kamu malah meminta hal yang tidak dapat kulakukan" bentak kenan.
"kalau kamu tidak mau ya sudah aku juga tidak memaksa kamu." jawab kania kecewa. "satu lagi, ngak perlu bentak-bentak aku. tinggal jawab ngak mau aja susah banget". kania kembali membelakangngi kenan.
beberapa saat kenan berpikir dan menimbang permintaan kania.
"ya, sudah besok aku akan memasak untukmu."
"tidak perlu, sebelum kamu memasak untukku. besok pagi, aku sudah tidak ada lagi di kamar ini karna, mati kelaparan oleh mu." jelas kania dengan suara kesal
"lapar? kamu tidak makan?" tanya kenan
kania duduk lalu menghadap ke arah kenan.
__ADS_1
"bagaimana aku bisa makan, sedangkan aku terlalu sibuk untuk merawatmu. entah, sampai kapan kau akan seperti ini.untuk makan saja sudah tidak kuingat lagi." memanyunkan bibirnya.
kenan memperhatikan kania dengan perasaan bersalah. ia merasa telah banyak merepotkan kania, bagaimana bisa untuk makan saja kania lupa. kania kembali merebahkan dirinya.