
#Sebelumnya
"Pria? wah, baru saja 1 hari kau sudah dekat dengan seorang pria ya. Bagaimana beberapa tahun kau disitu. Jangan - jangan kau akan selingkuh di belakang ku. " Canda Kenan kepada Kania.
#Selanjutnya
"Apa? dekat dengan pria. Eh, dengar ya Kenan kamu tuh emang ngak nyambung ya. Aku bilang ada seorang pria yang membuatku jengkel dikampus. Bukan aku dekat dengan seorang pria. Ngerti ngak sih?" Jelas Kania
"Ya, aku kan ngak tau. Hari pertama dikampus saja kau bercerita tentang pria." Canda Kenan
"Itu yang ku alami Kenan. Ya sudahlah kalau begitu, lain kali aku hanya akan menjawab ya dan tidak saja, daripada harus bertengkar denganmu. " Kesal Kania.
"Kok jadi kamu sih yang kesal? aku hanya berniat bercanda denganmu. Makanya jangan terlalu serius."
"Ada waktunya loh Kenan. Kalau lagi bicara Serius ya serius jangan bercanda."
" Ya udah, maaf. Terus bagaimana ceritanya? "
Kania pun bercerita tentang kejadian yang dia alami di taman.
"Bagaimana dengan hari-harimu di kantor?" Tanya Kania setelah bercerita.
"Hem, seperti biasanya kesibukan yang hakiki. "
"Kapan, kamu akan kemari?" Tanya Kania dengan suara hati-hati.
"Apakah kamu sudah merindukanku?" Tanya Kenan kembali dengan nada lembut, dan sedikit terkesan romantis.
"Sedikit." Jawab Kania
"Jawabanmu lebih dari cukup untuk menenangkan hatiku." Rayu Kenan.
"Dasar, tukang rayu. Siapa yang sudah termakan dengan rayuanmu itu"
"Tidak banyak, paling 100 wanita lah. " Canda Kenan.
"Kasihan sekali mereka, sepertinya kau harus belajar lebih giat lagi untuk merayu ku. "
"Jadi, kau tidak terayu?"
"Tidak sama sekali"
"Baiklah, aku akan meng-upgrade kembali rayuanku. "
__ADS_1
"Aku akan menungu." Mereka saling malu-malu satu sama lain, Seperti orang yang sedang melakukan pendekatan satu sama lain.
Hari telah larut, pembicaraan mereka semakin intens seperti kekasih yang sedang merindu.
"Ini, sudah larut malam. Kau harus istirahat. Aku tidak mau besok kau telat untuk masuk kuliah."
"Iya, kau juga tidur pasti kau lelah. Apalagi, sekarang tidak ada yang mengurusmu. Pasti merepotkan bukan?"
"Ya, bisa dikatakan seperti itu. Tapi, aku akan menunggumu hingga kembali" larut dalam perasaan mereka. "Malam istriku Kania, mimpi yang indah." Jantung Kania berdegup kencang, perasaan yang selalu akhir - akhir ini ia rasakan.
"Ma.... malam." Gugup.
-
Kania pergi ke kantin setelah kuliahnya selesai. Tiba-tiba pria yang membuang sampah di taman duduk di hadapannya. Wajah Kania terlihat tidak suka. Ia pun berdiri dan pergi dari hadapan pria itu. Pria itu kembali mengikutinya dari belakang.
Kania yang merasa terganggu diikuti. Ia pun berhenti lalu menghadap kebelakang. Sontak pria tersebut terkejut dan berhenti.
"Kenapa kau mengikutiku?"
"Aku tidak mengikutimu. GR banget." memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Kania yang tidak ingin berdebat langsung berjalan, Ia merasa pasti pria itu sedang mengikutinya. Ia pun mempunyai cara untuk membuat pria itu terperogok.
Kania berjalan hingga ke lantai atas atap kampus. Awalnya pria itu bingung dan berhenti. Lalu tak lama kemudian, pria itu pun tertangkap basah. Ia naik ke lantai atap atas.
"Hem, udara disini segar banget ya." Menarik napas.
"Jangan berpura-pura, kau pikir aku tidak tahu. Sekarang kutanya, apa maksudmu?" tanya Kania tegas.
"Baiklah sepertinya aku tertangkap basah. Aku memang mengikutimu. Aku ingin meminta maaf soal yang kemarin di taman. Aku salah, seharusnya aku tidak membuang sampah sembarangan."
"Ya, aku sudah memafkanmu. Setidaknya kau sudah menyesal."
"Angga." mengulurkan tangannya.
"Ya, sudahlah. Aku turun duluan ya." Pergi turun.
Angga menurunkan tanganya kecewa karna tak terbalas. "NAMA... mu siapa?" Ia tersenyum gemas.
-
Hari-hari Kania di kampus sangat dinikmatinya. saat ini ia juga telah mempunyai teman yang bernama feren dan Jeje.
__ADS_1
Selain itu Angga juga sering mendekati Kania. walaupun terkadang Kania mengabaikannya.
Kania, Feren, dan Jeje keluar dari perpustakaan. Mereka bertatap muka dengan Angga dan teman-temannya yang lain. Angga menorehkan senyumannya kepada Kania. Sedangkan Kania hanya membalasnya dwngan terpaksa.
"Kalian baru keluar dari perpus?"
"Iya, kak. Sekarang kami mau ke kantin." sahut Feren yang memang sedikit polos.
Kania dan Jeje yang tomboy memberi isyarat tidak senang kepada Feren. Feren pun hanya tersenyum kikuk.
"Kebetulan sekali kalian mau kekantin. Kami juga mau ke kantin. Bagaimana jika kita bareng aja? " Sahut teman Angga
"Hem, ngak deh. Kelas juga udah usai. Aku, Jeje, dan Feren akan beristirahat di apartemenku. Iyakan! " Memberi isyarat kepada mereka.
"Iya, itu adalah janji kami tadi. Gimana sih Ren, bisa-bisanya kamu lupa. " Jelas Jeje
"Iya ya. heheh" Sahut Feren.
"Kalau begitu aku akan mengantar kalian. Kebetulan aku juga akan pergi ke kantor. Aprtemenmu kan, Searah dengan kantorku Kania." Pinta Angga
#Perkenalan
Angga Resepta adalah anak pemilik yayasan kampus terkenal dan bergengsi di Kolkuta tempat dimana Kania sedang menimba ilmu. Angga juga tamatan dari kampus tersebut. Karna, ayah angga sedang dalam masa pemulihan akibat kecelakaan, Angga yang sudah tamat atau seumuran dengan Kenan membagi waktunya untuk mengurus yayasan dan bisnisnya yang berjalan sukses.
#
"Benarkah kak Angga? Wah, kebetulan sekali. Itung itung menghemat heheh." Jawab Feren polos.
Kania dan Jeje terdiam lesu menatap tingkah Feren.
-
Di dalam mobil Kania tampak mengalihkan pandangannya ke luar kaca. Walaupun berkali-kali Angga selalu di abaikan oleh Kania. Tetap saja Angga selalu ingin mencoba dekat dengan Kania.
Ya, Angga memang sudah jatuh hati saat pertama kali mereka bertemu di taman. Gadis yang tegas, berani, dan berbudi luhur. Berbeda dengan gadis-gadis yang ia temui selama ini. Maka dari itu Angga tidak pernah berhenti untuk mendekati Kania. Walaupun harga dirinya terkadang jatuh karna telah diabaikan oleh Kania.
-
Mereka telah sampai di apartemen Kania. Kania, Feren, dan Jeje turun dari mobil. Walaupun Kania tidak menyukai Angga. Kania tetap berterimakasih kepadanya.
Keesokan harinya tepat pukul 11 di kantin kampus. Seorang wanita cantik, tinggi, dan putih yaitu kembang kampus heheh. Datang tiba-tiba mengebrak meja makan Kania dengan kuat.
"Hei wanita tua, aku peringatkan ya. Jangan pernah ganggu tunanganku lagi mengerti." Mencengkram pipi Kania hingga kukunya yang tajam membuat luka disana. "Dasar Perebut tunangan orang. " Melepaskan cengkramannya dengan kasar.
__ADS_1
Semua orang yang berada di kantin tidak menyangka jika Kania adalah perebut tunangan orang. Kejadian itu pun tidak di sia-siakan oleh sebagian orang. Mereka langsung merekam kejadian tersebut dan meng-uploadnya di Sosmed.
Jeje tidak tahan melihat hal itu. Ia telah mengepal tanganya dan ingin melepskan bogem mentah di wajah wanita tersebut. Kania yang melihat Jeje langsung menahannya. Kania, menghapus darah yang keluar di pipinya. Lalu, dengan elegan pergi bersama Jeje dan Feren. Semua orang dikampus pun menyoraki mereka.