Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
BERSATU


__ADS_3

Kenan menarik kopernya keluar dari apartemen bersama Kania. Sesampainya di parkiran, telpon gengamnya berbunyi. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil telpon genggamnya. Tertera "Mama Calling" ia pun segera mengangkat panggilan itu.


"Hallo mah."


"_"


"Iya, Kenan masih di apartemen sekarang"


"_"


Kenan memandang arah Kania heran sambil menaikan alisnya. Kania penasaran apa yang terjadi


"Baik mah, kami akan segera berangkat." Kenan menutup panggilan ibunya itu


"Ada apa mas?" tanya Kania penasaran


"Sayang kamu ikut aku pulang sekarang ya."


"Pulang? kenapa?" tanya Kania sedikit terkejut dan cemas. pasti terjadi sesuatu pada keluarganya


"Nanti sampai disana kamu pasti tahu, kita ngak punya waktu sekarang. ayo kita berkemas barangmu."


Tanpa A I U E O Kania pun menurut kepada Kenan.


-


Sepanjang perjalanan menuju rumahnya tidak ada pembicaraan apapun diantara Kenan dan Kania. Hanya tampak Kenan yang sesekali memberikan pelukan dan kecupan pada kepala Kania seperti memberikan kekuatan dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Kania heran kenapa mobil tidak mengarah ke kediaman mereka tetapi malah mengarah kekampungnya. Kania menatap Kenan, seperti tahu dari sorot mata Kania yang ingin bertanya kenapa arah mereka berbeda? Kenan pun menarik pinggang Kania untuk segera mendekat kearahnya. Ia pun mencium pelipis Kania sembari mengusap tangan sebelah kiri Kania,


Mereka telah sampai di kampung halaman Kania, Entah kenapa tangan kania berkeringat dan dingin ia cemas dengan keadaan yang akan terjadi nanti. Mobil yang mereka tumpangipun masuk ke gerbang halaman keluarga Amonade. sesampainya di depan pintu rumah. Kania yang tidak bisa berpikir apapun, langsung segera turun dan berlari....


Ia melihat ada keluarga besar Ganendra disana, semua orang menatap wajah Kania. Terlihat wajah mereka yang terlihat sedih. Kenan masuk sambil mendorong barang mereka dan melihat keluarganya sudah berada disana. kania melihat kearah kamar kakek-nya, dan melihat abangnya jack disana yang memutus tatapan mereka sambil menunduk dan perlahan keluar dari kamar tersebut. Seketika kaki Kania melemas ia bergerak perlahan dengan raut wajahnya yang sedih.

__ADS_1


Perlahan dia masuk kekamar tersebut dan melihat paman Ray, bibi Cia, nenek Nasya, kakek Sofyan, kedua mertuanya serta kakenya terbaring lemas dengan peralatan medis yang terhubung langsung ketubuh tua itu diatas ranjang. Kakek Sofyan yang berada disisi ranjang merentangkan tangan kepada Kania. Ia tidak kuat melihat Kania yang begitu terkejut melihat sahabatnya itu. Kania mendekat dan memeluk kakek Sofyan.


"Kuat ya sayang, ada kami disini." mengecup kening Kania


Kania melepaskan pelukan tersebut, tanpa suara tapi air matanya turun begitu derasnya. Ia melihat kakeknya sesaat lalu duduk di dekat ranjang tersebut dan mengambil tangan kakeknya. Kakek Kania pun terbangun, ia tahu jika itu tangan cucu yang ditunggunya. Kakek Sofyan memberikan kode kepada semua orang yang ada dikamar tersebut untuk keluar memberikan waktu kepada kakek dan cucu itu.


Kenan tidak bergeming dia pun terlihat sangat sedih menyaksikan kakek Koba yang terbaring. Ia pun memilih untuk duduk di sofa ujung kamar. Kakek mengangkat tanganya untuk menghapus air mata Kania yang keluar. Ia tidak menyukai air mata di pipi cucunya itu.


"Kenapa kakek seperti ini?" kania angkat bicara


"Kakek sudah tua sayang, wajar kakek seperti ini."


"Kenapa tidak dirawat di rumah sakit saja?"


"Kakek tidak mau nak."


"Kenapa?"


"Kakek pikir sudah sa...."


"Kania disini kek, Kania akan merawat kakek hingga sembuh. Kakek harus sembuh. Kakek harus sehat. Kania tidak mau kakek seperti ini." Kakek Koba mengelus perlahan rambut cucunya tersebut.


Kakek koba melihat Kenan yang duduk disofa. Ia memberikan isyarat kepada Kenan untuk mendekat. Kenan bangkit dari sofa itu dan menuju kearah samping ranjang sebelah Kania.


"Trimakasih sudah mau menjaga Kania." Ucap kakek sambil menepuk tangan kenan.


-


Dua hari telah berlalu, Kania tidak pernah sedikitpun meninggalkan kakeknya ia dengan telatent merawat kakek Koba. Beberapa anggota dari keluarga ganendra begitu juga dengan kenan yang memang ada masalah urgent di kantornya mengharuskan juga kembali pulang tanpa terkecuali kakek, nenek, serta orangtua Kenan. Mereka masih setia untuk menjaga Kakek Koba. Walaupun berkali-kali kakek Koba menyarankan untuk pulang saja karna tidak ingin direpotkan.


"Kania"

__ADS_1


"Ya kek."


"Kakek rasa suda saatnya kamu mengetahui orangtua mu." Jelas kakek Koba


Kakek koba pun menceritakan semuanya kepada Kania tanpa ada yang dikurangi dan ditambahkan. Cerita tersebut sesuai dengan cerita yang didapatnya langsung dari wanita yang telah melahirkannya. Terlihat dari cara kakek Koba menjelaskan terdapat semburat penyesalan diwajahnya akan tindakan yang dilakukan oleh kakeknya tersebut.


"Apakah kakek merindukan mamah?" tanya Kania yang berlinang air mata sambil tersenyum


"Nasi, telah menjadi bubur sayang. Apakah pantas kakek merindukan orang yang kakek sayangi dan sakiti?" Jawab Kakek Koba sedih


"Apakah kakek ingin bertemu dengan mamah?" tanya Kania kembali


"Harapan besar kakek sayang, tetapi itu tidak mungkin." Jawab Kakek.


"Ayah..." suara seorang wanita paruh baya menggelegar dikamar tersebut.


Wanita itu adalah putri kesayangannya, putri yang telah diusirnya puluhan tahun silam, dan memisahakan antara anak dan ibu tersebut. Wanita itu menangis sambil meminta maaf kepada ayahnya.


"Ayah maafkan Sarah, ayah Sarah tidak pantas untuk menjadi anak ayah, Ayah hukumlah Sarah." Sambil berlutut


Terlihat kakek Koba telah menangis, ia pun mengangkat tanggannya kepada putri kesayangannya itu. Sarah bangkit berdiri dan menghampiri ranjang untuk memeluk pria tua tercintanya.


"Maafkan ayah Sarah, ayah yang salah, ayah sudah membuatmu dan Kania menderita.."


Suasana haru meliputi ruangan tersebut. Kania melihat kearah sekitarnya, Ia melihat Pria paruh baya yang jelas itu adalah ayahnya profesor Adi Cahyono dan disebelahnya adalah adik kandungnya Sandra cahyono. Mata mereka  bertiga pun beradu.


Sandra menyudahi tangisnya ia melihat Kania, Ia berdiri dan memeluk Kania. Ia menciumi wajah kania dan meminta maaf setiap kesalahan dan ketidak pekaannya terhadap Kania. Kakek Koba juga menyuruh Prof Adi untuk datang kepadanya dan meminta maaf.


"Sandra kemari." Ajak Sarah ibunya


Sandra yang benar-benar syok pun bergerak tak berdaya. Bagaimana bisa wanita yang dia benci selama ini adalah kakak kandungnya. Dunia seperti mempermainkan dirinya selama ini.

__ADS_1


"Ayah, ini adalah Sandra, anak kedua kami."


Kakek Koba menahan bongkahan besar dihatinya yang melihat Sandra yang tumbuh tanpa ia ketahui. Seharusnya ia berpikir jernih pada saat itu dan tidak mengikuti ego serta emosinya. jika tidak keputusan yang salah ia ambil tidak berimbas kepada Kania dan Sandra. Kakek Koba menyuruh Sandra untuk mendekat dan memeluknya. Sandra yang merasa kehangatan kakeknya itu menangis dalam diam.


__ADS_2