
Sandra pulang setelah hangout bersama temannya, kerumah dan berjumpa kedua orang tuanya yang sedang bersantai diruang keluarga. Semenjak kejadian maaf-memaafkan keluarganya, Sandra berserta kedua orangtuanya
menjadi keluarga yang hangat.
“Malam pah, mah.” Memeluk papah dan mamah-nya.
“Malam sayang, darimana?” Tanya papah Sandra.
“Biasalah pah, namanya juga anak muda.” Jawab Sandra santai
“Nak.”
“Ya, pa.”
“Papa liat, sekarang kamu jadi malas belajar deh. Maksud papah bukan memaksa kamu ataupun melarang kamu buat hangout bareng teman-teman kamu. Tapi, alangkah baiknya kamu focus dulu sama kuliah kamu. Boleh kamu keluar main bareng teman-teman kamu, tapi dibatasin sayang.” Minta papa Sandra pada Sandra sambil mengelus lembut rambut putri kesayangannya itu.
“Hem, ya pah akan Sandra pikirkan lagi.” Jawab ketus Sandra yang mulai merasa jika orang tuanya sedang mengaturnya.
Ayah dan Ibu Sandra yang mendengar sikap jawaban anaknya tersebut saling menatap satu sama lain. Seolah mengerti jika anaknya tidak ingin diganggu aktifitasnya.
“Nak, apakah kamu punya teman yang bernama Kania?” Sandra yang sedang bergelut manja dengan ayahnya langsung menegakkan kepala terkejut. Begitu juga dengan ibu Sandra.
“Kania? Ohw, di perempuan gatel itu.”
“Perempuan gatel?.” Ulang ibu Sandra memperjelas
“Iya, perempuan gatel mah. Papa mamah tahu kak Angga itu main gila sama siapa? Ya itu si Kania yang papah sebut.”
“Ini, Kania yang mana sih? Sepertinya mamah tidak pernah tahu jika kamu punya teman yang namanya kania.” Tanya mamah Sandra
“Memang bukan temanku mah. Tapi dia kuliah di Universitas Kolkuta.”
“Kania yang rambutnya panjang, dan cantik itu kan.” Perjelas ayah Sandra agar tidak salah paham.
“Cantik apaan sih pah, cantikan juga aku. Entah pellet apa yang dibuatnya hingga kak Angga dan tuan Kenandri bisa menyukainya.”
“Kenandri?”
“Iya, Kenandri Ganendra pengusaha terbesar dan keluarganya salah satu pemilik saham Universitas Kolkuta.”
“Emangnya tuan Kenan siapanya Kania?” Tanya ayah Sandra
“Suaminya pah.”
Ibu Sandra semakin penasaran apakah Kania yang putrinya maksud adalah Kania yang sama yang dikenalnya. Iya mengambil ponselnya dan menunjukkan poto Kania yang sepat diabadikan oleh mereka saat pertama kali
berjumpa.
“Ini, bukan namanya Kania?” Tunjuk Ibu Sandra.
“Loh, kok mamah bisa poto berdua dengannya?” Tanya Sandra tak percaya.
“Iya, dia yang waktu itu anak baik, sopan dan ramah yang mamah ceritakan itu loh pah.” Menegaskan ingatan suaminya.
“Hem, papa juga setuju sama mamah, dia anak yang baik, sopan dan juga ramah sama orangtua.”
__ADS_1
“Kok, papah sama mamah malah memuji dia sih. Asal mamah sama papah tahu ya dia itu bermuka dua. Tidak seperti yang papah dan mamah sangka. Huft, kesel deh.” Sandra menghempas-hempaskan kakinya lalu pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
“Kok, dia sebenci itu sih dengan Kania?” Tanya mamah.
“Mungkin saja salah paham mah, antara anak kita dan Kania. Papa aja ngak yakin jika Kania orang yang seperti itu.”
“Mamah juga pah, papa kenal Kania dimana?”
“Beberapa hari yang lalu, di perpustakaan. Kebutulan papa sedang membaca disana sambil menunggu pak burhan. Papa langsung tetarik melihat antusiasnya membaca mengingatkan papa dahulu yang haus akan bacaan. Papa perhatikan gerak-geriknya, keseriuasannya dan caranya mengetuk beberapa kali meja ketika ia pikir itu sangat menarik. Haha, sungguh mengingatkanku tentang masa mudaku. Apalagi semakin hari rasanya perpustakaan kita jarang sekali ya mah, mahasiswa datang berkunjung.”
“Iya pah, ibu Mariam juga mengeluhkan hal yang serupa.”
“Oh, iya kamu tau kalau Kania sudah menikah?”
“Sudah pah, waktu itu mereka yang menolong mamah dari tabrak lari di supermarket perbelanjaan. Papah tau mereka itu persis sekali seperti kita dahulu, sedikit aja ada pasti yang selalu mereka perdebatkan.”
“Hahaha, benarkah mah. Iya ya, dulu diawal pernikahan kita, kita selalu saja berdebat kecil. Tapi itu yang selalu aku
inginkan darimu.”
“Kenapa?”
“Karna, berdebat denganmu membuatku merasakan nikmatnya cinta.”
“Uwhf, dasar ingat umur pah, gombal nya garing. Kamu tuh ngak bisa berkata-kata manis dan jangan lakukan itu, membuat bulu kudukku merinding.. ihhhhh.” Ibu Sandra berpura-pura bergidik.
“Ala, bilang aja suka kan.. iya kan mah, pasti suka.”
“Ble, sedikitpun enggak ya. Dasar kakek kakek.” Ibu Sandra berdiri dan meninggalkan suaminya
“Kakek- kakek? Kamu ya mah..” Mengejar ibu Sandra.
-
Kania berjalan menuju taman kampus tempat Feren dan Jeje yang telah menunggu Kania dari kelas tambahannya. Dengan wajah yang semringah Kania menghampiri mereka.
“Wah, wah wah, ada kabar baik ni ren.”
“Apa je?”
“Pasutri kita udah baikkan.”
“Hem, jelas banget Je. Liat aja wajahnya merona-rona.”
Goda Feren dan Jeje
“Apaan sih kalian.” Senyum malu Kania
“Aduh, aduh seketika jiwa jomblox ku meronta-ronta pengen dilamar..” Jawab Jeje
“wkwkwkkwk…..” Feren dan Jejej berhasil membuat Kania malu tak berdaya
“Dasar terus aja godain aku…” Kesal Kania.
“Ngak, apa dong Kan, kami malah senang jika kalian sudah baikan begini. Daripada marahan ngak jelas haduh,,, buat pusing.” Jawab Feren
__ADS_1
“Uwhhhh,,, makasih ya. Kalian udah mau jadi sahabat yang selalu ada buat aku.” Haru Kania
“Iya, Kan. Sama-sama.” Feren dan Jeje memeluk erat Kania
Drit drit drit… ponsel Kania bordering
“Siapa itu Kan?”
“Udah angkat aja mana tahu dari si babang Kenan.” Goda Jeje kembali membuat Kenan dan Feren tertawa.
Kania melihat si pemanggil di layar ponselnya.
“Informan.”
“Ya, udah angkat aja Kan.” Tegas Jeje diikuti anggukkan Feren.
++++
“Hallo.”
“Informasi yang kamu inginkan sudah ada. Datanglah kemari sekarang juga, dan jangan lupa uangnya.”
“Baiklah kami akan segera kesana sekarang.”
“Baguslah saya akan menunggu.”
++++
Kania, Feren dan Jeje langsung datang ke markas Informan itu.
-
“Kalian sudah datang?”
“Ini, semua informasi sudah aku susun jadi satu.” Ketika Kania akan mengambil berkas tersebut tiba-tiba sang Informan langsung menariknya kembali.
“Ada uang dapat info.”
“Baiklah, aku akan mentransfernya sekarang juga.”
Tidak lama, kemudian Kania menunjukkan bukti tfnya kepada informan tersebut. Segera mereka membuka berkas yang telah diberikan kepada Kania.
Kania membolak-balikkan semua nama yang tertera di daftar tersebut. Dan akhirnya menemukan 3 nama yang sekiranya cocok dengan inisial yang terdapat di poto yang pernah ia jumpai di gudang rumah kakeknya.
“Bagaimana kan? Kau menemukannya?”
“Ada 3 nama yang mendekati inisial nama itu. Ini, tak segampang yang kupikirkan. Aku piker aku akan mengetahuinya dengan cepat. Kini aku harus mencarinya kembali.”
“Sabar Kan, kamu tidak sendirian kami akan membantu.” Tenang Feren.
“Kalau boleh tahu mana nama-nama itu? Mungkin saja kita bisa mencari dimulai dari…..” Jeje menerima berkas nama yang telah di stabile Kania kepadanya dan akhirnya terkejut.
“I- ibu Sandra?”
“Maksudnya?” Tanya Feren diikuti Kania yang penasaran.
__ADS_1
“Ini, ini nama ibu Sandra.” Menunjuk kearah urutan kedua dari ketiga nama tersebut.
“TIDAK MUNGKIN!” Jawab serentak ketiga sekawan itu.