Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
Kesempatan


__ADS_3

kenan dan kania tiba dirumah sakit. seorang dokter ahli datang menghampiri kenan dan kania yang telah menunggu diruangannya. kenan dan kania langsung berdiri dari tempat duduk mereka dan menyalami dokter tersebut.


"tuan kenan dan...." imbuh dokter


"kania." jawab kenan. dokter albert seperti terpesona akan kania


"nona kania, anda sangat cantik sekali. dari karakter wajah anda sepertinya anda sangat penyayang, keibuan. apakah anda sudah mempunyai kekasih?" mempersilahkan kenan dan kania duduk


"belum dok." dengan entengnya kania menjawab dokter tersebut. mata kenan menatap tajam ke arah kania. kania menatap kenan kembali sambil memberi isyarat 'ada apa kepada kenan'


"benarkah? bagus dong kalau begitu." dokter albert tersenyum menatap kearah beberapa kertas. "baiklah tuan kenan, bisa kita mulai melakukan pemeriksaan?"


"saya sudah siap dari tadi dok, dokter saja dari tadi terlalu genit untuk menggoda." jawab kenan dengan kesal.


"heheh, maaf tuan kenan." dokter albert merasa sedikit malu, ia pun fokus kembali untuk memeriksa keadaan kenan."


*


setelah beberapa saat diperiksa kania dan kenan pun berpamitan kepada dokter albert. sambil berbincang sedikit dokter albert mengantar mereka kedepan ruangan.


"baiklah dokter, terimakasih banyak karna sudah mau memeriksa keadaan saya."


"sama-sama tuan kenan. jangan terlalu sungkan, itu sudah menjadi tugas saya sebagai seorang dokter." sambil menatap kania yang sedari tadi hanya sibuk memandang ke arah lain.


kenan yang melihat arah tatapan dokter albert terlihat semakin tidak suka. ia pun segera mengajak kania untuk pulang.


"kami pamit pulang ya dok."


"iya tuan, hati-hati dijalan."


"iya dokter."


"oh, iya nona kania.apakah malam minggu nanti,anda mempunyai acara?


"tidak ada dok. emang ada apa ya?"


"bolehkah saya mengajak nona untuk berkencan?"


"berkencan? wuahaha dokter mengajak saya berkencan?" kania tertawa terbahak-bahak. ia tidak menyangka, dokter yang memiliki paras tampan, bertubuh atletis, tinggi, serta berkulit putih malah mengajak gadis desa sepertinya berkencan.


kenan dan dokter albert heran melihat kania yang tertawa terbahak- bahak. kania menatap ke arah kenan yang berwajah masam


"maaf, maaf. (menarik napas) dokter albert saya sangat berterima kasih sekali, atas tawaran anda. tapi maaf dokter, saya tidak bisa?"


"tidak bisa kenapa? bagaimana jika lain waktu?"


"lain waktu juga tidak bisa dok."


"kenapa?"


"karna, anda harus meminta ijin tuan kenan terlebih dahulu."


"hem, sepertinya itu mudah. bagaimana tuan kenan?"


"apakah kamu ingin mati ditanganku?" wajah kenan sangat merah saat ini karna menahan amarah. tangannya mengepal dengan kuat.


suasana pun menjadi tegang, kania dengan segera memeluk tangan kiri kenan yang terkepal kuat. ia melepas genggaman itu lalu menyatukannya dengan jari-jemari kania. kenan menoleh ke arah kania, mata mereka beradu sangat dalam. membuat emosi kenan yang semula akan meledak menjadi reda seketika.


kania seperti obat penenang bagi kenan, ia bisa dengan mudah meredakan emosi kenan. ia takut kejadian yang lampau mengingat kan kenan kembali betapa buruknya harga diri seorang wanita dimata kenan.


"maaf dokter, atas nama tuan kenan saya menolak sendiri tawaran dokter. "

__ADS_1


"tapi kenapa? bukankah kamu berkata belum memiliki kekasih? berarti tidak masalah dong."


"saya memang tidak memiliki kekaaih dokter. tetapi, saya sudah memiliki suami. suami saya adalah tuan kenandri ganendra. "


"tuan kenan? bagaimana bisa? bukankah, waktu itu tuan kenan telah bertunangan dengan aira naka?" tanya dokter albert dengan heran.


kenan menghampiri albert, lalu mencengkram leher albert dengan kuat.


"tidak perlu terlalu kepo dengan kehidupan pasienmu. cukup kamu lakukan tugas mu sebagai seorang dokter. dan satu lagi jangan pernah mendekati istriku. kau mengerti, atau akan kupastikan kau tidak akan mendapatkan pekerjaan seumur hidupmu." bisik kenan kepada dokter albert.


albert terdiam tanpa suara. ia melihat punggung kenan dan kania yang akan menghilang di persimpangan jalan menuju pintu keluar.


-


dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil tampak sangat hening. kenan menatap ke arah luar jendela dengan tangan yang masih menggenggam kania sangat erat. kania hanya diam menatap kearah kenan. ia merasa sangat bersalah karna tidak langsung berterus terang kepada dokter albert. tentang statusnya yang sudah bersuami.


dari genggaman yang dilakukan kenan kepada kania, sepertinya dia sangat tidak ingin kejadian di masa lalu menghampirinya kembali.


"ken, aku..." kania mencoba untuk mengungkapkan perasaannya yang bersalah


"jangan bicara, aku sedang tidak ingin bicara." kenan menyanggah kania


kania pun tidak dapat melanjutkannya kembali, ia membiarkan kenan untuk hening sejenak.


-


setelah kejadian di rumah sakit, kenan mengunci kamarnya dan menyuruh kania untuk tidak mengurusnya hari ini. kenan mengurung diri dikamar tanpa mau makan atau pun minum. nenek, ibu, kak kamila, beserta cantika menghibur kania agar kania tidak terlalu merasa bersalah atas kejadian di rumah sakit.


malam harinya, pada saat semua orang berkumpul diruang makan. kakek, ayah, dan bang jack melirik ke arah istri-istri mereka mempertanyakan apa yang terjadi kepada kania yang terlihat murung dan tidak bersemangat. mereka pun memilih diam karna mengerti ada sesuatu terhadap kenan dan kania.


"kania, makanlah nak. kamu dari tadi siang belum makan sedikitpun." ibu mengelus lembut rambut kania yang sedang menatap makanannya


-


kania sudah lima menit yang lalu tiba di depan kamarnya. tetapi, berulang kali ia menahan tangannya untuk mengetuk pintu kamar. diruang makan setelah kania pergi. semua keluarga sibuk bergosip. hehhe dasar keluarga kepo.


di kejauhan kakek beserta bang jack mengintip kania selama 3 menit yang lalu. karna mereka rasa ini tidak akan ada tindakan apapun dari kania. kakek dan bang jack menghampiri kania. kania terkejut melihat kehadiran mereka.


"kakek, bang jack."


"mau sampai kapan itu nasi dibiarkan seperti itu?" tanya bang jack


"hem, ini.... ini bang...."


"sudahlah kania, kami mengerti kok apa yang sedang terjadi diantara dirimu dan kenan." bang jack menyanggah kania yang sedang gugup mencari alasan.


kakek melirik ke arah bang jack dan memberikan isyarat untuk mengetuk pintu kamar tersebut. bang jack yang mengerti pun langsung melakukannya.


" 'tok tok tok' kenan, buka pintunya."


beberapa kali bang jack membujuk kenan untuk membukakan pintu tetapi, kenan tetap tidak bergeming. kakek merasa tidak tahan lagi.


"kenan mau sampai kapan kamu mengurung diri dikamarmu ini? ayo, cepat buka pintunya. kania sudah membawakan makanan untukmu." dengan nada sedikit meninggi karna emosi


"pergilah kek, bang jack. aku tidak lapar."


"kamu tidak kasihan dengan istrimu ini? kalau kamu tidak makan kakek sih tidak masalah. walaupun, kamu mati tergeletak disitu kakek tidak perduli. tapi, bagaimana dengan kania? apa yang akan kakek katakan kepada kakek koba, jika terjadi apa-apa padanya?"


kenan yang mendengar perkataan kakek, yang semulanya ia menutup dirinya dengan selimut, kemudian membukanya karna terkejut.


"APA? dasar wanita bodoh, bagaimana bisa dia mengikutiku tidak makan?" gumam kenan yang sedang merutuki diri kania. 

__ADS_1


kenan beranjak dari tempat tidurnya lalu pergi membuka pintu. ketika pintu telah terbuka, kakek pun langsung memukul tangan kenan dengan kuat karena kesal akan tingkah kenan yang kekanak-kanakan. bang jack dan kania berusaha untuk memberhentikan aksi kakek.


"dasar anak bodoh 'buk' 'buk' buk' "


"aw, kakek sakit."


"kamu kenapa seperti anak kecil kenan? 'buk' 'buk' "


"kakek jangan kek. jangan." lerai kania dan bang jack yang sedang menjauhkan kakek dari kenan.


"kakek sudahlah. ayo, kita pergi dari sini. biarkan mereka yang menyelesaikan permasalahan mereka." bang jack menarik tangan kakek untuk pergi menjauh. "kania bawa kenan masuk."


"baik bang. ayo ken."


kania dan kenan masuk kekamar dan ia mendudukan kenan di atas sofa.


"kamu tidak apa-apa?" tanya kania khawatir


"aku tidak apa-apa." kenan menjawab kania dengan ketus.


untuk beberapa saat keheningan kembali menyergap, kania duduk di sofa tepat disamping kiri kenan. sedangkan kenan memijit-mijit tangannya yang sedang kesakitan. hingga ia melihat makanan diatas meja yang diletakkan oleh kania.


"makanlah."


"aku tidak akan makan sebelum kamu memaafkanku."


"memaafkanmu? untuk apa?" tanya kenan sambil mengerutkan dahinya ke arah kania


"un.... tuk kejadian ta...di si..ang." kania gugup menjawab


"emang salah kamu dimana?"


"salah ku ......" kania bingung menjawab.


"tidak ada kan? kamu tidak bersalah. kamu benar kok. kamu kan memang tidak memiliki kekasih. kecuali dokter albert bertanya apakah kamu sudah mempunyai suami? dan kamu menjawabnya tidak ada. kemungkinan besar aku akan marah."


"terus mengapa kamu mengurung diri dikamar? tidak makan dan minum. lalu, tidak membiarkanku untuk merawatmu?" tanya kania dengan polos


"terkadang kita perlu waktu sendiri untuk memikirkan sesuatu. sudahlah makananmu sepertinya sudah dingin, segera makan."


"bagaimana tidak dingin aku membawanya beberapa menit yang lalu. aku tidak akan memakannya sebelum kamu makan juga."


"kania, kumohon mengertilah. aku sedang tidak bernapsu untuk makan saat ini." menghadapkan dirinya ke arah kania dan menatapnya tajam


"kenandri ganendra, mengertilah. aku juga tidak akan makan sebelum, kamu makan." mengikuti kelakuan kenan dengan menghadapkan dirinya ke arah kenan dan menatapnya dengan tajam.


mata mereka beradu dalam keheningan. tatapan mereka yang semula tajam menjadi beradu mengangumi masing-masing.


"tidak kusangka wajahnya memang begitu cantik, terlihat lembut, hangat, dan penuh kasih sayang." kagum kenan dalam hati


"aku baru tahu jika wajahnya setampan ini, lembut, sejuk, dan mendamaikan jiwa. hehehe jiwaku meronta-ronta saat ini." kagum kania dalam hati sambil senyum-senyum.


"kenapa kamu senyam-senyum seperti itu? apakah kamu sedang mengagumiku saat ini?" pecah kenan dalam kekaguman kania terhadap dirinya


"tidak siapa juga yang mengagumimu ble" kania berdiri ingin meninggalkan kenan. tetapi tangan kenan menghentikannya.


"ayo, kita makan dulu. sebagai gantinya kau harus menyuapiku." kenan mengambil piring diatas meja dan memberikannya kepada kania. kania menyambut piring tersebut dengan senyuman. mereka pun makan sepiring berdua sweetnya heheh.


setelah mereka selesai makan, kania membantu kenan untuk berbaring di ranjang. kenan menyuruh kania untuk membersihkan meja sofanya yang telah berserakkan dengan barang milik kenan. kania membereskan meja tersebut dan terlihat kunci ruangan yang tidak boleh dimasuki kania. segera kania menyembunyikan kunci tersebut ke dalam saku celananya.


"ini saatnya, kesempatan bagiku untuk mengetahui isi ruangan tersebut." gumam kania dalam hati

__ADS_1


__ADS_2