
Kania bangkit berdiri, ia mengambil
piring Kenan dan Leon lalu ditumpukkannya ke atas piringnya yang sudah habis.
"Loh, aku belum selesai makan Yang." Komen Kenan
"Kania, aku juga belum tambah." Leon menimpali
"Oh, tidak bagaimana ini pasti kalian akan lapar tengah malam." Sedikit berdrama mengejek "Syukurin, makanya lain kali pembicaraan kalian di meja makan berfaedah ya. Kalau tidak aku akan membuat kalian mati kelaparan."
Kania menggeser kursinya dengan kasar, ia sedang kesal. Bagaimana bisa kedua pria itu membicarakan hal yang tabu saat sedang makan malam.
"Kamu sih."
"Loh kok aku?"
"Pulang sana." Kenan melempar nasi yang terjatuh di meja makan kepada Leon.
"Bukan hanya Leon yang harus pulang sekarang, kamu juga harus pulang kekediaman Ganendra sekarang!" sambil mengemaskan lauk-pauk yang masih banyak.
"Loh, sayang. Leon yang salah kok malah aku yang diusir?" Protes Kenan
"Kamu itu CEO hebat kan?"
"Iya!"
"Sekarang aku ngak percaya kalau kamu CEO hebat."
"Kenapa?" mengikuti Kania ke arah kamar setelah membereskan meja makan.
Kania berhenti di arah pintu kamar.
"Kehebatanmu itu kamu letak dimana? Leon itu hanya memancing kamu! tapi, kamu malah ikutan terpancing pakai kesal segala lagi. Udah sana kalian berdua pulanglah. Aku capek mau istirahat." Kania menarik tangan Kenan menuju pintu keluar apartemen mereka.
"Yah, padahal aku mau nginap disini loh Kania!" bersandiwara, padahal dia senang jika Kenan diusir oleh Kania.
"Sudahlah Leon, Aku tahu kamu senang kan. Kalau aku mengusir Kenan?" Leon tertunduk malu karena Kania mengetahui akal bulusnya. Kenan menatap kesal sepupunya tersebut.
"Yang jangan gitu dong. Aku janji ngak bakalan ikutin akal busuk Leon." Memegang kupingnya
"KELUAR!"
"Yang, Sayang. Baru juga tiga hari aku disini udah diusir. Kamu emang ngak kasian sama aku." Memelas seperti anak kecil.
Kania sebenarnya sudah luluh, tetapi ia tidak ingin membuang kesempatan. Ia ingin beristirahat karena sudah dua malam ini. Ia habis- habisan digempur oleh suami gesrek nya itu. Rasanya tubuh Kania sangat lelah. Hihihihi kesempatan dalam kesempitan.
__ADS_1
"Leon, malam ini bawa suamiku bersamamu. Dia butuh pelajaran untuk merilekskan syaraf otak-otaknya itu biar aku percaya bahwa dia memang suamiku Kenan, CEO yang hebat itu!"
"HAHAHAHA." Tawa Leon seketika pecah. "Pelajaran untuk Si Bucin!"
Kenan, menendang tulang kaki Leon. Melihat hal itu Kania kembali menatap kesal suaminya, yang tidak bisa mengontrol emosinya.
'Jedar' Pintu apartmen dibanting kuat. Membuat Leon dan Kenan bergidik.
-
Dikediaman Sandra, semenjak sampai dirumah. Sandra tidak keluar hingga makan malam tiba. Ia turun dengan badan yang lesu, dan tidak bergairah. Membuat kedua orangtuanya sedikit cemas. Tetapi Sandra meyakinkan kedua orangtuanya itu. Setelah selesai makan malam, ia langsung pamit kekamarnya.
'Bugh' Sandra menghempas kasar tubuhnya itu diatas ranjang.
"Apa-apaan ini kenapa wajah pria itu tidak bisa hilang dalam benakku... Arghhhhh!!!.
Sandra kembali mengingat kejadian malam tragedi penuh sejarah itu. Disatu sisi ada rasa sedih karena ia tidak
bisa menjaga dirinya, sedangkan disisi yang lain ia bingung kenapa ia malah senang melepaskan segelnya pada Leon. haruskah ia merasa bahagia? karena segelnya dilepas oleh si babang Leon?
Arghh... ia menjambak rambutnya frustasi.
Tring, bunyi dering telpon dari teman yang bersama Sandra pada waktu itu:
“Hai San, Udah nyampe rumah?”
“Kamu, baik-baik saja kan? sori ya San aku ngak bisa nolong kamu. Aku nyesal banget serius deh.”
“Kok, jadi nyesal sih kamu? Ini semua bukan karna kamu, ini semua salah aku. Jadi, jangan pernah menyesal.”
“Makasih ya San. Kamu memang baik. Oh, iya San gimana dengan si babang Leon, tajir melintir itu?”
“Leon? Namanya Leon?”
“Iya, San. Kamu tahu dia itu pebisnis hebat loh. Perusahaannya ada diluar negri.” Sandra menyimak. “ Oh, iya antara kamu sama si babang ngak terjadi apa-apa kan?”
Sandra termenung mengingat kembali dengan jelas pergulatan panas mereka kemarin malam. Lama Sandra termenung hingga membuat temannya beberapa kali memanggilnya tidak didengar.
“ San,,, Sandra….. San… woi…. Ihc mana sih nih anak kok ngak dijawab.” Melihat kembali hpnya masih tersambung. Ia pun dipanggil oleh seseorang. “Ya, udah deh San aku matiin dulu ya. BY.”
-
Di apartemen tempat Leon, mereka sedang merebahkan diri diatas sofa. Leon sedang sibuk mencari siaran yang ingin ditontonnya. Sedangkan, Kenan sibuk dengan gawainya untuk meminta maaf kepada Kania.
“Sudahlah Ken, tidur aja sana. Beri waktu sama Kania. Mungkin dia sedang ingin berdiam diri.”
__ADS_1
“Untuk apa?” Jawab Kenan dengan ketus
“Ya, elah Ken. Aku tanya sama kamu ya. Jawab dengan jujur tapi.”
“Hem…” masih dengan gawainya ditangan
“Selama kamu disini, kamu gempur terus kan si Kania? Ayo jujur!”
“Kalau iya, kenapa? Resek banget sih kamu. Gara-gara pertanyaanmu yang tidak berfaedah begini aku jadi diusir sama Kania dari rumah.” Kenan berdiri sambil memarahi Leon
“Wih, santai bro. Jangan nge-gas begini dong. Ken, Kania itu capek kamu gempur, mungkin dia butuh waktu untuk beristirahat. Ngak mudah loh jadi mahasiswi sekaligus jadi istri yang harus menyiapkan segala kebutuhan dan mengurus segala keperluan rumah tangga.”
Apa yang terjadi si Kenan malah melembek dan duduk kembali diatas sofa disamping Leon. Ia piker benar juga apa yang dikatakan oleh saudara segesrek nya itu. Ia memijat keningnya sambil meminum teh hijau yang di sodorkan oleh Leon kepada Kenan.
-
“Leon, apakah aku bisa bertanya sesuatu padamu?” melihat kea rah Leon yang tengah focus menonton pertandingan bola di siaran televise yang di kotak-katiknya sejak dari tadi.
“Kenapa harus minta izin? Tanyakanlah.”
“Berjanjilah kau mengatakannya dengan jujur!”
“Iya, aku berjanji.”
“Kau masih mencintai Kania istriku?”
Mata Leon langsung menatap kearah Kenan.
“Iya.” jawab Leon santai tanpa dosa dan menerima tatapan menerkam oleh Kenan. “Ohw, cemon bro. Aku memang pernah mencintainya. Tapi, setelah aku tahu kalau Kania itu istrimu. Aku tidak menginginkannya, dan belajar untuk melupakannya.”
“Dan, itu berhasil?”
“Jujur saja sih, diawal aku kesulitan untuk melupakannya. Tapi setelah aku meninggalkan Negara ini. Disitulah aku mulai perlahan-lahan melupakannya dan taraa… aku mampu untuk bertemu dengan kalian.”
“Sedikitpun tidak ada lagi rasa?”
“Tidak ada Ken, dia hanya kuanggap Saudariku. Tidak lebih. Percayalah kepadaku, setidaknya kau harus percaya lebih kepada Kania. Karna, aku tahu Kania orang yang paling setia.”
Kenan pun mengangguk dan merasa lega, ia percaya jika Leon saudara sepupunya itu mengatakan hal yang jujur dari hatinya.
“Kalau begitu aku tidur dulu ya.”
“Kau tidak ingin menonton bola bersamaku?”
“Tidak, aku lelah butuh istirahat.”
__ADS_1
“Halah, Brengsek. Kalau sama Kania aja, pasti main kuda-kudaan udah malam ini.”
“Pastilah. Beda cerita itu mah.”