
Keesokan harinya
Kania dan Kenan telah berada di depan rumah ibunya Sarah. Kenan memang sengaja meluangkan waktu untuk megantarkan Kania kerumah ibunya, agar ia dapat memberikan langsung semangat kepada Kania.
Ragu menyelimuti wajah cantik Kania, ia menoleh sesekali kerumah itu dan menunduk sambil meremas jari-jemarinya. Ya, ada perasaan cemas dihatinya. Ia takut jika kenyataan yang harus ia terima harus pahit.
Kenan yang melihat hal itu langsung mengambil tangan Kania dan menggenggamnya begitu erat.
"Sayang, aku percaya kamu pasti kuat."
"Tapi, mas."
Ragu dan cemas menyelimuti wajah Kania. Jika sudah seperti ini Kenan pun tidak dapat berkata apalagi. Ia mengerti bagaimana perasaan sang istri
"Kalau begitu kita pulang saja?" Tanya Kenan dengan lembut
Kania berpikir sejenak, sampai akhirnya ia memutuskan untuk masuk kedalam rumah.
"Tidak mas, perjuanganku sudah sampai ditahap ini. Aku tidak akan menyerah, kamu benar aku harusnya kuat bukan lemah." dengan wajah yakin
Kenan tersenyum manis kepada Kania lalu mencium keningnya dengan hangat seolah memberikan kekuatan yang besar untuk Kania.
Kania membuka Sitbelt nya dan keluar dari mobil, ia berjalan menuju gerbang setelah berpamitan dengan Kenan.
"Permisi."
Seorang satpam membuka gerbang rumah itu.
"Ia, cari ada apa ya?"
"Saya mau bertemu dengan ibu Sarah pak."
"Apa sudah buat Janji sebelumnya?"
"Sudah pak, ibu bilang saya langsung kerumah saja."
"Tunggu sebentar ya." Setelah satpam tersebut berkoordinasi ia pun kembali menghampiri Kania.
"Mbak Kania ya?"
"Iya pak, benar."
"Silahkan mbak, sudah ditunggu ibu di rumah." Kania pun menoleh kembali kearah mobil Kenan sambil tersenyum lalu melambaikan tangan kepada mobil Kenan yang pergi.
-
__ADS_1
Ibu Sarah membuka pintu rumah dan langsung memeluk Kania.
"Ibu nungguin Kania loh."
"Maaf ya bu, lama nungguin nya."
"Iya ngak apa kok sayang, mari masuk."
Kania masuk sambil memperhatikan segala sisi rumah yang bernuansa klasik tetapi berkesan modern tersebut.
"Beginilah nak rumah ibu."
"Cantik bu, Kania suka sekali." Kania duduk dan meletakkan tasnya disamping kanannya.
"Kania sudah makan?"
"Sudah kok bu."
Kania menatap foto yang terpampang besar dihadapannya, ia melihat Ibu Sarah, Profesor Cahyono dan Sandra sambil tersenyum bahagia. Ia terenyuh melihat hal itu sambil bergumam didalam hati.
"Sungguh pemandangan yang indah, tetapi menyayat hati."
Ibu Sarah menatap Kania lalu menoleh kearah fokus mata Kania.
Kania tersadar lalu menoleh kesamping kirinya dimana ibu Sarah berada, Ia mengerti apa yang dimaksud ibunya tersebut.
"Yang lalu biarlah berlalu bu, saya sudah memafkannya sebelum dia minta maaf kepada saya."
Ibu Sandra tersenyum manis sambil mengusap pelan kepala Kania dari atas ke bawah.
"Hanya saja, yang membuat hatiku perih saat ini, kebersamaan kalian mah. Seandainya aku juga bisa merasakan senyuman bahagia itu bersama dengan kalian" ungkap Kania dalam hati
"Apakah kita mulai sekarang matakuliah masak memasaknya?"
Kania tersenyum lalu mengangguk.
"Sebelum itu kita harus berbelanja dahulu untuk bahan-bahannya ok."
-
Mereka pun pergi mencari bahan apa saja yang akan mereka masak. Setelah itu kegiatan masak memasak mereka dimulai. Kania dengan serius memperhatikan setiap instruksi dan pelajaran yang diberikan oleh ibunya. Keharmonisan antara ibu dan anak tercipta disana. Kania dan ibunya tampak menikmati waktu kebersamaan mereka.
Seketika Kania terharu merasakan kebersamaan bersama ibunya hingga mengeluarkan air mata.
"Loh, Kania kamu kenapa nak?" Sarah bergegas memeluk lalu mencium kening Kania.
__ADS_1
"Tidak bu, Kania merasa sangat bahagia."
"Uhw, sweet banget sih...." Memeluk Kembali Kania "Ibu juga sangat bahagia nak."
Kania kembali memperbaiki penampilannya, ia pun sudah tidak sabar untuk menjalankan misinya.
"Bu, boleh ngak Kania minta ibu ceritakan masa muda ibu dulu?"
"Penasaran ya?"
"Heheheh, iya bu. Soalnya ibu kan bilang kalau Kania sama Suami mirip banget dengan ibu dan bapak dulu."
"Oh iya benar juga ya. Baiklah ibu cerita." Sarah pun bercerita dari mulai kisah percintaanya hingga kisah sedihnya yang telah meninggalkan anak kandungnya sendiri
Flash back On. (Ceritanya di episode 81 ya ges)
Kania tidak dapat menahan bendungan airmatanya ia menangis dan sesegukkan. Ibu Sarah bingung ia membawa Kania duduk di ruang tengah.
"Kenapa nak? ada apa?" Tanya ibu sarah yang awalnya berwajah sedih berubah menjadi panik
"Kenapa ibu memilih suami ketimbang anak ibu?" tanya Kania dengan perasaan kecewa.
Ia kecewa melihat sang ibu yang begitu teganya meninggalkan anaknya dan memilih pergi bersama ayahnya.
Ibu Sarah bingung kenapa Kania sangat emosional sekali.
"Sungguh sulit nak, berada diposisi itu. Memilih diantara dua orang yang sangat kita cintai. Ibu memilih suami ibu karna ibu tahu baik dia dan ibu tidak bisa hidup tanpa satu sama yang lain. Sedangkan anak ibu, ibu yakin menitipkannya bersama ayah ibu. Ia akan merawat, dan menyayanginya sebaik mungkin."
"Jadi maksud ibu, anak ibu bisa hidup tanpa kasih sayang darimu?" Emosi Kania mulai tidak terkontrol.
Sarah terpaku ia bingung kenapa Kania tidak terkontrol seperti itu. Melihat Ekspresi Sarah yang kebingungan, Kania pun tersadar. Ia menghapus air matanya, lalu tersenyum dan meminta maaf kepada Sarah.
"Maaf bu, Kania tidak bermaksud apapun."
"Iya, nak ibu tahu kok, kamu hanya tenggelam dengan cerita ibu." Sarah membalasnya dengan senyuman kembali
Kania melihat jam ditangannya.
"Bu, Kania sungguh minta maaf, sekali lagi Kania minta maaf ya bu." Kania menyalam Ibunya karna menyesal telah emosi.
"Iya, nak tidak apa-apa." Mengelus rambut Kania dengan lemah lembut tak lupa dengan senyuman.
"Bu, trimakasih atas waktunya hari ini ya. Kania pamit pulang, takut suami Kania udah pulang dan nungguin Kania."
"Oh, iya nak. Kamu bawa sebagian ya masakannya." Sejenak Kania berpikir ia pun menggangguk tanda setuju. ia tidak enak untuk menolak tawaran ibunya itu. "Sebentar ya, ibu buatkan."
__ADS_1