Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
Ingin Dipanggil Kakak


__ADS_3

#Sebelumnya


Kenan menatap Kania sambil memanyunkan bibirnya, tersenyum ke arah kakek dan mengajaknya pergi kembali menemui paman.


"Ayo kakek." Memegang bahu kakek.


Kania mengernyitkan dahi melihat tingkah Kenandri barusan, lalu mengikuti mereka menemui paman.


#Selanjutnya


Kania, Kenan, serta kakek sedang berbincang-bincang ringan mengenai kunjungan kakek dan Kenan untuk tawar-menawar dengan pak sugeng sambil menemani paman yang beristirahat sambil menyantap makan siang.


"Hem, memang kamu yang terbaik Ken." Puji paman


"Iya dong siapa dulu suami Kania." Goda kakek sambil menatap Kania


"Apaan sih kek." Jawab Kania dengan wajah yang merah merona.


"E'hem (berdehem) ada yang malu-malu ni." Goda paman


"Paman..." Kania tersenyum malu sambil menoleh ke arah Kenandri.


Walaupun Kenan senang melihat Kania yang tersipu-sipu karna di goda oleh dua orang lelaki yang telah hadir sejak lama dalam kehidupan Kania. Kenan memasang wajah yang datar dan dingin. Kania yang merasa jika suasana hati Kenandri Ganendra sedang tidak baik, menunduk sambil bertanya dalam hati, kenapa Kenan bersikap seperti itu kepadanya.


-


Malam hari telah tersambut dengan makan malam yang penuh dengan canda tawa di meja makan. Semenjak kepulangan Kania, Kenan, serta kakek tadi siang dari perkebunan. Kenan selalu melekat kepada kakek. Setiap kali Kania akan mencoba berinteraksi dengan Kenan, Kenan selalu menghindar dari usaha yang Kania buat untuk berinteraksi padanya.


Setelah makan malam selesai, Kania menunggu Kenandri untuk masuk ke kamar.


"Ini, sudah jam 9 malam kenapa Kenan belum masuk juga?" Tanya Kania sambil melirik ke arah pintu masuk kamar.


Kania masih menunggu kedatangan Kenan sambil bermain telepone genggamnya.


"Ini, sudah jam 11 lewat loh, Kenan kemana sih? kok belum masuk?" Kania yang penasaran dengan Kenan, ia pun memilih keluar lalu mencari keberadaan Kenan.


-


Beberapa menit dari pencariannya, kakek, paman, dan Kenan masuk dari arah pintu masuk rumah sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka pun terkejut melihat Kania yang berdiri dari arah sisi sofa.


"Loh, kamu belum tidur Kan?" Tanya paman.


"Bagaimana mau tidur, ayang beb nya aja ada bersama kita heheheh." Cetus kakek sambil menaik turunkan alisnya kepada Kenan.


Kenan hanya tersenyum kecil kepada kakek untuk menjawab godaannya itu.


"Ya sudah Kenan masuk sana temani istrimu itu."

__ADS_1


"Kakek.... apa-apaan sih? Malu Kania.


"Kenan ke atas dulu ya kek, paman."


"Ya, selamat malam."


"Malam semuanya." Pamit Kenandri untuk mengakhiri perbincangan sekelompok pria beda generasi tersebut.


-


Kenandri masuk kedalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan piyama tidur yang telah disiapkan Kania di atas tempat tidur.


Kenandri keluar dari kamar mandi langsung menuju tempat tidurnya. Kania yang sedari tadi sudah menysun kata-kata untuk di santap oleh Kenandri di abaikan begitu saja. Melihat hal itu Kania menjadi sedikit kesal. Ia berdiri tepat di samping tempat tidur Kenan.


"Apa salahku?" Tanya Kania. Tapi tetap tidak di respon oleh Kenandri. "Ken, ayolah jangan membuatku seperti ini. Dengan diammu, sungguh membuatku tersiksa." Kenan tidak merespon. "Ken, Kenan, Kenandri Ganendra." Teriak Kania.


Kania terjatuh di ranjang, Kenan menarik tangannya lalu membaringkannya tepat di atas tubuh Kenan.


"Hem, Ken.... " Kania merasa canggung.


"Sttttt...." menempelkan jarinya pada bibir Kania.


Kenan menatap dalam mata Kania. Kania yang merasa ditatap dengan posisi yang intim seperti itu membuatnya merasa sangat tidak nyaman.


"Apakah kamu menyukai Reno?" mata Kania membulat.


"Ke... kenapa kamu bertanya seperti itu" sedikit gugup.


Kania menjadi tidak merasa enak kepada Kenan mulai membuka ceritanya. Ia merubah posisinya yang berbaring menjadi duduk kembali.


"Dulu, ketika kami masih sekolah." Kania melirik ke arah Kenan memastikan reaksinya. Kenan pun memandang ke arah Kania dengan tajam.


"Sekarang? masih?." Ketus Kenan


"Masih..." Jawab Kania dengan santai.


"Apa?" Kenan terkejut dengan respon marah, sambil berdiri dan bercekak pinggang


"Dengar dulu dong penjelasanku. Ngak usah bereaksi marah seperti itu. " Bujuk Kania


"Emang siapa yang marah? aku ngak marah. " Kenan berdalih


"Jelas banget wajahnya marah masih ngeles lagi. " Kania berbisik ke samping


"Ngak usah bisik-bisik aku mendengarnya." Kania tersenyum, Kenan mengambil posisi duduk.


"Kak Reno adalah penyemangat, dan motivasi bagiku. Ia orang yang baik, sopan, dan lemah lembut kepada siapapun. Kau tahu, Kak Reno itu pekerja keras loh untuk membantu keluarganya dalam keterbatasan ekonomi. Mulai dari Jualan di sekolah dan dipasar, buruh kasar di pabrik. Pokoknya the best deh. Semuanya ia lakoni tanpa malu. Dan kau tahu Kak Reno selalu menjadi juara 1 umum di sekolah, mau itu akademik mampun non akademik. " Senyum hangat Kania menceritakan Reno dengan semangat. Kenan mengangkat alisnya dan menajamkan pandangannya. Kania tersenyum kikuk.

__ADS_1


"Sekedar mengagumi tapi, ceritanya semangat banget ya. " Ketus Kenan


"Ya, gimana lagi. Aku kagum banget sama kak Reno. Sampai- sampai kampus kuliah dan jurusannya aja terinspirasi dari dia."


"Sampai segitunya? jangan-jangan kamu jatuh cinta lagi sama dia. " Ketus Kenan kembali.


"Enggak Ken, aku hanya sekedar mengagumi enggak lebih. "


"Kalau enggak, soswith banget nyebutin nya pakai panggilan kak Reno. Aku aja kamu panggil dengan nama. Ken.... Ken.... " Dengan cara mengejek.


Kania tersenyum mendengar Kenan yang cemburu.


"Jadi kamu cemburu ceritanya dari tadi? Hem?." Sambil menaik naikan alisnya.


Kenan yang tertangkap basah. Mencoba untuk berdalih.


"A... a... pa cem... buru. Enggak tuh. "


"Yakin ngak cemburu?" Kenan menggelengkan kepalanya. Kania mendekatkan wajahnya kepada Kenan. "Mau kupanggil kakak?" Kenan terpaku. "Sayang nya aku ngak mau tuh. ble" menjulurkan lidahnya setelah menjauh dari wajah Kenan.


Kenan yang gemez dengan kejailan Kania menarik tangan Kania dan menjatuhkannya ke tempat tidur lalu Naik ke atas tubuh Kania. Kania terperogok dan meronta di lepaskan.


"Minggir Kenan. ihc" mendorong tubuh Kenan agar menjauh. "Kenan ku bilang minggir. "


"Aku akan minggir sebelum kau memanggilku dengan sebutan sayang. "


"loh, kok berubah jadi sayang?" tanya Kania bingung.


"Suka-suka diriku dong, kan aku suamimu. ble" mengejek Kania


**************


Bersambung.....


Besok lagi ya sobat K&K


Hai semua, mohon dukungannya ya untuk novelku ini.


Agar author bisa semakin semangat lagi dalam menulis K & K


Rate, Like, Fav, dan komennya ya, untuk membantuku membenahi tulisan....


Semoga kalian suka dengan ceritaku ini.....


Maaf, sebesar-besarnya jika ada yang kurang berkenan.


Author hanyalah menulis dengan isi pikiran yang terkadang susah untuk di tuangkan dengan kata-kata.

__ADS_1


Jadi, mohon pengertiannya ya sobat-sobat ku.


Salam sayang author untuk kalian semua sobat- sobat ku...


__ADS_2