
Kenan dan Kania telah menghabiskan makan siang mereka yang sebenarnya bisa dikatakan makan sore mereka 🙊.
Kania dan Kenan masih duduk diposisi makan mereka yaitu sofa kamar. Kania menatap Kenan yang sedang berkutat dengan telepon genggamnya. Kenan menyadari hal itu langsung menghentikan aktivitasnya dan mendekatkan dirinya kepada Kania.
Kenan mengambil tangan kiri Kania, lalu menggenggamnya dengan tangan kanan Kenan dan menghujani punggung tangan kiri Kania dengan ciuman. Sedangkan Kania masih dalam mode menatap Kenan dengan dalam.
"Ada apa sayang? kenapa kamu menatap ku seperti itu?.
"Aku masih tidak menyangka saja. Kau dan aku bisa sampai ditahap ini."
"Maksudnya?" Tanya Kenan bingung.
"Jika melihat kembali dimasa awal pernikahan kita dan bagaimana cara kita disatukan. Aku berpikir kita tidak akan pernah menjalani pernikahan seperti lainnya. Dengan banyak perdebatan, menghadapi sifat dinginmu, mencari tahu masa lalu. Hufttt... butuh banyak waktu, tenaga, pikiran untuk itu semua. Sungguh Perjuangan."
"Ya, dan karna perjuanganmu itulah aku menyadari bahwa aku telah menutup mata hatiku. Aku hanya mengharapkan apa yang telah menjadi sampah dari hidupku. Dan aku sangatlah bodoh telah menyia-nyiakan yang terbaik diberikan tuhan kepadaku." Kenan mengecup Kening Kania dan membelai wajah Kania dengan lembut.
"Semua punya waktunya Ken, jangan menganggap dirimu seperti itu. Melepaskan seseorang yang kita sayangi dan cintai sangatlah sulit. Jika mudah, berarti semua perasaanmu itu adalah palsu bukan?"
"Iya istriku, siap dicopi dan dimengerti."
"Di copy? emang bisa ya, kata-kataku jadi kopi? jangan aneh-aneh deh Ken.
"Haduh, datang deh oon nya." tersenyum kikuk sambil bicsra perlahan.
"Aku mendengar nya. Kamu tuh yang oon. masak kata-kata bisa jadi kopi? mana obatmu?"
"Obat? Obat apa?"
"Obat supaya kamu jadi pintar." Melempar bandal sofa ke wajah Kenan dengan wajah yang kesal.
Kenan hanya tersenyum melihat kelakuan istrinya itu.
-
Kenan dan Kania telah selesai membersihkan diri. Mereka akan pulang ke apartemen. Sebenarnya Kenan belum ingin pulang, Ia masih ingin bermalas-malasan berdua bersama Kania. Ia pun kalah berdebat dengan istrinya itu. Kania ingin segera pulang dan melihat keadaan apartemennya setelah Kenan menceritakan kejadian kemarin malam.
Selama perjalanan Kenan hanya memasang wajah cemberut nya. Sedangkan Kania tidak memperdulikannya. Mereka telah sampai di parkiran apartemen nya. Kania terdiam dan menatap Kenan yang sedang membuka sabuk pengamannya. Kenan keluar dan pergi begitu saja. Kania tersenyum melihat tingkah kesal Kenan yang masih di dalam mobil.
Beberapa langkah di depan, Kenan menoleh kesamping kiri dan kanannya. karena tidak mendapati Kania, Ia pun menoleh kebelakang dan melihat Kania yang masih berada di dalam mobil mereka.
Kenan datang menghampiri Kania lalu membuka pintu mobil. Kania masih tetap pada posisi duduknya. Kenan menarik napas, menghelanya dengan kasar.
"Ada apa lagi? kenapa belum turun?"
__ADS_1
Kania menatap Kenan lalu memberi kode dengan matanya ke arah sabuk pengaman yang terpasang ditubuhnya. Seakan memberi tahu untuk membuka sabuk pengamanya.
Dengan wajahnya yang cemberut Kenan membuka sabuk pengaman Kania. 'Cup' Kania mencium pipi Kenan. Kenan terkejut, jantungnya seakan meloncat kegirangan. Mata mereka beradu, Kania yang takut jika itu dipertahankan akan membuat Kenan memperluas aksinya. Membuka sabuk pengamannya dan keluar dari arah setir mobil.
Haahah da, ada saja kamu Kania. 😅
Kenan tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat aksi Kania. Ia berjalan mengejar Kania dan dalam perjalanan mereka berjumpa dengan Angga
"Hai, Kan?"
"Hai, kak."
Kenan mengambil tangan Kania sebelah kanan dan menggenggamnya dengan erat.
"Hallo, pak Kenandri"
"Hallo juga pak Angga"
Angga tersebyum melihat aksi Kenan yang begitu protektif terhadap Kania.
"Maaf atas kejadiaan yang lalu. Saya, sudah kelewatan batas. "
Kenan tersenyum, "Lupakan saja yang telah berlalu. Saya memakluminya kok, saya yakin jika istri saya ini memberitahukannya kepada anda pasti anda tidak akan berani mendekatinya." Tersenyum kesal kepada Kania.
"Pak Angga, kenapa disini?" tanya Kenan.
"Kebetulan temanku tinggal disini juga. Jadi. aku mampir."
"Hem, begitu."
"Kalau begitu saya pulang dulu ya pak, Kan. "
"Hati-hati pak Angga. "
"Hati-hati Kak Angga. "
"Iya, selamat sore menjelang malam. "
"Selamat sore menjelang malam." Kompak.
Kania melepas tangannya dari genggaman Kenan dengan kasar lalu pergi. Kenan mengikuti Kania. Dalam lift menuju apartemen mereka Kenan dan Kania hanya berdiam diri.
Satu, satu skor kesal untuk Kania dari Kenan wkwkwk.
__ADS_1
Mereka masuk kedalam apartemen dan bummm.... Semua barang berserakan dan pecah di sana. Kenan dan Kania saling menatap dipintu masuk.... lalu setelah menyadari jika mereka masih saling kesal mereka membuang kasar wajahnya.
Kenan tidak sanggup melihat rumahnya itu langsung mengambil telponnya dan menelpon anak buahnya untuk memanggil cleaning service
"Tolong panggilkan cleaning servise..." Kenan merampas telpon Kenan dan mematikan panggilan. "Ada apa? kenapa menghalangiku?"
"Aku tidak ingin kamu memanggil cleaning service."
"Maksudmu, kita akan membersihkan ini semua?"
"Jadi, siapa lagi? tetangga?"
"Tidak Kania, aku lelah. Aku mau istirahat dan tidur. "
"Ya, sudah kalau tidak mau. Aku bisa sendiri. Pergilah beristirahat dan tidur suamiku." Sambil mengipas Kenan dengan tangannya.
"Baiklah, trimakasih istriku yang cantik... Dengan senang hati aku akan melakukannya." Kenan melangkahkan kakinya dari hadapan Kania dan pergi kearah kamar tidur mereka.
"Siapa yang bisa kupanggil untuk menolong ku ya? Kak Angga? Kak Reno? atau... hem..." Kania berpura -pura, lalu membesarkan suaranya agar Kenan mau membantunya. "
"Siapa lagi hem? banyak banget selingkuhanmu."
"Bukan selingkuhan tapi penggemarku yang sedia ada untuk membantuku. Hem. (menghempass kasar napas hidung) emangnya suamiku? ngak perduli dengan istrinya?"
"Emangnya kapan aku ngak perduli denganmu? Setiap saat, aku sel.... "
"Kalau enggak benar ya, ngak usah marah dong. Kok situ jadi marah?"
"Situ? wuah! berani sekali kamu memanggilku dengan sebutan itu ya." Wajah kesal bercampur marah.
"Daripada ku panggil Bra? kamu pilih mana? emang kamu cewe? iya?" Kania pergi ke arah dapur untuk mengambil tong sampah..
"Huftt, sabar Ken, sabar.. kalau bukan karna dia istriku yang kucintai hem... 😤 udah ku...." meremas remas jarinya.
"Apain? kamu mau apain aku?"Kania muncul tepat dihadapan Kenan.
"Heheh, enggak diapa apain kok. Aku ambil penyapu dulu ya... " Pergi ke arah dapur.
Pembersihan rumah pun sudah dimulai dari 10 menit yang lalu. Kenan yang kesal dengan perbuatan Kania menambah pekerjaannya membersihkan rumah. Mendumel hebat di hadapan Kania.
"Besar banget ya, gempanya semalam... Aku jadi takut deh pulang ke apartemen ini... Masalahnya hanya di apartemenku yang mengalami gempa berkekuatan besar ini. "
Kania berpura-pura tidak mendengar dumelan Kenan yang suaranya di keraskan ke arah Kania.
__ADS_1