Kenan Dan Kania

Kenan Dan Kania
Bunyi Auman Ponsel.


__ADS_3

sebelumnya


Kania keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri dan memakai piyamanya sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Ia menatap layar ponselnya dan tidak mendapati tanda tanda Kenan menelponnya. Ia pun membiarkan sebentar mungkin ia sedang sibuk ujar Kania. Sambil mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


Selanjutnya


Setelah dirasa rambutnya telah mengerig, Ia melirik kembali ponselnya tetapi tanda Kenan pun tidak ada. Ia pun akhirnya pergi kedapur untuk mencari makanan untuk dimakan malam ini.


Setelah selesai dengan urusan perut dan dapur. Kania naik keatas ranjangnya dan merebahkan diri disana sambil melihat ponsel miloknya menunggu kabar dari Kenan.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam tetapi Kenan tetap belum memberinya kabar lagi.


"Seharusnya ini sudah jam istirahatnya kan. Tetapi mengapa selama ini tidak ada kabar darinya? biasanya jam segini dia merebahkan diri dirancang lalu tertidur dengan berkas dan pulpen di tanganya. Tapi, kenapa dia belum memberikan kabar ya? ada apa ini tadi siang perasaan dia baik-baik saja dengan kebucinannya. Tunggu, apakah dia marah padaku karna keluhanku tadi siang? Tapi kan itu memang benar, terus kenapa dia harus marah? haduh punya suami LDR-an begini susah juga ya." Kania menggelengkan kepala dan entah mengapa ia juga sudah mengantuk malah meninggalkan pertanyaan untuk dibawa kealam mimpi.


-


Kania terbangun dari tidurnya, ia melihat jam dan mengecek apakah ada panggilan di layar ponselnya. Tetapi nihil, dan jam telah menunjukkan pukul 5 lewat pagi.


Kania sedikit kesal dan ingin meminta penjelasan dari Kenan. Ia tahu pasti Kenan sudah bangun. Ia pun mengobrak abrik isi ponselnya untuk menemukan nama suaminya untuk dihubungi.


Beberapa kali Kania memanggil tetapi tetap saja telpon Kania tidak diangkat oleh Kenan.


Entah apa yang harus Kania lakukan hingga sampai siang ini, di taman kampus, Feren dan Jeje sedang menatap kefrustasian sang istri yang tidak diangkat panggilannya oleh sang suami.


"Apa-apaan sih dia. Tidak mengangkat panggilan dariku. Kalau marah yah, tinggal marah dong ngak usah pake ngambek ngambekan begini. Ihc, dasar suami ngak jelaz. Ahhhhh... " Kania menarik rambutnya kasar. Feren dan Jeje langsung menenangkan Kania yang sudah mengeluarkan air mata.


Kania tiba-tiba bangkit berdiri membuat kedua sahabatnya itu terkejut.


"Ok, kalau itu maunya. Lihat saja aku akan membalaznya. Aku tidak akan mengangkat panggilan dari nya. Lihat saja tuan Kenandri Ganendra. Ahhhhhh.... "

__ADS_1


-


Kania menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang bersama kedua sahabatnya dan untuk pertama kalinya Kania pulang jam 9 malam dan tidak mengabari Kenan. Biasanya ia akan khawatir sendiri jika pulangnya sudah semalam ini. Batas yang ia target kan hanya 8 malam.


-


"Ah, lelahnya." Menghempaskan dirinya dikasur.


Ia merogoh ponsel yang sedari tadi telah ia matikan. Bukan tanpa alasan, agar Kenan merasa khawatir, cemas dan kesal kepada Kania. Di tekannya lama tombol power ponselnya. Tak lama kemudia, Ia pun membanting poselnya. Jawaban yang ia tunggu-tunggu tidak ada. Kenan tidak menghubunginya, dan mengechat dirinya.


Ia pun kembali menangis, dan pada akhirnya tertidur dalam rintihan tangisannya.


Waktu telah menunjukkan pukul 2 lewat pagi. Kania tersentak mendengar ponselnya yang sedari tadi mengaum-ngaum untuk diangkat.


Ia dengan segera mengangkat panggilan itu dengan tidak memperhatikan siapa yang telah memanggilnya.


"Hallo." Suara serak tangisan plus bangun tidur.


"Iya, sakit hati." Jawab Kania setengah sadar.


"Kok bisa? Sakit hati sama siapa?"


"Suamiku. Si Kenandri Ganendra yang kutu kupret itu. huhuhu" Kania menangis kembali.


"Emang apa salahnya?"


"Dia tidak mengabariku, katanya dia janji mau menelponku satu jam sekali. Dasar pembohong. Aku benci dia, benci, benci, benci.. huhuhuhu. " Kania meluapkan kekesalannya pads si pemanggil.


"Sudah, jangan menangis. Aku yang salah, aku hanya ingin kamu tahu rasa sakit hatiku ketika kamu tiba-tiba mengakhiri panggilanku pada waktu itu dan mengatakan jika aku tidak boleh menelponmu saat bersama dengan teman-temanmu." Ucap Kenan dengan perasaan menyesalnya.

__ADS_1


Kania yang tersentak langsung tersadar dan segera melihat nama kontak sipemanggil. Lalu merutuki dirinya karna telah mrngangkat panggilan dari Kenan.


"Halo, yang masih disana kan? Yang, sayang maaf dong aku tidak bermaksud apapun. Yang, sayangku.


"Hem, iya aku juga salah mas. Maafkan aku sudah menyakiti hatimu ya mas."


"Syukurlah kamu disitu. Iya sayangku, mas udah maafin kamu kok. Kamu rindu sama mas?"


"Rindulah mas, mas janji samaku kalau kamu enggak bakalan mengabaikan panggilan dari ku. Aku frustasi mas, kalau emang marah, kesal atau apapun itu tolong beritahu diriku ngak usah pake ngak angkat panggilanku atau diamin aku begini. Mas mau aku ngelakuin hal yang sama?"


"Iya sayangku, iya mas janji, mas ngak akan ngelakuin ini lagi. Mas juga frustasi ngak dengar suara kamu, apalagi kamu keluar malam-malam ngak kasi mas kabar, dan pulang selarut semalam." Kania terdiam, ia berpikir bagaimana suaminya bisa tahu kalau ia pergi dan pulang selarut semalam. "Dek, kamu juga harus janji sama mas. Kamu ngak boleh ngelakuin hal itu lagi. Semarah-marahnya kamu, sekesal-kesalnya kamu jangan pernah keluar rumah hingga selarut itu, dan jangan pernah tidak mengabariku. Kamu tahu mas sudah mau pergi kesana loh. Jadi, jangan lakukan hal bodoh semacam itu ya. Kamu mau buat suamimu ini jantungan atau struk gara-gara naik darah karena kelakuanmu?." Ungkap kekesalan hati Kenan.


"Setidaknya aku tahu, kalau mas mengkhawatirkanku." Jawab Kania ketus.


"Menurutmu mas tidak mengkhawatirkanmu? dek, LDR-an sama kamu membuat mas gila tahu ngak."


"Ini semua salah mas, mas kemarin udah kubilang aku ingin berhenti. Tapi, mas sendiri yang sok sok an nolak. Engak dek begini lah begitulah." Sambil dengan bibir mengejek.


"Dek, dengar mas mau kamu itu jadi pejuang mimpi. Mas, tahu kamu punya bakat yang memupuni dalam jurusan yang kamu ambil. Salahkah jika mas mau kamu jadi Kania yang sukses dan berhasil?"


"Ngak salah mas, tapi.... "


"Sayang, kamu atau mas ngak ngelaluinya sendirian kok. Kita melaluinya bersamakan? Rindu kita, sepi kita, dan semuanya tentang ini. Anggap aja sekarang cinta kita sedang ditempah kualitasnya."


"Iya mas, trimakasih ya mas kamu suami terbaik. Kamu sangat memperdulikan diriku. Aku saja sudah tidak mempedulikan apapun tentang mimpi dan diriku. Tapi kamu, huhuhuhu." Cengeng Kania balik lagi deh.


"Hei, apa-apaan ini kok malah nangis? Sayangku, udah dong kamu kekgitu amat. Kamu malah bikin mas ngerasa bersalah jika seperti ini." Panik Kenan.


"Enggak mas, a- adek ha-hanya ter haru aja. Mas aku sungguh merindukanmu... "

__ADS_1


"Hahahah, sayangku ini memang manis sekali. Sudah ya, jangan sedih lagi. Mas juga rindu kamu kok."


Mereka pun mengobrol hingga mendapati pagi hari.


__ADS_2